HOT NEWS

Tampilkan postingan dengan label Amerika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amerika. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Maret 2019

Mengejutkan Perang Dunia ke-III Amerika Kalah Telak Dari Rusia dan Tiongkok

Amerika Serikat kemungkinan tidak akan mampu memberikan perlawanan yang sepadan terhadap Rusia dan Tiongok jika Perang Dunia ke-III benar-benar terjadi.

Itu artinya Ameika Serikat kalah telak dari Rusia dan Tiongkok jika Perang Dunia Ke-III benar-benar terjadi.

Mengejutkan Perang Dunia III Amerika Kalah Telak Dari Rusia dan Tiongkok
 
RAND Corporation, sebuah lembaga penelitian global nonprofit yang seringkali disponsori oleh pentagon telah mensimulasikan serangkayan sekenario perang dunia ke-III, analisis ini bertujuan untuk menguji bagaimana pasukan Amerika Serikat akan berhadapan dengan negara-negara adikuasa militer lainnya seperti Rusia dan Tiongkok.

Pada pekan lalu, analisis RAND mengungkapkan bahwa dalam rangkayan sekenario demi sekenario. Amerika Serikat telah menderita kerugian besar meski telah menghabiskan hampir $1 triliun per tahun untuk anggaran militer, melebihi pengeluaran negara lain lebih dari dua kali lipat.'



Amerika Serikat Kalah Telak


Dalam simulasi ini Amerika Serikat diberikan warna biru dan agresor diberikan warna merah, Menurut peneliti David Ochmanek menjelaskan "Kami kehilangan banyak orang. Kami kehilangan banyak peralatan. Kami biasanya gagal mencapai tujuan kami untuk mencegah agresi oleh musuh"  ungkapnya.

Meskipun hanya bersifat hipotesis, hasil simulasi ini memperingatkan bahwa perjuangan Amerika Serikat untuk melindungi tatanan dunia selama lebih dari satu abad bisa beresiko buruk.

Pada simulasi ini RAND melakukan sekenario dilima domain pertempuran yaitu pertempuran darat, pertempuran laut, pertempuran udara, perang teknologi luar angkasa, dan cyberspace atau perang dunia maya.

Bedasarkan simulasi RAND pasukan agresor seringkali membakar pangkalan militer milik Amerika Serikat, menenggelamkan kapal perang dan melumpuhkan sistem siber.


F-35 Berkuasa Dilangit, Rontok di Landasan.

Robert Work, mantan wakil menteri pertahanan dan peteran perang berpengalaman, menjelaskan bahwa jet tempur F-35 Amerika adalah yang paling canggih dari jenisnya di langit, tetapi rentan di landasan.

"Dalam setiap kasus yang saya tahu, F-35 menguasai langit saat mengudara," kata Work, pada hari Kamis. "Tapi rontok dalam jumlah besar saat berada dilandasan."

Work juga memperingatkan bahwa pangkalan militer AS di seluruh Eropa dan Pasifik tidak diperlengkapi dengan sistem pertahanan yang memadai untuk menangani akonflik kelas atas.


Perang Luar Angkas dan Perang Cyber


Work dan Ochmanek, keduanya mengatakan Cina fokus pada dunia maya dengan 'system destruction warfare' atau penghancuran sistem keamanan, yang melibatkan penargetan satelit komunikasi AS, sistem komando dan kontrol, dan jaringan nirkabel.

"Otak dan sistem saraf yang menghubungkan ke semua bagian perangkat militer ini akan  ditekan, jika tidak hancur," kata Ochmanek.

Tiongkok akan 'menyerang jaringan pertempuran Amerika di semua tingkatan, tanpa henti,' kata Work, dia juga menambahkan bahwa 'mereka mempraktikkannya sepanjang waktu'.

"Ini adalah hal-hal yang diperlihatkan dalam sebuah permainan perang secara berulang kali, jadi kita membutuhkan cara perang Amerika yang baru tanpa pertanyaan," kata Work.



Sejalan Dengan Pengamatan DEPHAN

Hasil pengamatan Work dan Ochmanek yang tidak positif sesuai dengan hasil pengamatan Komisi Strategi Pertahanan Nasional Amerika Serikat yang dilakukan pada musim gugur lalu.

"Jika Amerika Serikat harus bertempur melawan Rusia dalam kontingensi Baltik atau China dalam perang melawan Taiwan, Amerika dapat menghadapi kekalahan militer yang menentukan," kata Komisi dalam laporan bulan November tahun lalu.

Laporan tersebut menyoroti bagaimana AS telah kehilangan dominasi militernya karena kekuatan saingannya yang telah banyak berkembang, yaitu Rusia dan China. mereka telah meingkatkan serangkaian kemampuan canggih yang sebelumnya hanya dimiliki oleh Amerika Serikat'.

Laporan tersebut menyoroti bagaimana AS telah kehilangan keunggulan militernya karena kekuatan saingannya, yaitu Rusia dan China, telah mengembangkan 'serangkaian kemampuan canggih yang sebelumnya hanya dimiliki oleh Amerika Serikat'.
 


Upgrade Kemampuan Militer

 
Para analis mengatakan akan dibutuhkan hanya $24 miliar untuk meningkatkan hasil - yaitu sekitar tiga persen dari anggaran pertahanan $750 miliar yang akan diusulkan oleh Presiden Donald Trump untuk tahun 2020.

Angkatan Udara telah mendekati RAND untuk mengembangkan rencana untuk memperbaiki masalah di balik hasil yang buruk.

Yang mengejutkan, Ochmanek mengatakan: "Kami merasa tidak mungkin menghabiskan lebih dari $8 miliar setahun untuk perbaikan yang diperlukan.

Angka $24 miliar berasal dari tiga kali lipat $ 8billion untuk menutupi Angkatan Darat dan Angkatan Laut.

Ochmanek mengatakan bahwa menambahkan $ 24 miliar ke anggaran 'untuk lima tahun ke depan akan menjadi pengeluaran yang baik' untuk mempersiapkan AS menghadapi Perang Dunia III, yang ia perkirakan setidaknya 10 hingga 20 tahun ke depan. (dailymail.co.uk)




Video


Sabtu, 09 Maret 2019

Sukhoi SU-27 Rusia Cegat Pesawat Mata-Mata Boeing RC 135V Milik Amerika Serikat

Kementerian Pertahanan Rusia publikasikan video pendek mengnai jet tempur Su-27 yang yang berhasil melacak dan mengidentifikasi target yang terbang diatas perairan netral Laut Baltik dekat perbatasan Rusia pada hari rabu bulan maret tahun 2019.


Sukhoi SU-27 Rusia Cegat Pesawat Mata-Mata Boeing RC 135V Milik Amerika Serikat


Rekaman itu, yang diambil dari kokpit Su-27, menunjukkan jet tempur Rusia bermanuver dengan aman mendekati dari belakang dan mengejar pesawat pengintai Amerika Serikat. 


Video itu mengikuti Kementerian Pertahanan Rusia yang mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Jet Su-27 yang sedang bertugas untuk mengidentifikasi asal target dan mencegatnya" di atas 

Laut Baltik.


lebih lanjut kementrian pertahanan rusia mengatakan bahwa Jet Su-27 kembali dengan selamat ke pangkalannya setelah pesawat asing terbang jauh dari perbatasan Rusia.

