HOT NEWS

Tampilkan postingan dengan label Militer Inggris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Militer Inggris. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Oktober 2016

Militer Inggris Perbolehkan Pilotnya Tembak Jatuh Jet Rusia

Pilot-pilot angkatan udara Inggris dikabarkan mendapatkan lampu hijau untuk menembak jatuh jet Rusia saat melakukan misi terbang di Suriah dan Iran jika mereka merasa terancam. Kabar terbaru ini dilaporkan oleh media The Sunday Times.

Militer Inggris Perbolehkan Pilotnya Tembak Jatuh Jet Rusia

"Hal pertama yang dilakukan oleh pilot Inggris adalah mencoba untuk menghindari situasi dimana perang udara terjadi. Anda menghindari wilayah aktivitas Rusia. Namun jika pilot ditembak atau ia percaya akan ditembak, ia bisa membela diri," kata sebuah sumber di Markas Tetap Bersama Inggris (PJHQ) kepada The Sunday Times.

"Kita sekarang tengah menghadapi situasi di mana seorang pilot tunggal, terlepas dari kebangsaanya, dapat memiliki dampak strategis terhadap kejadian di masa depan," katanya lagi seperti dikutip dari Zero Hedge, Jumat (14/10/2016).


Jet tempur Tornado milik Inggris akan dipersenjatai dengan roket pencari panas AIM-132. Roket ini memiliki jangkauan yang lebih panjang dari roket lainnya, sehingga pilot angkatan udara Inggris bisa menembak jatuh pesawat musuh tanpa harus melihat target.

"Sampai sekarang, jet Tornado telah dilengkapi dengan 500lb bom yang dipandu via satelit yang tidak mempunyai atau hanya sedikit menimbulkan ancaman perang di udara. Tapi pada minggu-minggu terakhir situasi telah berubah. Kita perlu menanggapinya dengan sesuai," ujar sebuah sumber di Departemen Pertahan Inggris.

Namun, sumber lain mengatakan bahwa situasi semakin parah. "Kami perlu melindungi pilot kami tapi pada saat yang sama kami mengambil langkah lebih dekat dengan perang. Hanya perlu menembak jatuh satu pesawat dalam perang di udara maka seluruh lanskap akan berubah," katanya. (SindoNews)

Rabu, 07 September 2016

Angkatan Laut Inggris Uji Coba Speedboat Mata-mata Tanpa Awak

Angkatan laut (AL) kerajaan Inggris tengah menjelajahi perang maritim di masa depan. Mereka tengah menguji sebuah speedboat nirawak di Sungai Thames. Perahu yang mempunyai tugas pengawasan dan pengintaian itu mempunyai panjang 34 kaki dan dapat melacak target dengan kecepatan 60 mph.

Angkatan Laut Inggris Uji Coba Speedboat Mata-mata Tanpa Awak


Perahu tak bersenjata yang diberi nama Maritime Autonomy Surface Testbed (MAST) ini adalah salah satu dari 40 ptototype yang dimiliki AL Inggris. Perahu ini akan diuji dalam latihan Unmanned Warrior pada bulan Oktober mendatang di lepas pantai utara Skotlandia. MAST adalah generasi terbaru perahu yang dilengkapi sensor untuk pemandu dan misi mata-mata dikutip dari Sputniknews, Rabu (7/9/2016).

Menurut AL Inggris, MAST dapat dikendarai manusia atau dioperasikan jarak jauh atau otomatis berkat teknologi deteksi penginderaan. "Ini adalah kesempatan untuk mengambil lompatan besar dalam sistem maritim," kata Peter Pipkin, perwira AL Inggris


"Bukan mengambil alih tugas manusia tetapi untuk meningkatkan segala sesuatu yang mereka lakukan, untuk memperluas jangkauan kami, penglihatan kami, rentang waktu, dan efisiensi dengan menggunakan robot cerdas dan dapat dikendalikan di laut," sambungnya.

MAST dibuat berdasarkan lambung kapal selam Bladerunner dan dibangun untuk Departemen Pertahanan. Perahu drone ini mempunyai tekonologi yang masih dirahasiakan. Menurut Direktur Ilmu Militer di Royal United Services Institute, perahu generasi terbaru itu dibangun untuk menjalankan tugas yang "kusam, kotor, dan berbahaya", tetapi juga digunakan untuk melindungi kapal perang dari speedboat musuh.

