HOT NEWS

Tampilkan postingan dengan label Kerjasama Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kerjasama Internasional. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Juni 2017

TNI Optimalkan Pengamanan Barack Obama Selama Liburan DI Indonesia

Korem 072/Pamungkas Yogyakarta akan semaksmimal mungkin menjaga mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, yang akan berlibur di sana mulai besok (28/6). Walau bukan lagi menjadi presiden, namun Secret Service masih menjaga dia dan keluarganya.


Obama dan istrinya, Michelle, dan kedua anak perempuannya, Sasha dan Malia, masih berada di Bali. Mereka berlibur di Bali, di antaranya berjalan-jalan di sawah di desa-desa setempat, arung jeram di Sungai Ayung, dan lain-lain.

"Hari ini kami telah menggelar rapat koordinasi kesiapan kedatangan Barack Obama ke Yogyakarta," kata Komandan Korem 072/Pamungkas, Brigadir Jenderal TNI Fajar Setyawan, di Yogyakarta, Selasa.

Demi keamanan dan keselamatan Obama dan keluarganya, dia merahasiakan rute kunjungan itu.

Menurut rencana, Obama akan ada di Yogyakarta sejak Rabu besok hingga 30 Juni nanti. Dia juga akan menjadi pembicara utama pada sidang besar diaspora Indonesia, di Jakarta, pada 1 Juli nanti.

Obama, dalam kunjungan resminya sebagai presiden Amerika Serikat di Jakarta, pada November 2011, pernah berkata bahwa dia akan kembali lagi ke Indonesia.

Saat itu, di depan hadirin mahasiswa, dia sangat fasih mengenang masa kecilnya di bilangan Menteng Dalam, Jakarta Pusat. Malahan dia menirukan suara tukang sate keliling menjajakan dagangannya, dan mengulas sedikit tentang bakso, yang dia bilang enak rasanya.

Juga tentang Sarinah, yang dia bilang bahwa itulah satu-satunya gedung tinggi toserba di Jakarta yang ada saat dia tinggal di Jakarta.

Obama pernah tinggal di Jakarta saat dia masih bocah bersama ibu kandungnya, dan ayah tirinya yang seorang WNI. Dia bersekolah di Jakarta dan oleh teman-temannya, dia dipanggil Barry.  (Antara)

Jumat, 18 November 2016

Sengketa perbatasan dengan Australia, Timor Leste minta bantuan RI

Parlemen Timor Leste mengadakan pertemuan bilateral dengan Parlemen Indonesia di sela sela agenda Inter-Parliamentary Union di Jenewa, Swiss. Ketua Parlemen Timor Leste Aderito Da Costa meminta bantuan kepada Indonesia untuk ikut menyelesaikan sengketa perbatasan mereka dengan Australia.

Sengketa perbatasan dengan Australia, Timor Leste minta bantuan RI

Saat ini sengketa perbatasan di wilayah kaya minyak dan gas alam tersebut sudah didaftarkan Timor Leste di Pengadilan Arbitrase Den Haag, Belanda.

"Kami meminta Indonesia membantu kami untuk memenangkan sengketa ini," kata Da Costa di Jenewa, Swiss (25/6).


Pembicaraan Da Costa dengan Wakil Ketua DPR Fadli Zon berlangsung dalam Bahasa Indonesia. Da Costa mengaku dari era Presiden SBY dan Presiden Jokowi, komunikasi antar kedua negara berkembang dengan sangat baik.

Menanggapi permintaan tersebut, parlemen Indonesia berjanji membantu Timor Leste menyelesaikan sengketa perbatasan dengan Australia.

"Indonesia juga mendukung Timor Leste segera menjadi anggota penuh ASEAN," kata Fadli Zon. (Merdeka)

Selasa, 23 Agustus 2016

Bersengketa Dengan Australia, Timor Leste Minta Bantuan Indonesia

Indonesia menegaskan komitmennya untuk mendukung Timor Leste dalam sengketa batas laut dengan Australia. Komitmen ini disampaikan Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto usai melakukan pertemuan dengan Mantan Perdana Menteri Timor Leste Xanan Gusmao, Minggu, 21 Agustus 2016 malam.

Bersengketa Dengan Australia, Timor Leste Minta Bantuan Indonesia

Wiranto menyampaikan dalam pertemuannya dengan Xanana Gusmao juga membahas berbagai persoalan, termasuk menyangkut batas kedua negara dan perekonomian.

"Beliau (Xanana) datang membincangkan hal-hal penting diantara kedua negara," ujar Wiranto, Jakarta, Senin (22/8 2016).


Sementara Xanana menyampaikan rencananya Pemerintah Timor Leste untuk datang ke Pangadilan Internasional Den Hag Belanda terkait sengketa batas maritim dengan Australia tersebut. "Minggu depan saya akan ke Belanda berunding disana," jelas Xanana.

