HOT NEWS

Tampilkan postingan dengan label Jerman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jerman. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Juni 2016

Menhan Jerman : NATO dan Rusia Harus Terbuka Soal Penempatan Pasukan

Menteri Pertahanan Jerman, Ursula von der Leyen mengatakan, NATO dan Rusia harus saling terbuka mengenai penempatan pasukan mereka. Hal ini perlu dilakukan guna mencegah eskalasi lebih lanjut antara kedua belah pihak.

Menhan Jerman NATO dan Rusia Harus Terbuka Soal Penempatan Pasukan.jpg

Ursula menuturkan, NATO dan Rusia harus membuka komunikasi, dan mulai berbagai data mengenai penempatan atau penempatan ulang pasukan mereka di seluruh Eropa. Menurutnya, NATO sejatinya ingin memiliki hubungan baik dengan Rusia.




"Tentu saja, kita perlu hubungan yang lebih baik dengan Rusia. Tetapi untuk itu, Rusia juga harus mematuhi aturan internasional. Dialog membutuhkan setidaknya dua (pihak). Selain itu, transparansi juga penting. Ini akan masuk akal jika Rusia dan NATO melalui kerangka OSCE terus mengungkapkan data tentang relokasi dan penegakan militer mereka," ucap Ursula.

"Adapun kepada NATO, yang merupakan serikat pertahanan esklusif, saran ini sudah diutarakan sebelumnya," sambungnya dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Itar-tass pada Senin (27/6).

Hubungan NATO dan Rusia sendiri memang jauh dari kata baik. Keduanya terus terlibat ketegangan, terlebih saat NATO mulai sering melakukan kegiatan militer di negar-negara yang berdekatan dengan Rusia. (SindoNews)

Minggu, 19 Juni 2016

Pemerintah Jerman Sebut NATO Gila Perang

Menteri Luar Negeri (Menlu) Jerman, Frank-Walter Steinmeier mengecam latihan militer NATO di Eropa Timur. Steinmeier bahkan menyebut aliansi bentukan Amerika Serikat (AS) itu sebagai organisasi gila perang.

Pemerintah Jerman Sebut NATO Gila Perang
Kebijakan latihan perang NATO dianggap memanaskan hubungan dengan Rusia (Insert: Menlu Jerman Frank-Walter Steinmeier) | (Sindonews/Ian)

Steinmeier mengatakan, manuver luas yang diluncurkan NATO pada bulan ini kontraproduktif terhadap keamanan regional dan memanaskan ketegangan dengan Rusia. Ia pun mendesak NATO untuk mengganti latihan militer dengan dialog dan kerjasama dengan Rusia.

"Apa yang kita lakukan saat ini adalah mengobarkan situasi lebih lanjut melalui pamer kekuatan senjata dan menghasut perang," kata Steinmeier dalam sebuah wawancara yang diterbitkan di surat kabar Bild am Sontag Jerman.


 

"Siapapun yang percaya bahwa parade simbolis tank di perbatasan timur aliansi akan membawa keamanan adalah keliru. Kami menyarankan untuk tidak membuat dalih guna memperbaharui konfrontasi laman," katanya lagi seperti dikutip dari BBC, Sabtu (18/6/2016).

NATO akan menggelar latihan militer di Polandia. Latihan itu melibatkan 31.000 tentara, termasuk 14.000 dari AS, 12.000 dari Polandia dan 1.000 dari Inggris. Latihan ini dimaksudkan untuk menguji kemampuan NATO dalam menanggapi ancaman dan berlangsung setiap dua tahun.

Namun, latihan militer ini menuai kecaman dari Rusia. Rusia mengatakan bahwa keberadaan pasukan NATO di dekat perbatasannya merupakan ancaman bagi keamanan.

Minggu, 12 Juni 2016

Pimpin Latihan Perang NATO di Dekat Rusia, Pemerintah Jerman Tuai Kecaman

Langkah Jerman untuk memimpin latihan perang NATO di dekat perbatasan Rusia membuat Pemerintah Kanselir Angela Merkel dikecam. Alasannya, langkah itu bisa memicu Perang Dingin baru atau bahkan lebih buruk.

Kecaman muncul dari mantan kanselir Jerman, Gerhard Schroeder. Menurutnya, memimpin latihan perang NATO di dekat Rusia adalah “kesalahan serius”.


Pimpin Latihan Perang NATO di Dekat Rusia, Pemerintah Jerman Tuai Kecaman

Latihan perang NATO bertajuk “Anaconda-2016” yang dipimpin Jerman itu berlangsung hanya beberapa hari setelah ulang tahun ke-75 invasi Jerman terhadap Uni Soviet pada Juni 1941.

Manuver besar-besaran NATO ini berpusat di Polandia dengan melibatkan lebih dari 30 ribu tentara. Latihan perang ini dianggap Rusia sebagai provokasi terbesar sejak Perang Dunia II.
 


Schroeder mengaku prihatin melihat pemerintah Merkel ikut-ikutan dalam fantasi Perang Dingin baru.
”Secara keseluruhan, Uni Eropa membutuhkan Rusia dan Turki dalam hal kebijakan keamanan," kata Schroeder yang mengecam penumpukan militer secara besar-besaran di sepanjang perbatasan Rusia pada peringatan invasi Nazi, seperti dikutip Sputniknews, Senin (13/6/2016).

Pemerintah Rusia telah merespon NATO dengan mengembangkan Yu-74 kendaraan militer yang bisa bermanuver dengan kecepatan hipersonik. Kendaran ini, menurut para analis militer, memiliki kapasitas untuk menembus sistem pertahanan rudal dan mampu memukul mundur ancaman AS dan NATO dari wilayah Batik.

Kremlin hingga kini tetap menentang penumpukan kekuatan militer NATO secara besar-besaran di dekat Rusia. Menurut Kremlin tidak seharusnya Amerika Serikat (AS) dan NATO melakukan provokasi dengan dipimpin oleh Jerman. (SindoNews)