Beberapa tahun terakhir telah melihat lebih banyak pesawat mata-mata asing mengintip di dekat perbatasan Rusia. Insiden terbaru sebelum pertemuan RC-135 dilaporkan pada akhir Januari, ketika militer Rusia mengatakan bahwa sebuah jet tempur Su-27 ditugaskan untuk mengidentifikasi dan mencegat sebuah pesawat pengintai Swedia.



Kamis, 29 Juni 2017

Amerika Berlalukan Larangan Perjalanan Ke AS bagi Enam Negara Muslim

Larangan sementara untuk memasuki Amerika Serikat (AS) oleh Presiden Donald Trump terhadap warga enam negara berpenduduk mayoritas Muslim dan seluruh pengungsi, mulai diterapkan.

Larangan perjalanan ( travel ban atau Muslim ban) bagi pihak-pihak tersebut mulai diberlakukan pada Kamis (29/6/2017) pukul 20.00 waktu setempat atau Jumat (30/6/2017) pukul 07.00 WIB. 


Amerika Berlalukan Larangan Perjalanan Ke AS bagi Enam Negara Muslim

Kendati demikian, larangan itu hanya berlaku sebagian, yaitu masih memungkinkan warga tertentu dari negara-negara tersebut melakukan perjalanan ke AS, sebagaimana dilaporkan AS.

Enam negara yang terdampak larangan perjalanan Trump itu adalah dari Iran, Libya, Suriah, Somalia, Sudan, dan Yaman.


Peluncuran langkah kontroversial itu dilakukan setelah Mahkamah Agung (MA) pada pekan ini memutuskan untuk mengizinkan perintah eksekutif Trump diterapkan.

Namun, MA banyak mengurangi cakupan larangan, yaitu dengan mengecualikan warga dan pengungsi yang memiliki hubungan "yang dapat dipercaya" dengan seseorang atau kesatuan di AS.

Pada Rabu (28/6/2017) malam atau Kamis WIB, Departemen Luar Negeri mengatakan, berdasarkan putusan MA, para pemohon visa dari enam negara itu harus memiliki hubungan dekat dengan keluarga atau hubungan resmi dengan suatu kesatuan di AS untuk diperbolehkan masuk ke AS.

Trump pertama kali mengumumkan larangan perjalanan sementara itu pada Januari. Ia menyebut larangan sebagai langkah memerangi terorisme, guna memberi waktu untuk melakukan pemeriksaan keamanan lebih baik.

Perintah Trump itu menimbulkan kekacauan di bandar-bandar udara karena para petugas bergelut untuk melaksanakannya.

Keputusan presiden tersebut kemudian diblokir oleh pengadilan-pengadilan federal di tengah penentangan berbagai pihak, yang menganggap perintah Trump itu merupakan tindakan diskriminasi terhadap kalangan Muslim serta tidak ada pembenaran alasan soal aspek keamanan.

Larangan dalam versi yang sudah diperbaiki dimunculkan pada Maret tapi kemudian juga dibekukan oleh pengadilan.

Pada Senin (26/6/2017), MA AS memutuskan untuk mengeluarkan izin penerapan larangan.
Berdasarkan keputusan MA, warga dari keenam negara itu dan seluruh pengungsi dilarang memasuki AS, masing-masing untuk 90 hari dan 120 hari.

Larangan hanya akan berlaku sebagian hingga MA menyidangkan kasus itu pada periode berikutnya, mulai Oktober.  (Kompas)

Rabu, 28 Juni 2017

Amerika Serikat Tuduh Pemerintah Suriah Siapkan Serangan Kimia

Amerika Serikat meminta Damaskus membatalkan rencana serangan kimia, tudingan didasarkan atas informasi intelijen terkait persiapan di lapangan terbang Suriah, kata pejabat pada Selasa.

Rusia, pendukung utama pemerintahan Presiden Suriah Bashar al Assad, langsung menanggapi dengan mengecam tudingan itu.

Amerika Serikat Tuduh Pemerintah Suriah Siapkan Serangan Kimia

Juru bicara Pentagon, Kapten Jeff Davis, mengatakan bahwa pihaknya menerima informasi tentang kegiatan di lapangan terbang Shayrat, yang menjadi sasaran serangan peluru kendali Amerika Serikat pada 6 April.

"Persiapan itu melibatkan pesawat di hanggar khusus, yang kami tahu sering digunakan untuk persenjataan kimia," kata Davis.

Davis mengatakan aktivitas itu terjadi sejak "satu atau dua hari lalu". Dia tidak menjelaskan bagaimana Amerika Serikat mendapatkan informasi intelijennya.

Pada Senin, Gedung Putih mengatakan bahwa pemerintah Suriah menyiapkan serangan kimia dan mengancam Bashar akan "membayar harga mahal" jika mewujudkan rencana itu.

Pada April, Amerika Serikat menyerang lapangan udara Shayrat dua hari setelah 87 orang tewas akibat sebuah serangan gas beracun di wilayah gerilyawan. Suriah membantah telah melakukan serangan itu.

Pada Selasa, Rusia membantah informasi intelejen Amerika Serikat.

"Saya tidak mengetahui adanya informasi mengenai ancaman serangan senjata kimia," kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, kepada sejumlah wartawan pada Selasa.

"Tentu saja, kami menilai tudingan itu adalah ancaman yang tidak bisa diterima bagi kepemimpinan sah Republik Arab Suriah," kata dia.

Sejumlah pejabat Rusia sendiri menyebut perang di Suriah sebagai sumber ketegangan utama antara Moskow dengan Washington. Serangan rudal pada April, yang diperintahkan secara langsung oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, telah menaikkan resiko konfrontasi dua negara.

Sementara itu, Bashar pada Selasa mengunjungi pangkalan udara Rusia di Hmeymin, kawasan barat Suriah. Ini adalah kunjungan pertamanya di tempat yang digunakan Moskow untuk menggelar operasi militer udara di Suriah.

Baik militer maupun Kementerian Luar Negeri Suriah hingga kini tidak menanggapi tudingan Gedung Putih itu.

Senator Amerika Serikat Bob Corker, yang merupakan kepala Komite Urusan Luar Negeri, menyatakan kekhawatiran adanya persiapan serangan senjata kimia memang benar.

"Klaim itu benar," kata dia.

Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Nikki Haley, menambahkan peringatan Trump tidak hanya ditujukan kepada pemerintah Suriah, tapi juga kepada Rusia dan Iran yang selama ini mendukung Bashar.

"Tujuan utamanya bukan hanya kepada Bashar, tapi juga menjadi pesan bagi Rusia dan Iran bahwa jika ini terjadi lagi, kami sudah memperingatkan kalian," kata dia.

Haley menekankan tujuan utama Amerika Serikat di Suriah adalah untuk memerangi kelompok bersenjata ISIS, bukan menggulingkan Bashar.

"Saya tidak melihat Suriah berjaya di bawah Bashar. Namun prioritas Amerika Serikat saat ini tetap memerangi IS," kata dia.

Pejabat intelijen sejumlah negara sejak lama menduga terdapat tempat baru untuk menyembunyikan senjata kimia mereka dari pemeriksaan internasional, kata sumber dari Amerika Serikat, demikian Reuters. (Antara)

TNI Optimalkan Pengamanan Barack Obama Selama Liburan DI Indonesia

Korem 072/Pamungkas Yogyakarta akan semaksmimal mungkin menjaga mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, yang akan berlibur di sana mulai besok (28/6). Walau bukan lagi menjadi presiden, namun Secret Service masih menjaga dia dan keluarganya.


