HOT NEWS

Tampilkan postingan dengan label ISIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISIS. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 September 2016

ISIS Tembak Jatuh Pesawat Tempur Suriah

Sebuah jet militer Suriah ditembak jatuh selama misi tempur melawan Negara Islam (ISIS) dekat kota Suriah timur Deir al-Zor. Kabar itu dilaporkan kantor berita negara Suriah, SANA, mengutip sumber militer. Menurut sumber tersebut, kemungkinan pilot pesawat tewas dalam insiden tersebut.

ISIS Tembak Jatuh Pesawat Tempur Suriah

Angkatan Udara Suriah tengah melakukan "serangan udara terkonsentrasi" pada posisi ISIS di lingkungan Deir al-Zor yaitu Gunung al-Tharda, al-Orfi dan al-Kanamat.

Dikutip dari Russia Today, Minggu (18/9/2016), ISIS dilaporkan mengaku bertanggung jawab telah menembak pesawat tersebut. Pernyataan itu dimuat dalam akun media sosial yang berafiliasi dengan kelompok teroris itu.

Insiden itu terjadi hanya sehari setelah 62 tentara Suriah tewas dan 100 lainnya cedera di luar Deir al-Zor dalam serangan udara koalisi pimpinan AS. Kantor berita Suriah SANA melaporkan ISIS lantas melancarkan serangan tak lama setelah posisi tentara Suriah diserang dari udara.

AS mengatakan bahwa serangan itu "tidak disengaja", sementara Rusia mengatakan bahwa tindakan pasukan AS berada diantara antara kelalaian dan bantuan langsung kepada ISIS. (SindoNews)

Minggu, 17 Juli 2016

Lawan Peretas ISIS Pentagon Kembangkan Malware

Serangan ISIS tak cuma dalam aksi nyata, organisasi yang bertanggung jawab atas banyak teror ini juga bergerak di dunia maya. Demi menghambatnya, Pentagon pun mengembangkan malware khusus.

Pentagon Kembangkan Malware untuk Lawan ISIS

Informasi ini disampaikan oleh salah seorang petinggi Pentagon bernama Michael S. Rogers yang menjabat sebagai US Cyber Command chief Administration. Dijelaskan, institusi tempatnya bernaung telah menyiapkan tim khusus yang akan bekerja untuk mengembangkan sebuah tool untuk melawan pergerakan ISIS di dunia maya.

Tool tersebut digarap dalam bentuk malware dan sesuatu yang disebutnya senjata digital. Pentagon menamai tim khusus yang menanganinya dengan panggilan Joint Task Force Ares. Menurut pihak Pentagon, keberadaan pasukan cyber ini bakal sama pentingnya dengan angkatan bersenjata.


Pasalnya Joint Task Force Ares diharapkan bisa memberi efek serangan yang sama ke ISIS. Malah apa yang dilakukan pasukan cyber ini mungkin malah lebih baik karena tak harus membuat kerusakaan. Contohnya ketimbang melakukan pengeboman ke markas ISIS, Joint Task Force Ares bisa melumpuhkannya hanya dengan mematikan jalur komunikasi.

Joint Task Force Ares ditargetkan untuk beroperasi di Irak dan Suriah yang diyakini sebagai basis operasi ISIS. Meski demikian Pentagon tak menutup kemungkinan kalau ke depannya pasukan cyber bentukannya ini bisa dimanfaatkan secara global. Demikian seperti detikINET kutip dari Engadget, Minggu (17/7/2016). (Sindonews)

Sabtu, 02 Juli 2016

Serangan Udara Koalisi AS Tewaskan 2 Pentolan ISIS

Juru bicara Pentagon mengatakan, sebuah serangan koalisi udara yang dipimpin Amerika Serikat (AS) menewaskan wakil menteri dan seorang komandan militer ISIS. Serangan itu terjadi pada 25 Juni lalu di Mosul, Irak.

Serangan Udara Koalisi AS Tewaskan 2 Pentolan ISIS

"Kematian mereka, bersam dengan serangan terhadap para pemimpin ISIS lainnya pada bulan lalu, memberikan pukulan kritis kepada ISIS terkait keberadaan pemimpin berpengalaman di Mosul dan menyingkirkan dua anggota paling senior mereka di Irak Utara," kata Peter Cook dal

am sebuah pernyataan seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (2/7/2016).

Cook mengatakan, serangan yang terjadi di dekat Mosul menewaskan Wakil Menteri Perang ISIS Basim Muhammad Ahmad Sultan al-Bajari. Ia adalah sosok yang mengawali penangkapan terhadap kelompok militan dari Mosul pada 2014.


"Anggota ISIS lainnya yang tewas dalam serangan itu adalah Hatim Talib al-Hamduni, seorang komandan militer di Mosul," imbuh Cook.