Quintana mengklaim ada sejumlah keraguan dari pemimpin militer untuk mempersenjatai MAST. "Penggunaan sistem tak berawak untuk memberikan kekuatan mematikan masih sangat kontroversial. Ini menghadapi segala macam tantangan hukum, jadi saya pikir akan jalan yang cukup sulit," tutur Quintana. (Sindo)

Minggu, 26 Juni 2016

Brexit Berita Bagus untuk Rusia, dan Berita Buruk Untuk NATO

Satu-satunya orang yang lebih bahagia ketimbang Boris Johnson atas hengkangnya Inggris dari Uni Eropa alias Brexit bisa jadi adalah Presiden Rusia Vladimir Putin.

Kremlin telah bertahun-tahun mencoba untuk membuat celah dalam aliansi NATO dan Uni Eropa, tetapi dengan sedikit keberhasilan. Sekarang orang-orang Inggris memilih meninggalkan Uni Eropa dan keinginan Putin terpenuhi.

Brexit Berita Bagus untuk Rusia, dan Berita Buruk Untuk NATO

”Mereka (para pemimpin Rusia) minum vodka dalam jumlah berlebihan di Kremlin hari ini,” kata Derek Chollet, mantan penasihat senior di Pentagon kepada Foreign Policy, mengacu pada kebahagiaan Putin atas Brexit.

”Apa yang membuatnya menyedihkan adalah bahwa ini adalah kesalahan unforced,” kata Chollet, yang sekarang aktif di German Marshall Found, yang dilansir semalam (26/6/2016). ”Putin telah berusaha untuk memaksa divisi di Barat, tapi dia benar-benar belum berhasil dengan baik. Ini adalah keuntungan baginya tanpa dia harus melakukan sesuatu.”



Rusia terlibat ketegangan dengan Uni Eropa ketika Moskow dijatuhi sanksi atas tuduhan melakukan intervensi dalam krisis Ukraina.

”Tanpa Inggris, tidak akan ada siapa pun di Uni Eropa untuk mempertahankan sanksi terhadap kita begitu rajin,” tulis Wali Kota Moskow, Sergey Sobyanin, di Twitter.

Andrei Klimov, Wakil Ketua Komite Urusan Internasional dari Majelis Tinggi Parlemen Rusia, mengatakan kepada New York Times pada hari Jumat bahwa dia tidak berpikir Uni Eropa sekarang akan memiliki waktu untuk memikirkan sanksi lagi terkait krisis Ukraina.

Michael McFaul, mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Rusia, setuju dengan analisa tersebut. “Putin memanfaatkan kelemahan dari Eropa. Orang Inggris Raya membuat Uni Eropa lemah. Hanya sederhana,” tulis dia di Twitter.

Para pendukung Brexit berpendapat bahwa Inggris akan mampu berdiri sendiri di panggung dunia tanpa terbebani oleh birokrasi Uni Eropa atau kebutuhan untuk mengirim uang dalam jumlah besar ke Brussels setiap tahun.




Namun mantan pejabat senior AS dan analis Barat mengatakan bahwa Inggris akan lebih lemah dan lebih terisolasi sebagai akibat dari langkah Brexit.

Keputusan rakyat Inggris memilih Brexit dalam referendum pekan lalu muncul dua minggu sebelum pertemuan puncak utama NATO di Warsawa. Pertemuan itu seharusnya memfokuskan kembali perhatian aliansi dari ancaman yang ditimbulkan oleh Rusia.

Tapi hengkangnya Inggris dari Uni Eropa akan membuat NATO “sakit kepala”, karena akan menggantung pertemuan penting tersebut. Pemimpin NATO sudah berusaha untuk menenangkan saraf dalam aliansi setelah Inggris menggelar referendum Brexit.

Kendati demikian, Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengklaim baha Brexit tidak akan mengubah status Inggris dalam aliansi. “Saya tahu bahwa posisi Inggris di NATO akan tetap, tidak berubah,” kata Stoltenberg.

Tidak adanya Inggris akan berdampak akut di sektor kekuatan militer Uni Eropa yang sedang berkembang, yang dirancang untuk mengisi kesenjangan dalam misi di wilayah Afrika dan Eropa Timur di mana NATO memiliki jumlah kehadiran militer yang sangat besar.

Sedangkan Inggris hanya memainkan peran kecil dalam program dan perencanaan di Uni Eropa.”Yang selalu didasarkan pada gagasan bahwa Inggris akan menjadi kontributor penting,” kata Christopher Chivvis, Direktur Pusat Kebijakan Pertahanan dan Keamanan Internasional di RAND Corp. (Detik)

Sabtu, 25 Juni 2016

Ogah Berpisah Dari Uni Eropa, akyat London Serukan Merdeka dari Inggris

Rakyat London belum bisa menerima kemenangan pro-Brexit dalam referendum bersejarah Inggris. Mereka menyerukan London memerdekakan diri dari wilayah Inggris lainnya dan tetap bergabung dengan Uni Eropa.