Obama dan istrinya, Michelle, dan kedua anak perempuannya, Sasha dan Malia, masih berada di Bali. Mereka berlibur di Bali, di antaranya berjalan-jalan di sawah di desa-desa setempat, arung jeram di Sungai Ayung, dan lain-lain.

"Hari ini kami telah menggelar rapat koordinasi kesiapan kedatangan Barack Obama ke Yogyakarta," kata Komandan Korem 072/Pamungkas, Brigadir Jenderal TNI Fajar Setyawan, di Yogyakarta, Selasa.

Demi keamanan dan keselamatan Obama dan keluarganya, dia merahasiakan rute kunjungan itu.

Menurut rencana, Obama akan ada di Yogyakarta sejak Rabu besok hingga 30 Juni nanti. Dia juga akan menjadi pembicara utama pada sidang besar diaspora Indonesia, di Jakarta, pada 1 Juli nanti.

Obama, dalam kunjungan resminya sebagai presiden Amerika Serikat di Jakarta, pada November 2011, pernah berkata bahwa dia akan kembali lagi ke Indonesia.

Saat itu, di depan hadirin mahasiswa, dia sangat fasih mengenang masa kecilnya di bilangan Menteng Dalam, Jakarta Pusat. Malahan dia menirukan suara tukang sate keliling menjajakan dagangannya, dan mengulas sedikit tentang bakso, yang dia bilang enak rasanya.

Juga tentang Sarinah, yang dia bilang bahwa itulah satu-satunya gedung tinggi toserba di Jakarta yang ada saat dia tinggal di Jakarta.

Obama pernah tinggal di Jakarta saat dia masih bocah bersama ibu kandungnya, dan ayah tirinya yang seorang WNI. Dia bersekolah di Jakarta dan oleh teman-temannya, dia dipanggil Barry.  (Antara)

Rabu, 26 Oktober 2016

Presiden Duterte Beri Waktu Dua Tahun Bagi AS Untuk Tarik Pasukan Dari Finipina

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte menyerukan penarikan semua pasukan asing dari Filipinan dalam jangka waktu dua tahun. Hal itu diungkapkannya saat berbicara dengan pengusaha pada awal kunjungan tiga harinya ke Jepang.


Duterte mengakui jika pernyataannya baru-baru ini tentang pemisahan militer Manila dari Amerika Serikat (AS) telah membuat marah Washington. Namun ia bertekad untuk melakukan kebijakan luar negeri yang independen.

"Saya ingin, mungkin dalam dua tahun ke depan, negara saya bebas dari kehadiran pasukan militer asing. Saya ingin mereka keluar. Dan jika saya harus merevisi atau membatalkan perjanjian, perjanjian eksekutif, ini akan menjadi manuver terakhir, latihan perang antara AS dan militer Filipina," katanya seperti dikutip dari The Guardian, Kamis (27/10/2016).


Duterte mengakui jika dirinya mungkin telah mengacak-acak perasaan sejumlah pihak namun itu adalah gayanya. "Kami akan bertahan, tanpa bantuan dari Amerika, mungkin kualitas hidup yang lebih rendah, tapi seperti yang saya katakan, kami akan bertahan hidup," katanya.

Dalam kesempatan itu, Duterte mencoba meyakinkan Jepang bahwa tujuan kunjungannya ke China pekan lalu terbatas untuk kerjasama ekonomi. "Kau tahu Saya pergi ke Chiba untuk berkunjung. Dan saya ingin meyakinkan Anda bahwa semua itu terkait ekonomi. Kami tidak berbicara tentang senjata. Kami menghindari pembicaraan tentang aliansi," katanya. 





Abaikan Ancaman AS

Presiden Filipina Rodrigo Duterte kembali mengeluarkan pernyataan yang menyerang Amerika Serikat (AS). Dalam pertemuan dengan warga Filipina di Tokyo, Duterte menyebut AS sebagai negara bodoh.

Duterte mengatakan, AS benar-benar bodoh dengan mengeluarkan ancaman untuk memotong semua bantuan yang mereka berikan kepada Filipina, hanya karena tidak suka dengan kebijakan anti-narkoba di Filipina. 

"Amerika benar-benar pengganggu, mereka menghukum kita karena kita melakukan perang melawan narkoba," kata Duterte dalam pertemuan tersebut, seperti dilansir Al Jazeera pada Rabu (26/10).

"Itu adalah hal yang merendahkan AS, dengan melemparkan ancaman untuk memotong semua bantuan dengan dasar HAM. Anda (AS) dapat mengambil semuanya, itu adalah milik Anda, kami akan tetap bertahan (tanpa bantuan)," sambungnya.

Hal senada sempat diutarakan Duterte jelang keberangkatan ke Tokyo. Di depan wartawan Filipina, Duterte menyebut AS sudah diserang oleh diskriminasi.

Duterte sendiri direncanakan akan berada di Tokyo selama kurang lebih empat hari. Di ibukota Jepang itu Duterte dijadwalkan bertemu sejumlah pengusaha, dan pejabat tinggi Jepang, termasuk Perdana Menteri Shinzo Abe.  (SindoNews)

Pejabat Amerika : Sia-sia Minta Korut Hentikan Program Nuklir

Direktur intelijen nasional Amerika Serikat (AS), James Clapper mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) harus fokus dalam hal membatasi kemampuan nuklir Korea Utara (Korut). Menurutnya, meyakinkan Korut untuk menghentikan pengembangan nuklir adalah hal yang sia-sia.

Sia-sia Minta Korut Hentikan Program Nuklir

"Saya pikir gagasan untuk denuklirisasi Korut adalah hal yang sia-sia. Mereka tidak akan melakukan itu karena itu adalah tiket mereka untuk bertahan hidup," katanya didepan Dewan Hubungan Luar Negeri seperti dikutip dari Sputniknews, Kamis (27/10/2016).

Clapper lantas menjelaskan perjalanannya ke Korut pada tahun 2014 lalu untuk menjamin pembebasan dua warga AS. Ia memberikan penilaian 'good taste' atas pengembangan nuklir dari perspektif negara itu.


"Mereka berada di bawah pengepungan dan mereka sangat paranoid, sehingga gagasan untuk menyerah dalam mengembangkan kemampuan nuklir, apa pun itu, adalah tidak mungkin. Yang terbaik mungkin bisa kita berharap adalah semacam penumbat, tetapi mereka tidak akan melakukan itu hanya karena kita meminta mereka. Ada beberapa bujukan yang harus signifikan," tuturnya.

Clapper juga mengungkapkan jika Pyongyang belum melakukan uji coba rudal balistik antar benua KN-08 se

Direktur intelijen nasional Amerika Serikat (AS), James Clapper mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) harus fokus dalam hal membatasi kemampuan nuklir Korea Utara (Korut). Menurutnya, meyakinkan Korut untuk menghentikan pengembangan nuklir adalah hal yang sia-sia.

"Saya pikir gagasan untuk denuklirisasi Korut adalah hal yang sia-sia. Mereka tidak akan melakukan itu karena itu adalah tiket mereka untuk bertahan hidup," katanya didepan Dewan Hubungan Luar Negeri seperti dikutip dari Sputniknews, Kamis (27/10/2016).

Clapper lantas menjelaskan perjalanannya ke Korut pada tahun 2014 lalu untuk menjamin pembebasan dua warga AS. Ia memberikan penilaian 'good taste' atas pengembangan nuklir dari perspektif negara itu.