Pada bulan Juni, militer Irak mengklaim kemenangan dalam ofensif yang didukung AS melawan pasukan ISIS di Fallujah dan mengatur strategi serangan ke Mosul, kota terbesar kedua di Irak, yang juga di kuasai oleh ISIS. (SindoNews)

Kamis, 16 Juni 2016

Intelijen : ISIS Tengah Berusaha Gelar Operasi di Negara Barat

Direktur Badan Intelijen Amerika Serikat (AS) atau CIA, John Brennan menuturkan, ISIS sedang berusaha untuk melakukan operasi di negara-negara Barat, khususnya AS. ISIS, menurut Brennan, kemungkinan besar akan menggunakan strategi gerilia dalam melakukan aksinya.

CIA ISIS Tengah Berusaha Gelar Operasi di Negara Barat

Dalam sambutan yang disiapkan untuk Komite Intelijen Senat, Brennan mengatakan, ISIS sedang bekerja untuk membangun suatu alat guna mengarahkan dan mengilhami serangan terhadap musuh asing, seperti dalam serangan baru-baru ini di Paris dan Brussels.

"ISIS memiliki kader asal Barat yang berpotensi menjadi alat untuk melakukan serangan di Barat. ISIS mungkin bekerja untuk menyelundupkan mereka ke negara-negara, mungkin di antara arus pengungsi atau melalui perjalanan yang sah," ucapnya, seperti dilansir Al Arabiya pada Kamis (16/6).


Sementara itu, di kesempatan yang sama dia juga mengatakan ISIS secara bertahap mengembangkan berbagai cabang ke dalam jaringan interkoneksi. Cabang di Libya, lanjut Brennan, adalah kemungkinan yang paling canggih dan paling berbahaya.

"ISIS juga sedang berusaha meningkatkan pengaruhnya di Afrika. Cabang ISIS di Sinai telah menjadi kelompok teroris paling aktif di Mesir, menyerang militer dan pemerintah Mesir, di samping orang asing dan wisatawan, seperti jatuhnya sebuah jet penumpang Rusia Oktober lalu," sambungnya.

"Cabang lain telah berjuang untuk mendapatkan traksi. Cabang Yaman misalnya, telah terbelah dengan faksionalisme, dan cabang Afghanistan-Pakistan telah berjuang untuk mempertahankan kohesi yang, sebagian karena persaingan dengan Taliban," imbuhnya. (SindoNews)

Jumat, 03 Juni 2016

Basmi ISIS Kelompok Victor Maulana, Irak Minta Dukungan Rusia

Duta Besar Irak untuk Amerika Serikat (AS), Lukman Faily menyatakan, pihaknya saat ini terus mencari dukungan dari semua pihak, termasuk di dalamnya Rusia untuk membantu mereka melawan ISIS. Irak saat ini tengah berusaha keras merebut kembali Fallujah dari tangan ISIS.

Basmi ISIS Kelompok Victor Maulana, Irak Minta Dukungan Rusia

"Kami telah mencari dukungan dari pihak lain, termasuk Rusia, dan terutama dalam ketentuan dan pembelian senjata dan kami akan terus melakukan hal itu," ucap Faily, seperti dilansir Sputnik pada Jumat (3/6).

Dirinya juga mengungkap alasan mengapa Baghdad mencari dukungan kepada Rusia untuk melawan ISIS. Menurutnya, Rusia adalah salah satu pemain kunci dalam upaya perlawanan terhadap ISIS, baik di Irak ataupun Suriah.
 


"Kami akan senang untuk bekerja sama dengan mereka (Rusia), kami akan membeli sejumlah senjata. Kami memiliki beberapa tingkat kerjasama, tingkat yang lebih rendah adalah diskusi mengenai berbagai data intelijen dan keamanan," ucapnya.

Meski meminta dukungan dari Rusia, Falily menyebut sampai saat ini AS masih tetap menjadi mitra utama Irak dalam melawan ISIS. "Tapi, mitra internasional utama kita adalah AS, mitra koalisi dan kami akan lebih berfokus pada mereka," imbuhnya. (SindoNews)

Koalisi AS Beri Bantuan Amunisi Untuk Pemberontak Suriah

Sejumlah pesawat pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS) menjatuhkan amunisi untuk pemberontak Suriah guna memerangi ISIS di Aleppo utara. Pasukan pemberontak berusaha untuk mencegah kelompok ekstrimis itu memasuki kota Marea.

Koalisi AS Beri Bantuan Amunisi Untuk Pemberontak Suriah

"Dalam waktu 24 jam, pesawat koalisi menerjunkan amunisi, senjata ringan, dan senjata anti tank ke pemberontak di Marea," kata pemimpin Observatorium Suriah untuk HAM, Rami Abdel Rahman.

Menurut Rahman, itu adalah pertama kalinya koalisi mengirimkan bantuan untuk kelompok pemberontak, selain Kurdi, seperti dikutip dari Al Arabiya, Jumat (3/6/2016).


Namun kabar itu dibantah oleh seorang pejabat pertahanan AS. Ia membenarkan jika pasukan koalisi memberikan bantuan amunisi, namun tidak termasuk senjata ringan dan senjata anti tank.