Dalam referendum, London memang basis utama pendukung Inggris bertahan di Uni Eropa alias anti-Brexit. Lebih dari 2,2 juta pemilih di London memberikan suara bagi Inggris untuk bertahan di Uni Eropa.


Ogah Ber, Rpisah Dari Uni Eropa, akyat London Serukan Merdeka dari Inggris

Namun, suara London ternyata tidak bisa mengalahkan suara warga Inggris di beberapa wilayah lain yang memilih Brexit.

Warga Inggris yang frustrasi menyerukan Wali Kota  Sadiq Khan untuk memerdekakan diri dari Inggris. Seruan itu bermunculan di media sosial.
 


“London, tentu saja, suara mayoritas bertahan (di Uni Eropa). Jadi, kampanye dimulai di sini Kemerdekaan London di dalam Uni Eropa..!," tulis warga London, Richard Crowest di Twitter.

“Saatnya ingin London dikelilingi oleh air #IndependenceForLondon,” imbuh warga London lainnya, Fearghal Kelly di Twitter.




Tak hanya seruan merdeka di media sosial, warga London juga menyerukannya dalam sebuah petisi di situs Change.org yang digerakkan oleh James O'Malley. ”London adalah kota internasional, dan kami ingin tetap berada di jantung Eropa,” katanya, seperti dikutip Daily Mirror, Sabtu (25/6/2016).

”Mari kita hadapi itu. Sisa negara tidak setuju. Jadi, daripada suara pasif agresif terhadap satu sama lain pada setiap Pemilu, mari kita membuat perpisahan resmi dan bergerak dengan teman-teman kita di benua itu,” ujarnya.

Wali Kota London Sadiq Khan belum merespons seruan warganya untuk memisahkan diri dari wilayah Inggris lainnya. Perdana Menteri Inggris David Cameron yang sudah mengumumkan pengunduran dirinya telah meminta semua warga Inggris menghormati hasil referendum. (SindoNews)

Jumat, 24 Juni 2016

Keluar Dari Uni Eropa , Inggris Tetap Bagian Dari NATO

Sekretaris Jenderal (Sekjen) NATO, Jens Stoltenberg mengatakan, Inggris tetap menjadi sekutu NATO yang kuat dan posisinya dalam aliansi tidak akan diubah oleh keputusan untuk meninggalkan Uni Eropa atau Brexit.

Keluar Dari Uni Eropa , Inggris Tetap Bagian Dari NATO

"Orang-orang Inggris telah memutuskan untuk meninggalkan Uni Eropa. Seperti mendefinisikan bab berikutnya dalam hubungan dengan Uni Eropa, saya tahu bahwa posisi Inggris di NATO akan tetap tidak berubah," kata Stoltenberg dalam sebuah pernyataan.

"Inggris akan tetap kuat dan berkomitmen pada aliansi NATO dan akan terus memainkan peran utama dalam Aliansi kami. Hari ini, seperti yang kita hadapi lebih ketidakstabilan dan ketidakpastian, NATO lebih penting daripada sebelumnya sebagai platform untuk kerjasama antar Sekutu Eropa, dan antara Eropa dan Amerika Utara," bunyi pernyataan itu seperti dikutip dari Sputnik, Jumat (24/6/2016).


Pada hari Kamis, Inggris mengadakan referendum untuk menentukan nasib mereka di Uni Eropa, apakah bertahan atau hengkang. Menurut hasil akhir, 51,9 persen pemilih, atau 17,4 juta orang, memutuskan untuk mendukung Brexit, sementara sekitar 16,1 juta menentangnya. (SindoNews)

Kamis, 09 Juni 2016

Kapal Destroyer Canggih Andalan Inggris Mogok di Laut Mediterania

Kapal perang Inggris yang dibangun dengan biaya 1 miliar poundsterling atau sekitar Rp19,2 triliun mogok di Teluk Persia karena mesin rusak.

Kontraktor pembuat kapal mengklaim bahwa Kementerian Pertahanan Inggris tidak memberitahu mereka bahwa kapal perang tipe 45 destroyer dengan berat 8.000 ton itu, menghabiskan waktu yang cukup lama di Teluk Persia.


Kapal Destroyer Canggih Andalan Inggris Mogok di Laut Mediterania.jpg

Mesin kapal perang berhenti bekerja saat kapal berada di tengah laut. Hal itu membuat para awak kapal bertahan dalam kegelapan selama berjam-jam.