"Mereka berada di bawah pengepungan dan mereka sangat paranoid, sehingga gagasan untuk menyerah dalam mengembangkan kemampuan nuklir, apa pun itu, adalah tidak mungkin. Yang terbaik mungkin bisa kita berharap adalah semacam penumbat, tetapi mereka tidak akan melakukan itu hanya karena kita meminta mereka. Ada beberapa bujukan yang harus signifikan," tuturnya.

Clapper juga mengungkapkan jika Pyongyang belum melakukan uji coba rudal balistik antar benua KN-08 sehingga utilitasnya tidak dapat diketahui. Rudal balistik ini diyakini mampu menyerang AS. Ia pun menyarankan kepada Washington tidak menunggu sampai Korut menguji coba rudal tersebut.

"Namun demikian, kami menganggap kemampuan Korut untuk meluncurkan rudal yang memiliki kemampuan untuk mencapai wilayah AS, tentu termasuk Alaska dan Hawaii, kami harus beranggapan mereka mampu. Kami harus membuat asumsi terburuk di sini," tukasnya.

Menanggapi hal itu, juru bicara Departemen Luar Negeri John Kirby mengatkan ia tidak terlalu memusingkan komentar Clapper dan AS masih berharap untuk melanjutkan negosiasi bantuan perlucutan senjata yang terhenti sejak 2009.

"Kami terus melihat diversifikasi, denuklirisasi semenanjung Korea. Kami ingin melihat kembali ke proses pembicaraan enam pihak, dan itu berarti kita perlu melihat Korut menunjukkan kemauan dan kemampuan untuk kembali ke proses mereka yang belum selesai," katanya.

hingga utilitasnya tidak dapat diketahui. Rudal balistik ini diyakini mampu menyerang AS. Ia pun menyarankan kepada Washington tidak menunggu sampai Korut menguji coba rudal tersebut.

"Namun demikian, kami menganggap kemampuan Korut untuk meluncurkan rudal yang memiliki kemampuan untuk mencapai wilayah AS, tentu termasuk Alaska dan Hawaii, kami harus beranggapan mereka mampu. Kami harus membuat asumsi terburuk di sini," tukasnya.

Menanggapi hal itu, juru bicara Departemen Luar Negeri John Kirby mengatkan ia tidak terlalu memusingkan komentar Clapper dan AS masih berharap untuk melanjutkan negosiasi bantuan perlucutan senjata yang terhenti sejak 2009.

"Kami terus melihat diversifikasi, denuklirisasi semenanjung Korea. Kami ingin melihat kembali ke proses pembicaraan enam pihak, dan itu berarti kita perlu melihat Korut menunjukkan kemauan dan kemampuan untuk kembali ke proses mereka yang belum selesai," katanya.  (SindoNews)

Selasa, 18 Oktober 2016

Pentagon Nyatakan Defcon 3, AS bersiap perang lawan Rusia

Konflik Suriah membuat ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia terus mengarah titik nadir. Kedua negara saling mengancam, bahkan Presiden Vladimir Putin memperingatkan warganya untuk bersiap-siap jika terjadi perang.

Pentagon Nyatakan Defcon 3, AS bersiap perang lawan Rusia

Hal yang sama juga dilakukan AS. Negara ini telah meningkatkan sistem pertahanannya menjadi Defcon level 3, artinya Pentagon tak lagi memandang sebelah mata terhadap ancaman-ancaman Rusia. Bahkan, negara ini bisa mengerahkan Angkatan Udaranya dalam hitungan 15 menit.

Defcon berarti 'kondisi kesiapan pertahanan', di mana negara dalam keadaan bersiap untuk menghadapi ancaman dari luar, seperti perang nuklir. Defcon terdiri atas lima level, di mana level kelima merupakan level paling terendah, di mana negara dirasa aman dari ancaman apapun.


Sebaliknya, Defcon level satu merupakan tanda bahaya. Jika itu terjadi, maka negara memiliki hak untuk menggunakan opsi militer guna menetralisir perang nuklir, dan melakukan respons cepat terhadap setiap ancaman. Sedangkan level tiga berarti Angkatan Udara AS bisa dimobilisasi hanya dalam waktu 15 menit.

Berdasarkan laporan dari media setempat, saat ini AS telah menetapkan Defcon 3. Penetapan ini dilakukan sesuai meningkatnya tensi, kejadian di dunia, dan kemungkinan pernyataan perang terhadap Rusia.

Tensi ketegangan itu terjadi setelah AS dan Rusia saling menyalahkan atas rusaknya perjanjian gencatan senjata, di mana terjadi pengeboman terhadap iringan bantuan, dan serangan terhadap Kota Aleppo. Di mana AS melindungi pasukan pemberontak dan Rusia berdiri di belakang Bashar al-Assad.

Belum ada penjelasan resmi dari pemerintah AS tentang penetapan Defcon 3 terhadap sistem pertahanan mereka. Apalagi, Rusia telah menyatakan bergabung dengan China untuk menghentikan operasi AS dalam membangun jaringan misil di Eropa dan Asia. (Merdeka)

Berpaling dari Amerika Serikat, Filipina Akan Berkoalisi Dengan China

Tanda-tanda Filipina akan berpaling dari Amerika Serikat (AS) semakin terlihat, seiring dengan pernyataan terbaru yang dilontarkan Presiden Filipina Rodrigo Duterte. Pemimpin Filipina itu mengatakan, hanya China yang bisa membantu Filipina.

Berpaling dari Amerika Serikat, Filipina Akan Berkoalisi Dengan China
Duterte

"Kakek saya adalah orang Cina. Hanya China yang dapat membantu kita," kata Duterte dalam sebuah pernyataan, jelang keberangkatannya ke Beijing, seperti dilansir Russia Today pada Selasa (18/10).

"Semua yang saya perlu lakukan adalah berbicara dan jabat tangan erat dari para pejabat (China) dan mengatakan bahwa kita orang Filipina dan kami siap untuk bekerja sama dengan Anda, untuk membantu kami dalam membangun perekonomian kita dan membangun negara kita," sambungnya.


Duterte mengatakan, pendapatan perkapita Filipina terus jatuh sejak pergantian milenium. Duterte mengklaim, ia memiliki rencana infrastruktur besar bagi tanah airnya, yang tidak bisa direalisasikan karena kurangnya persediaan modal.

"Jika kami dapat memiliki hal-hal yang telah Anda berikan ke negara-negara lain dengan cara memberikan bantuan, kami juga ingin menjadi bagian dari itu dan menjadi bagian dari rencana yang lebih besar dari China tentang seluruh Asia, khususnya Asia Tenggara," sambungnya.

Duterte dijadwalkan akan melakukan kunjungan selama empat hari ke China. Di sana, ia akan bertemu dengan sejumlah pejabat tinggi Negeri Tirai Bambu itu, termasuk melakukan pertemuan dengan Presiden China Xi Jin-ping.


Warga Filipina Lebih Percaya AS Ketimbang China

Sebuah hasil survei yang dilakukan terhadap warga Filipina menunjukkan jika mereka lebih percaya Amerika Serikat (AS) ketimbang China. Kenyataan ini berbanding terbalik dengan retorika Presiden Rodrigo Duterte yang anti AS dan mendadak merapat ke China.

Menurut survei yang dilakukan oleh Social Weather Stations, 55 persen warga Filipina sedikit percaya kepada AS ketimbang China berbanding 11 persen dengan mereka yang ragu terhadap AS. Survei ini dilakukan sejak 24 hingga 27 September.