Sengketa batas maritim Timor Leste dengan Australia sudah terjadi sejak lama. Sengketa ini dianggap menimbulkan kerugian miliaran dolar dari keuntungan eksplorasi kilang minyak dan lapangan gas lepas pantai di Laut Timor. (SindoNews)

Senin, 27 Juni 2016

Video Penumpang Singapore Airlines Abadikan Mesin yang Terbakar dari Dalam Pesawat

Seorang penumpang Singapore Airlines SQ368 mengabadikan momen saat mesin sebelah kanan pesawat Boeing 777-300ER terbakar. Video tersebut diambil sesaat setelah pesawat  mendarat di bandara Changi, Singapura.


Dalam insiden itu semua penumpang yang berjumlah 222 dan 19 orang kru berhasil diselamatkan. “Seluruh penumpang telah diturunkan dan dibawa ke terminal dengan bus. Selanjutnya, penumpang akan diterbangkan dengan pesawat lain ke Milan (Italia).” Demikian pernyataan resmi pihak Singapore Airlines (27/6/2016).




Insiden itu bermula dari kecurigaan pilot terhadap adanya gangguan pada mesin pesawat setelah dua jam terbang dari bandara Changi. Pilot disebutkan menerima laporan adanya masalah di oli mesin sebelah kanan dari sistem penerbangan. Pilot pun memutuskan untuk Return to Base. Begitu mendarat, mesin mengeluarkan api.




Mesin yang terbakar itu teridentifikasi buatan General Electric jenis GE90. Pihak Singapore Airlines masih mendalami penyebab pasti insiden ini. (Angkasa | youtube)

Minggu, 12 Juni 2016

Tahun 2016 Perdagangan Alutsista global diprediksi sentuh USD 69 miliar

Perdagangan alat utama sistem pertahanan (Alutsista) global berpotensi mencapai USD 69 miliar pada 2016. Itu bakal menjadi rekor tertinggi lantaran penjualan tahun lalu menyentuh USD 65 miliar.

Demikian diungkap IHS Jane dalam laporan terbarunya, seperti diberitakan CNBC, Senin (13/6).


Tahun 2016 Perdagangan Alutsista global diprediksi sentuh USD 69 miliar

Ditengarai, lonjakan penjualan tersebut disulut sejumlah faktor. Diantaranya, peningkatan ketegangan di sejumlah wilayah, termasuk Laut China Selatan, permintaan yang konsisten dari Timur Tengah, dan kebangkitan industri pertahanan Prancis.

Importir alutsista tertinggi tetap dipegang Timur Tengah. Total pembelian negara-negara di wilayah tersebut mencapai USD 21,6 miliar pada 2015.


Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, keduanya mengimpor alutsista senilai USD 11,4 miliar atau sekitar 17,5 persen dari total pembelian global. Itu lebih dari penggabungan angka pembelian seluruh negara Eropa Barat. Dan, meningkat ketimbang pembelian tahun sebelumnya sebesar USD 8,6 miliar.

Ini jelas menguntungkan Amerika Serikat sebagai eksportir utama untuk Timur Tengah. Sebab, Paman Sam tetap menggenggam status sebagai eksportir alutsista terbesar di dunia dengan penjualan sebesar USD 22,9 miliar meningkat ketimbang 2009 yang sebesar USD 12,9 miliar.

Analis IHS Ben Moores mengatakan kejutan datang dari industri pertahanan Prancis. Negara multietnis itu berhasil mencetak penjualan sebesar USD 18 miliar, naik ketimbang tahun sebelumnya sebesar USD 8 miliar.

"Prancis sangat mengesankan. Hampir tak pernah terdengar ada negara eksportir yang berhasil meningkatan penjualannya lebih dari dua kali lipat dalam 24 bulan.

Lagi-lagi ini berkat permintaan dari Timur Tengah. Prancis dinilai memiliki keunggulan dalam hal pengiriman barang yang lebih cepat ketimbang Amerika Serikat.

Jika konsisten, Prancis diramalkan bakal menyalip Rusia sebagai eksporter kedua terbesar di dunia pada 2018.

Di sisi lain, sejumlah negara di Asia Pasific telah mengakselerasi belanja pertahanannya. Ini dalam rangka mengatisipasi ancaman dari China terkait konflik Laut China Selatan.

Impor alutsista ke kawasan tersebut meningkat 71 persen ketimbang 2009. Dimana Korea Selatan melakukan pembelian sebesar USD 2,18 miliar. Menjadikan Negara Ginseng itu sebagai importir terbesar kelima di dunia.

Sementara, Australia mengimpor sebesar USD 2,3 miliar, terbesar ketiga.

Pasar senjata masih berpotensi membesar. Ini lantaran negara-negara baltik atau pecahan Uni Soviet tengah meningkatkan keamanannya seiring konflik dengan Rusia.