Mogoknya kapal perang itu membuat Kementerian Pertahanan Inggris dikecam para anggota parlemen, karena menempatkan kehidupan para tentara Inggris dalam risiko berbahaya.

Kritik keras salah satunya disampaikan oleh anggota parlemen dari Scottish National Party (SNP), Douglas Chapman.
 


”Saya benar-benar terkejut, memiliki aset satu miliar poundsterling, (tapi) Anda menempatkan ke dalam zona perang dan kami tidak tahu apakah orang-orang ini akan masuk ke sana dan pulang dalam kondisi hidup karena mungkin ada masalah dengan sistem listik. Saya tertegun,” katanya.

Tomas Leahy dari Rolls Royce, kontraktor yang memproduksi mesin kapal perang tersebut, mengatakan kepada Komite Pertahanan bahwa perusahaan telah membuat mesin sesuai dengan spesifikasi yang disediakan.

”Apakah kondisi yang dialami di Teluk sejalan dengan spesifikasi? Tidak, mereka tidak," katanya, seperti dikutip dari IB Times, Kamis (9/6/2016). "Jadi peralatan yang harus beroperasi dalam kondisi jauh, lebih sulit daripada yang diperlukan pada awalnya,” lanjut dia. (SindoNews)

Jumat, 27 Mei 2016

73 Tahun Hilang, Kapal Selam Inggris Ditemukan dengan 71 Jasad

Para penyelam Italia menemukan kapal selam milik Inggris yang telah menghilang selama 73 tahun di lepas pantai Sardinia pekan ini. Kapal selam yang digunakan dalam Perang Dunia II ini ditemukan dengan 71 jasad di dalamnya.

Dilaporkan The Independent, kapal selam P311 secara misterius menghilang sekitar 73 tahun lalu di Mediterania. Kapal selam ini kemudian ditemukan pada kedalaman 100 meter di kepulauan Tavolara oleh seorang pemburu kapal Italia, Massimo Domenico Bordone.


73 Tahun Hilang, Kapal Selam Inggris Ditemukan dengan 71 Jasad

Kapal tersebut ditemukan setelah Bardone melihat sebuah benda dengan panjang 84 meter dan lebar 80 meter ketika meneliti di kedalaman 80 meter.

HMS P311 hilang pada Januari 1943, setelah melakukan kontak terakhir pada malam tahun baru, bersama dengan seluruh awaknya. Penemuan ini juga mengonfirmasi seluruh awak yang berada di dalam kapal selam itu tewas.


Kapal tersebut berada di dasar laut Gallurese, dan bagaikan peti mati dari baja bagi para awak di dalamnya yang kekurangan oksigen. Para pakar menduga bahwa ruangan di dalam kapal selam itu tidak dibanjiri air ketika tenggelam.

"Sepertinya [kapal itu] tenggelam dengan udara terperangkap di dalamnya, berarti para awak tewas karena kekurangan oksigen," kata Bardone kepada surat kabar Italia, La Nuova Sardegna.

Kapal tersebut berangkat dari Malta pada 28 Desember 1942 dalam misi untuk menghancurkan kapal perang Italia, Trieste dan Gorizia, di pelabuhan Maddlena, yang terletak di pulau dengan nama yang sama di Sardinia.

Para pejabat menduga kapal selam P311 tenggelam setelah menghantam tambang di teluk Olbia, sebelah timur laut Sardinia.

Bardone menemukan kapal tersebut dalam kondisi yang masih sempurna, kecuali area yang rusak pada haluan kapal.

Angkatan Laut Kerajaan Inggris menyatakan kapal tersebut kemungkinan besar tidak dipindahkan, meski puluhan jasad berada di dalamnya. (CNN)

Minggu, 08 Mei 2016

Seekor Anjing Selamatkan Pasukan SAS dari Kepugan ISIS

Seekor anjing jenis alsatian atau gembala jerman didaulat sebagai pahlawan setelah ikut menyelamatkan pasukan khusus Inggris, SAS, yang dikepung ISIS di Irak.

Menurut sejumlah laporan, sebuah konvoi kendaraan milik pasukan SAS baru saja kembali dari menggelar latihan 10 hari bersama pasukan Peshmerga Kurdi di Irak.


Seekor Anjing Selamatkan Pasukan SAS dari Kepugan ISIS

Saat sedang menuju ke pangkalan mereka, di tengah jalan konvoi yang terdiri dari empat mobil itu dihadang pasukan ISIS.