Sementara lebih dari tiga per empat, atau 76 persen, dari 1.200 responden sangat percaya kepada AS berbanding 22 persen dengan mereka yang merasakan hal yang sama terhadap China. Jajak pendapat ini tidak meminta responden untuk menjelaskan pandangan mereka seperti dikutip dari Reuters, Selasa (18/10/2016).

Duterte menunjungi China pada hari ini didampingi oleh setidaknya 200 delegasi bisnis, saat ia melihat peluang untuk membuka aliansi komersial baru dengan Beijing. Duterte menyatakan hal itu bertujuan untuk meningkatkan perekonomian Filipina dan diversifikasi kebijakan luar negeri yang terlalu bergantung dengan Washington.

Duterte telah mencerca dengan garang AS sebagai sekutu lamanya dan bekas penjajah. Ia mengeluhkan sikap Presiden Barack Obama yang terlalu mendikte terkait perang anti narkoba yang diterapkan oleh Duterte. Ia bahkan sempat mencerca Obama dengan kata-kata 'pergilah ke neraka.'  (SindoNews)

Senin, 17 Oktober 2016

Amerika Serikat Resmikan Kapal Destroyer USS Zumwalt

Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) menyambut lahirnya kapal perang terbaru mereka. Kapal yang diberi nama Zumwalt itu adalah kapal perusak terbesar dan paling canggih seharga USD4,5 miliar.

"Jika Batman memiliki kapal perang, itu akan menjadi USS Zumwalt. Selama Presiden kita dan Anda orang Amerika memiliki nafsu tak terpuaskan untuk keamanan, maka saya memiliki nafsu tak terpuaskan untuk hal-hal mempertahankan keamanan itu," kata Komandan Komando Pasifik AS Laksamana Harry Harris seperti dikutip dari Daily Mail, Minggu (16/10/2016).


Amerika Serikat Resmikan Kapal Destroyer USS Zumwalt

Menurut sekretaris Angkatan Laut (AL) AS, Ray Mabus, USS Zumwalt adalah lompatan kuantum untuk kapal AL. "Ini yang pertama dari jenis pembuka jalan bagi kelas baru kapal perang, sistem baru yang bisa kita gunakan dan ityu akan memperluas hal yang dapat kita lakukan dan cara kita melakukannya," kata Mabus.


USS Zumwalt memiliki panjang 610 kaki dengan bentuk sudut yang tajam untuk meminimalkan pendeteksian radar. Kapal akan terlihat jauh lebih kecil di radar. Anjungan kapal ini mirip dengan pesawat Star Trek dimana dua kursi dikelilingi oleh hampir 360 monitor video.

Kapal ini cukup tenang di banding kapal lain, yang membuat Zumwalt sulit untuk dideteksi, dilacak dan diserang. Sebuah deckhouse dengan komposit mampu membuatnya tersembunyi dari radar dan sensor lainnya. Zumwalt diperkuat dengan sistem senjata terbaru yang mampu memuntahkan 600 proyektil bertenaga roket dengan target lebih dari 70 mil jauhnya.

Zumwalt mampu meluncurkan rudal jelajah Tomahawk, Evolved Sea Sparrow Rudal, rudal standar dari permukaan ke udara dan rudal anti kapal selam dari 80 tabung rudal. Zumwalt juga dilengkapi dengan lambung untuk menusuk gelombang konvensional yang membuatnya bergerak dengan sangat halus. Kapal dengan berat hampir 15 ribu ton ini dilengkapi dengan teknologi canggih dan kemampuan yang memungkinkannya diterjunkan dalam berbagai misi baik defensif maupun ofensif dimana pun dibutuhkan. (SindoNews)

Daftar kekuatan militer AS Vs Rusia, Jika Terjadi Perang Siapa Lebih Unggul?

Pengeboman yang dilakukan pesawat militer Amerika Serikat (AS) terhadap tentara Suriah pendukung Bashar al Assad membuat hubungan dengan Rusia kian memanas. Jika tak kunjung berakhir, banyak pihak situasi tersebut dapat memicu terjadinya perang dunia ketiga.

Daftar kekuatan militer AS Vs Rusia, Jika Terjadi Perang Siapa Lebih Unggul?

Tentara Rusia juga telah mengarahkan rudal-rudal balistik mereka ke arah negara-negara anggota NATO. Meski menghadapi sejumlah provokasi dari Rusia, namun militer AS belum dilaporkan melakukan tindakan balasan. AS juga tak akan sendiri jika perang berkecamuk, sejumlah negara anggota NATO juga akan ikut serta.

Ini peta kekuatan militer kedua negara bila perang dunia ketiga meletus:

Dikutip dari situs globalfirepower.com, AS menempati peringkat pertama dalam hal kekuatan militer. Sedangkan Rusia berada setingkat di bawahnya.


AS memiliki personel militer aktif sebanyak 1,4 juta dan masih memiliki 145 juta warganya yang memenuhi syarat untuk mengikuti dinas militer. Sedangkan, pasukan cadangan berjumlah 1,1 juta orang.

Di darat, AS memiliki 8.848 unit tank, 41.062 unit kendaraan tempur lapis baja, 1.934 tank artileri bergerak dan 1.331 unit Sistem Peluncur Roket. Angka itu belum termasuk 1.299 artileri medan yang dimiliki setiap divisi.

Sementara, Rusia memiliki 766.055 tentara aktif dan menyimpan 2,48 juta kekuatan cadangan. Dari jumlah iru, 47 juta warganya juga dinilai memenuhi syarat untuk mengikuti dinas militer.

Sejauh ini, Rusia telah mengoperasikan 15.398 unit tank, 31.298 unit kendaraan tempur lapis baja, 5.972 unit artileri swagerak, dan 3.793 unit sistem peluncur roket. Rusia juga diketahui memiliki 4.625 artileri berbagai jenis.

Di udara, AS memiliki 13.444 pesawat di seluruh cabang kemiliteran. Jumlah itu terdiri dari 2.308 unit pesawat tempur, dan 2.785 unit pesawat serbu. Sedangkan jumlah helikopter tempur mencapai 957 unit.

Sedangkan Rusia memiliki 3.547 pesawat, yang terdiri atas 751 pesawat tempur, dan 1.438 unit pesawat serbu. Tak hanya itu, Rusia juga mengoperasikan 478 unit helikopter tempur.

Di laut, AS diperkuat 415 kapal, yang terdiri atas 19 kapal induk, 6 kapal frigat, 62 kapal perusak dan 75 kapal selam. Sebaliknya, kekuatan yang dimiliki Rusia hanya 352 kapal perang, yang hanya diperkuat 1 kapal induk.

Selain itu, Rusia juga memiliki 4 kapal frigat, 15 unit kapal perusak, 81 unit kapal korvet dan 60 unit kapal selam.

Soal kemampuan tempur dan teknologi, sejak era Perang Dingin dua negara ini sudah berlomba-lomba bersaing. Di atas kertas, saat ini AS lebih kuat. Namun jika perang benar-benar meletus, siapa yang akan unggul? (Merdeka)

Minggu, 09 Oktober 2016

Perang Rusia dan Negara Barat Pecah di Pertemuan DK PBB

 "Perang" antara negara-negara Barat dan Rusia pecah dalam pertemuan Dewan Keamanan (DK) PBB. Pertemuan itu membahas dua resolusi, yakni resolusi yang diajukan Prancis dan oleh Rusia.

Perseteruan bermula saat Rusia memveto resolusi yang diajukan Prancis. Resolusi itu berisi desakan kepada seluruh negara untuk menghentikan serangan di Aleppo, Suriah.