Anggota kelompok ekstrimis ISIS menyapu wilayah yang dikuasai kelompok pemberontak dalam serangkaian serangan mengejutkan di Provinsi Aleppo akhir bulan lalu. Mereka juga memotong jalan utama antara Marea dan Azaz, dua benteng utama kelompok pemberontak di provinsi tersebut. (SindoNews)

Kamis, 19 Mei 2016

ISIS Eksekusi Mati Mata-mata wanita Rusia

Perempuan mata-mata Rusia dieksekusi militan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) usai berpura-pura menjadi pengikut mereka selama empat tahun. Elvira Karaeva (28) dilaporkan memiliki empat suami jihadis yang masing-masing tewas secara misterius.

ISIS Eksekusi Mati Mata-mata wanita Rusia

Diberitakan koran the Daily Mail, Kamis (19/5), sepanjang aksinya menyelinap bersama kelompok militan, banyak informasi yang dibocorkan kepada Rusia, termasuk pembunuhan tujuh militan adalah info darinya. Karaeva dicap ISIS sebagai 'janda hitam', lantaran memiliki tujuan membunuh tiap pria yang menikahinya.

Aslanbek Saraliyev, Suami pertama yang menikahinya di usia 19 tahun, tewas usai berjalan bersamanya di dalam hutan. Adam Shakhbiev, suami ke dua ini terbunuh di dalam sebuah taksi bersama saudara laki-lakinya.


Pejuang ISIS lain yang menjadi suaminya adalah Arthur Amriev, dia menghilang bak ditelan bumi dengan nasib tidak diketahui hingga kini. Terakhir adalah Abu Muslim. Militan yang paling terakhir memperistrik Karaeva ini tewas usai diracun.

ISIS mengklaim Karaeva telah memberikan seluruh laporan kepada Badan Intel Rusia terkait identitas, tempat persembunyian, dan markas. Kabar eksekusi Karaeva muncul di blog berbahasa Rusia ISIS, Istok. (Merdeka)

Minggu, 08 Mei 2016

Seekor Anjing Selamatkan Pasukan SAS dari Kepugan ISIS

Seekor anjing jenis alsatian atau gembala jerman didaulat sebagai pahlawan setelah ikut menyelamatkan pasukan khusus Inggris, SAS, yang dikepung ISIS di Irak.

Menurut sejumlah laporan, sebuah konvoi kendaraan milik pasukan SAS baru saja kembali dari menggelar latihan 10 hari bersama pasukan Peshmerga Kurdi di Irak.


Seekor Anjing Selamatkan Pasukan SAS dari Kepugan ISIS

Saat sedang menuju ke pangkalan mereka, di tengah jalan konvoi yang terdiri dari empat mobil itu dihadang pasukan ISIS.

Salah satu mobil milik SAS itu bahkan hancur dihantam bom pinggir jalan dan membuat pasukan terpaksa harus meninggalkan mobil itu dan mencari perlindungan.


Saat itu, pasukan SAS dikepung dan diserang sedikitnya 50 anggota pasukan ISIS bersenjata berat dan sudah bersiap menjalani pertempuran hidup mati.

Pasukan SAS terkepung dan terpisah dalam tiga lokasi. Mereka juga dihujani tembakan senapan mesin yang dipasang di atas sebuah mobil bak terbuka Toyota.

Pasukan SAS sebenarnya bisa memanggil dukungan udara, tetapi dalam kondisi saat itu, risiko tewas akibat tembakan jet koalisi juga sangat besar.

Saat itulah seorang prajurit AS yang terlibat dalam latihan bersama SAS dan Peshmerga, kemudian melepaskan anjing gembala jerman yang dibawanya dan diperintahkan menyerang pasukan ISIS.

Tanpa menunggu perintah kedua, anjing itu melesat tanpa ragu ke arah para penyerang. Sejumlah anggota ISIS berusaha menembak anjing itu, tetapi entah bagaimana semua tembakan itu meleset.

Setelah berada di dekat salah satu anggota ISIS, anjing itu melompat dan langsung menggigit leher serta wajah orang tersebut.

Setelah korbannya tak berdaya, anjing tersebut menyerang seorang lagi anggota ISIS dan merobek kaki serta lengannya. Kedua orang itu akhirnya memilih kabur akibat luka mereka yang cukup parah.

Seorang sumber militer mengatakan, dalam operasinya, terkadang SAS memang membawa anjing yang digunakan dalam sebuah penyerangan atau memasuki gedung sebelum diikuti pasukan.

"Anjing yang terlatih bisa merasakan ketegangan dan memiliki tujuan melumpuhkan musuh untuk melindungi pawang dan pasukannya," ujar sumber itu.

"Saat anjing itu dilepaskan, maka dia akan menyerang tanpa memikirkan keselamatannya sendiri. Untuk itulah mereka dilatih," tambah dia.

Pasukan SAS itu akhirnya selamat setelah dua jet tempur AS datang, menyerang, dan memaksa pasukan ISIS itu mundur. Si anjing berani itu juga dikabarkan selamat tanpa menderita luka sedikit pun.

Kabar ini muncul beberapa hari setelah seorang anggota pasukan khusus AS tewas di kawasan yang sama tempat pasukan SAS beroperasi. (Kompas)