Salah satu mobil milik SAS itu bahkan hancur dihantam bom pinggir jalan dan membuat pasukan terpaksa harus meninggalkan mobil itu dan mencari perlindungan.


Saat itu, pasukan SAS dikepung dan diserang sedikitnya 50 anggota pasukan ISIS bersenjata berat dan sudah bersiap menjalani pertempuran hidup mati.

Pasukan SAS terkepung dan terpisah dalam tiga lokasi. Mereka juga dihujani tembakan senapan mesin yang dipasang di atas sebuah mobil bak terbuka Toyota.

Pasukan SAS sebenarnya bisa memanggil dukungan udara, tetapi dalam kondisi saat itu, risiko tewas akibat tembakan jet koalisi juga sangat besar.

Saat itulah seorang prajurit AS yang terlibat dalam latihan bersama SAS dan Peshmerga, kemudian melepaskan anjing gembala jerman yang dibawanya dan diperintahkan menyerang pasukan ISIS.

Tanpa menunggu perintah kedua, anjing itu melesat tanpa ragu ke arah para penyerang. Sejumlah anggota ISIS berusaha menembak anjing itu, tetapi entah bagaimana semua tembakan itu meleset.

Setelah berada di dekat salah satu anggota ISIS, anjing itu melompat dan langsung menggigit leher serta wajah orang tersebut.

Setelah korbannya tak berdaya, anjing tersebut menyerang seorang lagi anggota ISIS dan merobek kaki serta lengannya. Kedua orang itu akhirnya memilih kabur akibat luka mereka yang cukup parah.

Seorang sumber militer mengatakan, dalam operasinya, terkadang SAS memang membawa anjing yang digunakan dalam sebuah penyerangan atau memasuki gedung sebelum diikuti pasukan.

"Anjing yang terlatih bisa merasakan ketegangan dan memiliki tujuan melumpuhkan musuh untuk melindungi pawang dan pasukannya," ujar sumber itu.

"Saat anjing itu dilepaskan, maka dia akan menyerang tanpa memikirkan keselamatannya sendiri. Untuk itulah mereka dilatih," tambah dia.

Pasukan SAS itu akhirnya selamat setelah dua jet tempur AS datang, menyerang, dan memaksa pasukan ISIS itu mundur. Si anjing berani itu juga dikabarkan selamat tanpa menderita luka sedikit pun.

Kabar ini muncul beberapa hari setelah seorang anggota pasukan khusus AS tewas di kawasan yang sama tempat pasukan SAS beroperasi. (Kompas)

Jumat, 06 Mei 2016

Kapal Kecil Spayol Ganggu Selam Nuklir Amerika Serikat

Kapal-kapal Angkatan Laut Inggris meluncurkan tembakan peringatan terhadap kapal Spanyol karena mengganggu kapal selam nuklir Amerika Serikat (AS) di kawasan Gibraltar.

Angkatan Laut Inggris menyebarkan kapal penyerang HMS Sabre yang kemudian meluncurkan tembakan peringatan terhadap kapal Rio Cedena, sebuah kapal kecil Spanyol. Kapal Spanyol itu sudah mengganggu kapal selam nuklir AS, USS Florida yang panjangnya mencapai 560 kaki.


Kapal Kecil Spayol Ganggu Selam Nuklir Amerika Serikat

Insiden itu sejatinya terjadi pada bulan April. Namun, baru diungkap militer Inggris Kamis kemarin.

“Ini bukan hanya permainan yang sangat berbahaya bagi Spanyol untuk bermain-main, tapi itu tak pantas dari sekutu NATO untuk mengganggu Angkatan Laut AS dengan penghinaan seperti itu,” kata sumber Angkatan Laut Inggris yang dikutip The Sun.
 


”Angkatan Laut AS menjamin keamanan laut Mediterania untuk semua (anggota) NATO dan seharusnya dapat mengunjungi port yang diinginkan, apakah itu Gibraltar atau bukan,” lanjut sumber itu.

Inggris menganggap Gibraltar sebagai wilyahnya di luar negeri di bawah “Perjanjian Utrecht 1713”. Namun, Spanyol tidak pernah melepaskan klaim atas kawasan itu.

Pulau di Mediterania, yang dikenal sebagai ”the Rock”, dijaga ketat militer dengan resimen "kolonial" yang dibentuk dari Angkatan Darat Inggris, unit artileri khusus, serta Angkatan Laut yang kuat.

Kementerian Pertahanan (MoD) Inggris melalui juru bicaranya mengatakan kepada Daily Mail, bahwa kementerian tidak mengomentari ”langkah-langkah perlindungan atau operasi kapal selam”. (SindoNews)