Melansir Al Jazeera pada Minggu (9/10), ini adalah kali kelima Rusia memveto resolusi di DK PBB sepanjang lima tahun konflik di Suriah berlangsung. Dalam empat veto sebelumnya, Rusia mendapat dukungan dari China. Tapi kali ini China mengambil sikap abstain, atau tidak memilih.

Setelah pembahasan mengenai resolusi yang diajukan Prancis, DK PBB kemudia berlanjut pada resolusi yang diajukan Rusia. Resolusi tersebut tidak berhasil diadopsi karena banyak negara yang menolak resolusi tersebut.


Situasi memanas, paska usulan Rusia gagal mengumpulkan cukup suara. Matthew Rycroft, duta besar Inggris untuk PBB langsung mengelurkan pernyataan, dengan meminta Rusia untuk menghentikan pemboman di Aleppo. Dia juga menyebut bahwa negara-negara Barat ragu dengan komitmen Rusia di Suriah.

"Ini (usulan Rusia) gagal karena mereka gagal untuk memenuhi tuntutan untuk mengakhiri pemboman udara dari Aleppo. Ini palsu. Sama seperti komitmen berongga Rusia untuk proses politik di Suriah adalah palsu. Pemboman warga sipil di Aleppo adalah memuakkan dan barbar. Berhenti sekarang," ucap Rycroft.

Dalam menanggapi komentar Rycroft ini, Vitaly Churkin, Duta Besar Rusia untuk PBB, mengatakan Inggris harus berhenti mendukung teroris. "Hentikan mendukung semua penjahat di seluruh dunia termasuk teroris," katanya.

"Hentikan intervensi dalam urusan internal negara-negara berdaulat, menghentikan kebiasaan kolonial Anda, meninggalkan dunia dalam damai dan kemudian, mungkin, situasi akan membaik di banyak daerah," sambung Churkin.

Hubungan antara Rusia dan Barat, khususnya dengan Amerika Serikat (AS) terus memburuk akibat perbedaan pendapat soal Suriah. Hubungan itu terus memburuk paska AS memutuskan untuk menghentikan pembicaraan dengan Rusia soal upaya damai di Suriah, yang mendapat kecaman keras dari Moskow. 


Alasan Rusia Veto Resolusi yang Diajukan Prancis
Rusia mengungkapkan alasan mengapa mereka memveto resolusi yang diajukan Prancis di Dewan Keamanan (DK) PBB terkait Suriah. Resolusi Prancis berisikan desakan untuk menghentikan serangan udara di Aleppo.

Kementerian Luar Negeri Rusia menuturkan alasan mereka memveto resolusi itu adalah karena mereka menilai resolusi tersebut menguntungkan kelompok militan yang beroperasi di Aleppo. Selain itu, Moskow menyebut resolusi itu terlalu dipolitisir.

"Upaya eksplisit dibuat, dengan melarang penerbangan di wilayah Aleppo, untuk memberikan penyamaran bagi teroris dari Jabhat Al-Nusra dan militan terkait," kata Kemlu Rusia, seperti dilansir Reuters pada Minggu (9/10).

Veto yang dilakukan Rusia terhadap resolusi yang diajukan Prancis merupakan awal "perang" antara Rusia dan negara-negara Barat di DK PBB. Dampak pertama dari veto tersebut adalah sedikitnya negara yang menyetujui resolusi Rusia di DK PBB.  (SindoNews)

Kamis, 06 Oktober 2016

Media Moskow Prediksi Rusia Perang Langsung dengan Amerika Serikat

Sebuah media di Moskow memprediksi Rusia akan konfrontasi militer atau perang secara langsung dengan Amerikat Serikat (AS) sebagai puncak ketegangan atas krisis Suriah. Media itu dalam laporannya mengkhawatirkan pecahnya Perang Dunia Ketiga.

Media Moskow Prediksi Rusia Perang Langsung dengan Amerika Serikat

Tabloid Moskovsky Komsomolets memprediksi konfrontasi militer langsung kedua negara itu setara dengan Krisis Rudal Kuba. Laporan itu muncul hampir bersamaan dengan latihan perang nuklir besar-besaran oleh Pemerintah Presiden Rusia Vladimir Putin yang melibatkan 40 juta orang sejak kemarin (5/10/2016), setelah ketegangan dengan AS memanas.

Dalam sebuah artikel berjudul “The stakes are higher than Syria” tabloid Moskovsky Komsomolets memperingatkan perang baru yang potensial.


“Bayangkan saja bahwa AS melakukan apa yang telah ingin lakukan untuk waktu yang lama dan serangan terhadap (Presiden Suriah Bashar) Assad, tidak sengaja tapi pada tujuan dan secara terbuka,” bunyi laporan media Rusia tersebut.

”Rusia harus membela sekutunya atau mempertimbangkan melawan Amerika, tapi  pasti ini akan mengarah pada Perang Dunia Ketiga,” lanjut laporan itu.

”Rusia bisa menang besar di Suriah, tetapi juga bisa kehilangan besar juga. Kita tidak boleh lupa bahwa di Suriah kita memainkan permainan berisiko yang menakjubkan,” imbuh laporan media Rusia.

Moskovsky Komsomolets lantas memprediksi jet-jet tempur koalisi yang dipimpin AS akan ditembak jatuh. ”Menurut pilot pesawat tempur kami, yang terbaik yang kita bisa lakukan adalah menembak jatuh beberapa (jet tempur) pasukan koalisi, tapi ini berarti perang skala penuh,” sambung laporan tersebut. (SindoNews)

Perang Dunia III Hampir Pasti Terjadi

Para pejabat militer Amerika Serikat (AS) menyatakan sebuah perang skala penuh antara negara-negara hampir pasti terjadi dan akan sangat mematikan. Peringatan ini muncul seiriing kebijakan China dan Rusia meningkatkan kemampuan militernya.


Mayor Jenderal William Hix memperingatkan bahwa kecerdasan buatan dan senjata canggih akan mempercepat laju perang. Peringatan ini datang setelah Rusia dan China mengerahkan pasukan militer konvesional dalam jumlah besar, sementara Korea Utara (Korut) melakukan uji coba nuklir meskipun telah dijatuhi sanksi oleh PBB.

"Konflik konvesional di masa depan akan sangat mematikan serta cepat, dan kita tidak memiliki stopwatch. Kecepatan di mana mesin dapat membuat keputusan di masa depan akan menantang kemampuan kita untuk mengatasinya, menuntut hubungan baru antara manusia dan mesin," katanya seperti dikutip dari laman Express, Kamis (6/10/2016).


Hix merujuk pada kemajuan teknologi China dan Rusia dalam beberapa tahun terakhir. Ia pun memperingatkan bahwa perkembangan tersebut harus memaksa Gedung Putih untuk mempersiapkan diri dalam skala yang belum pernah dilihat militer AS sejak perang Korea.

Sementara petinggi militer AS lainnya, Letnan Jenderal Joseph Anderson, mengatakan AS menghadapi ancaman dari sebuah negara bangsa yang modern yang bertindak agresig dalam persaingan militer. Sedangkan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Mark Milley mengatakan ancaman itu hampir pasti dan tentara AS harus bersedia untuk terlibat dalam perang cyber dan siap untuk bertarung di perkotaan yang kompleks. Dia menambahkan: "Meskipun kami sudah siap sekarang, kita akan ditantang."