"Estonia and Latvia membuka kontrak murni lantaran di dorong oleh persoalan dengan Rusia dan keterlibatan Moskow di Ukraina," kata Moores. (SindoNews)

Kamis, 19 Mei 2016

Kontingen AASAM Amerika Serikat Tak Berkutik Hadapi Kemampuhan Militer Asia

Sebuah prestasi gemilang kembali dibukukan Tentara Nasional Indonesia (TNI), mereka berhasil menyabet sebagian besar emas dalam lomba menembak internasional di ajang Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) 2016. Tak hanya itu, TNI juga berpeluang mempertahankan gelar juara umum untuk kedelapan kalinya.


Yang paling membanggakan, prestasi yang mereka bukukan berhasil melampaui peserta dari negara-negara maju. Bahkan dua perwakilan dari AS, hanya satu yang berhasil menyumbangkan medali, yakni USMC dengan satu medali perunggu. Angkatan Darat AS belum sekalipun menyumbangkan medali.

Dalam ajang tersebut, Angkatan Darat AS menerjunkan Team Bayonet. Tim tersebut berusaha melakukan yang terbaik namun belum sekalipun berhasil menyabet emas.


Mereka adalah Staf Sersan John Flynn dan Spc James Griswold, keduanya berasal dari Batalion Pertama, Resimen Infantri Ke-17, Brigade Tim Tempur Kedua, Divisi Infantri Kedua, yang merupakan bagian dari Team Bayonet. Tim ini terdiri atas 18 anggota, yang ikut berkompetisi melawan 16 negara di ajang Australian Army Skills at Arms Meeting.

Ajang ini pertama kali diikuti oleh Divisi Infantri ketujuh AS, serta satu-satunya yang mewakili AS di ajang internasional. Sejauh ini, mereka sudah melalui 84 pertandingan, termasuk tiga kategori utama, yakni Kompetisi Sniper Terbuka, Kompetisi Menembak Untuk AD, AL dan AU, serta Kompetisi Internasional.

"Kami sudah menyelesaikan sebagian di antaranya. Kami bukan penembak runduk terbaik, tapi kami bukan yang terburuk" ujar Griswold, demikian dilansir situs resmi Angkatan Darat AS army.mil, Rabu (18/5).

Tim Bayonet menghabiskan waktu hingga delapan jam sehari, selama dua minggu, untuk mengasah kemampuan senapan dan pistol, mempersiapkan senjata selama kompetisi serta mempelajari paduan kompetisi AASAM.

"Tidak ada satupun dari kami yang pernah bertanding di AASAM sebelumnya, jadi agak membingungkan. Kami menggunakan dua minggu untuk mengetahui apa yang dilakukan selama pertandingan dan berlatih yang kami bisa, mengetahuinya butuh waktu dua hari untuk berlatih sebelum kompetisi dimulai," lanjut Flynn.

Tahun ini, kompetisi melibatkan sejumlah negara dari Eropa, Australia, Asia dan Amerika Utara. Para kontestan berlomba dengan menggunakan pistol, senapan, senapan penembak runduk dan senapan mesin standar militer.

AASAM menggunakan skenario realistis dengan menggunakan target yang digerakkan mobil remot kontrol yang dipasangi target berbentuk kertas atau balon. Mobil remot tersebut bisa bergerak dengan kecepatan sampa 35 mph, pelan, ngebut, berbelok mendadak dan berhenti saat terkena tembak.

"Secara keseluruhan kompetisi ini sangat baik. Banyak pertandingan yang menguji kemampuan kami untuk menembak dalam posisi berbeda dan membidik lebih dari satu target," kata Flynn.

Sayangnya, kompetisi ini mewajibkan seluruh perserta untuk tidak melakukan kesalahan apapun yang berakibat kehilangan poin. Meski belum menunjukkan kualitasnya, Flynn berharap untuk kembali lagi dalam kompetisi yang sama di tahun berikutnya.

"Mungkin satu orang dari Tim Bayonet bisa membantu latihan tahun depan." (Merdeka).


Berikut Perolehan medali sementara:1. Indonesia: 18 emas, 8 perak, 4 perunggu.
2. China: 6 emas, 12 perak , 4 perunggu.
3. Jepang: 4 emas, 3 perak, 1 perunggu.
4. Thailand: 1 emas, 3 perak, 4 perunggu.
5. Canada: 1 emas, 1 perak, 4 perunggu.
6. New Zealand: 1 emas, 1 perak.
7. Anzac: 1 emas, 1 perunggu.
8. Korea Selatan: 1 emas.
9. Singapura: 1 emas.
10. UK: 2 perak , 4 perunggu.
11. Malaysia: 1 perak, 2 perunggu.
12. Brunei: 1 perak, 1 perunggu.
13. USMC: 1 perunggu.
14. Australia: -
15. US Army: -
16. Prancis: -
17. Tonga: -
18. Timur leste: -
19. PNG: -
20. Uni Emirat Arab: -