Katharina McFarland, bertindak asisten sekretaris militer untuk akuisisi, logistik, dan teknologi senjata mengklaim masa depan perlu dirancang lebih baik. "Sebagai seorang insinyur, saya pikir dalam hal antarmuka yang sederhana - tidak peduli apa helikopter, Anda bisa masuk dan mengoperasikannya." (SindoNews)

Ikuti Latihan Militer di AS Puluhan Pasukan Afghanistan Menghilang

Sedikitnya 44 tentara Afghanistan yang mengunjungi Amerika Serikat (AS) untuk mengikuti pelatihan militer telah hilang dalam kurun waktu dua tahu. Pentagon menduga, mereka kemungkinan berupaya untuk hidup dan bekerja secara ilegal di AS.

Ikuti Latihan Militer di AS Puluhan Pasukan Afghanistan Menghilang

Meskipun jumlah anggota pasukan yang hilang relatif kecil, namun insiden ini menimbulkan pertanyaan tentang keamanan dan prosedur penyaringan untuk program pelatihan. Untuk diketahui, sekitar 2.200 tentara Afghanistan telah menerima pelatihan militer di AS sejak 2007.

Juru bicara Pentagon, Adam Stump mengatakan, sejak September saja ada 8 tentara Afghanistan yang telah meninggalkan pangkalan militer tanpa izin. Ia mengatakan jumlah pasukan Afghanistan yang hilang sejak Januari 2015 adalah 44, jumlah yang tidak pernah dipublikasikan sebelumnya.


"Departemen Pertahanan tengah menilai cara-cara untuk memperketat kriteria kelayakan untuk mendapatkan pelatihan adalah salah satu cara untuk mengurangi kemungkinan anggota pasukan Afghanistan melarikan diri dari pelatihan di AS dan membelot (mangkir)," tutur Stump dikutip dari Reuters, Kamis (6/10/2016).

Stump mengatakan, pasukan Afghanistan yang mengikuti program pelatihan AS telah diperiksa untuk memastikan mereka tidak terlibat dalam pelanggaran HAM dan tidak berafiliasi dengan kelompok militan sebelum diizinkan masuk ke AS.

Sementara itu pejabat pertahanan AS yang berbicara dengan syarat anonim menambahkan bahwa tidak ada bukti dari mereka yang telah melarikan diri telah melakukan kejahatan atau menjadi ancaman bagi AS. (SindoNews)

Minggu, 18 September 2016

China Tuding Jepang dan Amerika Serikat Perkeruh Konflik LCS

Kantor berita China, Xinhua, dalam editorialnya menyatakan pemerintah Xi Jinping telah melemparkan ancaman langsung kepada Jepang. China menganggap Jepang telah melewati batas dengan ikut berpartisipasi dalam latihan angkatan laut di Laut China Selatan (LCS) atas dasar Kebebasan Navigasi yang digagas Amerika Serikat (AS).

China Tuding Jepang dan Amerika Serikat Perkeruh Konflik LCS

Xinhua menilai, Jepang memiliki "motif tersembunyi" untuk ikut intervensi di LCS termasuk dengan mencoba bergabung dengan AS. Jepang juga berusaha mengumpulkan pengaruh terhadap sengketa teritorial yang dihadapinya dengan China atas Kepulauan Senkaku (Diaoyu).

"Sebagai penjaga ketertiban maritim di LCS adalah tugas bersama dari negara-negara pesisir di kawasan itu, kepentingan besar orang luar seperti Jepang dalam mengikuti jejak AS hampir tidak dapat dibenarkan. Apakah Jepang benar-benar mencari perdamaian dan keamanan regional atau hanya memancing di perairan sengketa dengan meningkatkan kehadiran militer di LCS adalah bukan pertanyaan yang sulit untuk dijawab," begitu tulisan editorial tersebut seperti dikutip dari Sputniknews, Senin (19/9/2016).


Xinhua menyatakan bahwa ketertarikan Jepang untuk ikut intervensi di LCS adalah untuk menggunakannya sebagai tawar menawar dengan China dalam sengketa Kepulauan Senkaku (Diaoyu) di Laut Cina Timur.

"Dalam masalah ini, Jepang telah meninggalkan batu yang tidak bisa berputar untuk mengaduk air dengan menyebabkan ketegangan, misalnya, rencana Jepang baru-baru ini dengan menjual murah senjata ke India dengan imbalan suara untuk melawan China," tulis Xinhua.

Editorial ini muncul untuk menanggapi pengumuman Menteri Pertahanan Jepang, Tomomi Inada bahwa Jepang akan memperluas kehadirannya di LCS. Ia juga mengatakan Jepang akan terlibat dalam latihan kapal perang bersama dengan Angkatan Laut AS dan latihan bilateral dan multilateral dengan angkatan laut regional. (SindoNews)

Rabu, 07 September 2016

Rusia Siapkan Balasan Atas Perluasan Sangsi AS

Kremlin mengeluarkan peringatan untuk membalas tindakan Amerika Serikat (AS) yang telah memperluas sanksi terhadap Rusia. Menurut Kremlin, dampak sensitif dari tindakan AS itu sudah dibahas antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Barack Obama di sela-sela KTT G-20 di China.

Rusia Siapkan Balasan Atas Perluasan Sangsi AS

Departemen Keuangan AS sebelumnya telah memperluas daftar sanksi dengan target perusahaan-perusahaan Rusia yang mendukung dan terlibat pembangunan “Jembatan Putin”, sebuah jembatan penghubung Rusia dan Crimea.

“Ekspansi (sanksi) masuk perselisihan serius dengan isu kerjasama di wilayah sensitif, yang kedua presiden sudah bahas pada pertemuan mereka,” kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, kepada wartawan, seperti dikutip Russia Today, semalam (7/9/2016).


Mengomentari ekspansi sanksi terbaru dari AS, Peskov mengatakan bahwa Rusia akan merespons secara sesuai.

”Sejauh sanksi pergi, kita mendasarkan kebijakan kami pada prinsip timbal balik,” katanya. ”Kami akan menganalisis daftar baru,” lanjut Peskov mengacu pada daftar yang jadi target ekspansi sanksi AS.

”Kami hanya bisa mengungkapkan penyesalan bahwa pertemuan kedua presiden dijebak oleh ekspansi tambahan seperti sanksi,” lanjut Peskov.

Washington yang mendukung kudeta Kiev telah menuduh Moskow menganeksasi Crimea yang sebelumnya menjadi bagian dari Ukraina.

Crimea memisahkan diri melalui referendum tahun 2014 setelah krisis Ukraina. Tak lama kemudian, Crimea menyatakan bergabung dengan Rusia dan disambut oleh Presiden Putin. (SindoNews)

Jet Tempur Rusia Cegat Pesawat Mata-mata AS dalam Jarak 3 Meter

Sebuah pesawat jet tempur Rusia melakukan manuver pencegatan “tidak aman dan tidak professional” terhadap pesawat mata-mata Amerika Serikat yang patroli rutin di atas Laut Hitam. Jet tempur Rusia itu bermanuver dalam jarak 10 kaki atau sekitar 3,05 meter di depan pesawat pengintai AS.

Insiden itu diungkap dua pejabat Pentagon AS kepada Reuters. Insiden terjadi pada saat ketegangan antara AS dan Rusia meningkat dalam berbagai masalah, termasuk krisis Suriah.


Jet Tempur Rusia Cegat Pesawat Mata-mata AS dalam Jarak 3 Meter

Seorang pejabat Pentagon, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan bahwa insiden tersebut berlangsung sekitar 19 menit, di mana pesawat jet tempur Su-27 Rusia muncul dalam jarak 10 kaki di depan pesawat mata-mata P-8 AS.

”Mereka di sana selama 12 jam dan ada banyak interaksi. Tapi hanya salah satu dari insiden apa yang disebut pilot bertindak tidak aman,” kata pejabat Pentagon lain yang tidak berwenang berbicara kepada media, yang dikutip Kamis (8/9/2016).


Masih menurut pejabat tersebut, insiden itu sedang ditinjau untuk menentukan apakah akan dimasukkan dalam pembicaraan tahunan pejabat AS dan Rusia tentang pencegatan pesawat. Pemerintah maupun militer Rusia belum merespons laporan dari pejabat Pentagon tersebut.

Ada sejumlah insiden serupa yang melibatkan Rusia dan AS pada tahun ini. Pada bulan April, dua pesawat tempur Rusia melakukan simulasi serangan di dekat kapal perang AS di Laut Baltik.

Peristiwa ini mengingatkan pada Perang Dingin, ketika serangkaian kontak menyebabkan perjanjian bilateral yang bertujuan untuk menghindari interaksi berbahaya di laut. Perjanjian itu diteken pada tahun 1972 oleh Komandan Angkatan Laut AS John Warner dan Komandan Angkatan Laut Soviet Admiral Gorshkov Sergei.

Penjelasan Kemntrian Pertahanan Rusia

Kementerian Pertahanan Rusia mengungkap alasan pesawat jet tempur Su-27  mencegat pesawat mata-mata P-8 AS yang oleh pejabat Pentagon dilakukan dalam jarak tiga meter di atas Laut Hitam. Menurut kementerian itu, pesawat mata-mata AS sudah dua kali mencoba mendekati perbatasan Rusia.

Aksi pesawat pengintai P-8 itu dilakukan dengan kondisi transponder dimatikan. Kondisi itu yang membuat militer Rusia bertindak.

”Pada tanggal 7 September, pesawat pengintai AS, Poseidon P-8 mencoba mendekati perbatasan Rusia dua kali dengan transponder mereka mati,” kata juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Mayor Jenderal Igor Konashenkov, dalam sebuah pernyataan yang dikutip Russia Today, Kamis (8/9/2016).

“Jet tempur Su-27 mencegat pesawat AS sesuai dengan aturan ketat penerbangan internasional,” lanjut pernyataan Konashenkov.

Seorang atase pertahanan AS telah dipanggil oleh Kementerian Pertahanan Rusia setelah insiden di Laut Hitam di dekat perbatasan timur Rusia, di mana sebuah pesawat mata-mata AS terdeteksi terbang terlalu dekat dengan perbatasan Rusia.

Sebelumnya diberitakan bahwa dua pejabat Pentagon menuduh jet tempur Rusia melakukan manuver pencegatan "tidak aman dan tidak profesional" terhadap sebuah pesawat mata-mata AS yang melakukan patroli rutin di Laut Hitam.

Mereka mengatakan bahwa jet tempur Su-27 Rusia muncul di depan pesawat P-8 AS dalam jarak 10 kaki atau 3,05 meter meter selama sekitar 19 menit. (SindoNews)

Jumat, 22 Juli 2016

Kapal Induk Tercanggih Amerika Serikat Tak Siap Perang

Sebuah memo dari Pentagon mengungkap bahwa kapal induk tercanggih dan termahal Amerika Serikat (AS), USS Gerald Ford tidak siap untuk terlibat perang. Kapal induk yang sempat menuai pujian itu mengalami kendala dalam operasi penyebaran.

Kapal Induk Tercanggih AS Tak Siap Perang

Kapal induk USS Gerald Ford dibangun dengan dana sekitar USD13 miliar. Menurut memo internal Pentagon yang dilihat oleh Bloomberg, kapal induk tercanggih AS ini harus menjalani desain ulang.

”Keempat sistem mempengaruhi area utama dari operasi penerbangan,” bunyi memo Direktur Uji Operasional dan Evaluasi Departemen Pertahanan AS, Michael Gilmore, yang ditujukan kepada kepada Pentagon dan pembeli senjata Angkatan Laut Frank Kendall dan Sean Stackley, yang dikutip Jumat (22/7/2016).


USS Gerald Ford akan memiliki inovasi terbaru di bidang pembuatan kapal militer, termasuk sebuah dek penerbangan yang ditingkatkan. Reaktor nuklir kapal ini juga diklaim lebih kuat dan mutakhir.




Memo itu menyebut ada kegagalan yang paling serius. ”Tidak mungkin untuk mendukung operasi penerbangan intensitas tinggi,” bunyi memo Gilmore. ”Keandalan jauh di bawah ekspektasi dan jauh di bawah apa yang dibutuhkan untuk berhasil dalam pertempuran.”

USS Gerald Ford dirancang untuk memiliki 11 lift senjata. Kendala ini kemungkinan akan membuat jadwal sejumlah operator kapal perang AS ikut mundur.

Kapal USS Gerald Ford (CVN-78) diharapkan memiliki daya tampung hingga 75 pesawat dan memiliki lima acre dek penerbangan. Kapal mampu membawa 4.660 personel dan meluncurkan sebanyak 220 serangan udara per hari dari dua landasan pacu.

”Dia benar-benar sebuah keajaiban teknologi,” kata Kepala Operasi Angkatan Laut, Laksamana Jonathan Greenert, dalam upacara “pembaptisan” kapal induk itu pada 2013 di galangan kapal Virginia. ”Dia akan membawa pesawat tak berawak, pesawat tempur gabungan dan dia akan menyebarkan laser.” (SindoNews)

Minggu, 17 Juli 2016

Lawan Peretas ISIS Pentagon Kembangkan Malware

Serangan ISIS tak cuma dalam aksi nyata, organisasi yang bertanggung jawab atas banyak teror ini juga bergerak di dunia maya. Demi menghambatnya, Pentagon pun mengembangkan malware khusus.

Pentagon Kembangkan Malware untuk Lawan ISIS

Informasi ini disampaikan oleh salah seorang petinggi Pentagon bernama Michael S. Rogers yang menjabat sebagai US Cyber Command chief Administration. Dijelaskan, institusi tempatnya bernaung telah menyiapkan tim khusus yang akan bekerja untuk mengembangkan sebuah tool untuk melawan pergerakan ISIS di dunia maya.

Tool tersebut digarap dalam bentuk malware dan sesuatu yang disebutnya senjata digital. Pentagon menamai tim khusus yang menanganinya dengan panggilan Joint Task Force Ares. Menurut pihak Pentagon, keberadaan pasukan cyber ini bakal sama pentingnya dengan angkatan bersenjata.


Pasalnya Joint Task Force Ares diharapkan bisa memberi efek serangan yang sama ke ISIS. Malah apa yang dilakukan pasukan cyber ini mungkin malah lebih baik karena tak harus membuat kerusakaan. Contohnya ketimbang melakukan pengeboman ke markas ISIS, Joint Task Force Ares bisa melumpuhkannya hanya dengan mematikan jalur komunikasi.

Joint Task Force Ares ditargetkan untuk beroperasi di Irak dan Suriah yang diyakini sebagai basis operasi ISIS. Meski demikian Pentagon tak menutup kemungkinan kalau ke depannya pasukan cyber bentukannya ini bisa dimanfaatkan secara global. Demikian seperti detikINET kutip dari Engadget, Minggu (17/7/2016). (Sindonews)