HOT NEWS

Tampilkan postingan dengan label Korea Utara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Korea Utara. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Oktober 2016

Pejabat Amerika : Sia-sia Minta Korut Hentikan Program Nuklir

Direktur intelijen nasional Amerika Serikat (AS), James Clapper mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) harus fokus dalam hal membatasi kemampuan nuklir Korea Utara (Korut). Menurutnya, meyakinkan Korut untuk menghentikan pengembangan nuklir adalah hal yang sia-sia.

Sia-sia Minta Korut Hentikan Program Nuklir

"Saya pikir gagasan untuk denuklirisasi Korut adalah hal yang sia-sia. Mereka tidak akan melakukan itu karena itu adalah tiket mereka untuk bertahan hidup," katanya didepan Dewan Hubungan Luar Negeri seperti dikutip dari Sputniknews, Kamis (27/10/2016).

Clapper lantas menjelaskan perjalanannya ke Korut pada tahun 2014 lalu untuk menjamin pembebasan dua warga AS. Ia memberikan penilaian 'good taste' atas pengembangan nuklir dari perspektif negara itu.


"Mereka berada di bawah pengepungan dan mereka sangat paranoid, sehingga gagasan untuk menyerah dalam mengembangkan kemampuan nuklir, apa pun itu, adalah tidak mungkin. Yang terbaik mungkin bisa kita berharap adalah semacam penumbat, tetapi mereka tidak akan melakukan itu hanya karena kita meminta mereka. Ada beberapa bujukan yang harus signifikan," tuturnya.

Clapper juga mengungkapkan jika Pyongyang belum melakukan uji coba rudal balistik antar benua KN-08 se

Direktur intelijen nasional Amerika Serikat (AS), James Clapper mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) harus fokus dalam hal membatasi kemampuan nuklir Korea Utara (Korut). Menurutnya, meyakinkan Korut untuk menghentikan pengembangan nuklir adalah hal yang sia-sia.

"Saya pikir gagasan untuk denuklirisasi Korut adalah hal yang sia-sia. Mereka tidak akan melakukan itu karena itu adalah tiket mereka untuk bertahan hidup," katanya didepan Dewan Hubungan Luar Negeri seperti dikutip dari Sputniknews, Kamis (27/10/2016).

Clapper lantas menjelaskan perjalanannya ke Korut pada tahun 2014 lalu untuk menjamin pembebasan dua warga AS. Ia memberikan penilaian 'good taste' atas pengembangan nuklir dari perspektif negara itu.

"Mereka berada di bawah pengepungan dan mereka sangat paranoid, sehingga gagasan untuk menyerah dalam mengembangkan kemampuan nuklir, apa pun itu, adalah tidak mungkin. Yang terbaik mungkin bisa kita berharap adalah semacam penumbat, tetapi mereka tidak akan melakukan itu hanya karena kita meminta mereka. Ada beberapa bujukan yang harus signifikan," tuturnya.

Clapper juga mengungkapkan jika Pyongyang belum melakukan uji coba rudal balistik antar benua KN-08 sehingga utilitasnya tidak dapat diketahui. Rudal balistik ini diyakini mampu menyerang AS. Ia pun menyarankan kepada Washington tidak menunggu sampai Korut menguji coba rudal tersebut.

"Namun demikian, kami menganggap kemampuan Korut untuk meluncurkan rudal yang memiliki kemampuan untuk mencapai wilayah AS, tentu termasuk Alaska dan Hawaii, kami harus beranggapan mereka mampu. Kami harus membuat asumsi terburuk di sini," tukasnya.

Menanggapi hal itu, juru bicara Departemen Luar Negeri John Kirby mengatkan ia tidak terlalu memusingkan komentar Clapper dan AS masih berharap untuk melanjutkan negosiasi bantuan perlucutan senjata yang terhenti sejak 2009.

"Kami terus melihat diversifikasi, denuklirisasi semenanjung Korea. Kami ingin melihat kembali ke proses pembicaraan enam pihak, dan itu berarti kita perlu melihat Korut menunjukkan kemauan dan kemampuan untuk kembali ke proses mereka yang belum selesai," katanya.

hingga utilitasnya tidak dapat diketahui. Rudal balistik ini diyakini mampu menyerang AS. Ia pun menyarankan kepada Washington tidak menunggu sampai Korut menguji coba rudal tersebut.

"Namun demikian, kami menganggap kemampuan Korut untuk meluncurkan rudal yang memiliki kemampuan untuk mencapai wilayah AS, tentu termasuk Alaska dan Hawaii, kami harus beranggapan mereka mampu. Kami harus membuat asumsi terburuk di sini," tukasnya.

Menanggapi hal itu, juru bicara Departemen Luar Negeri John Kirby mengatkan ia tidak terlalu memusingkan komentar Clapper dan AS masih berharap untuk melanjutkan negosiasi bantuan perlucutan senjata yang terhenti sejak 2009.

"Kami terus melihat diversifikasi, denuklirisasi semenanjung Korea. Kami ingin melihat kembali ke proses pembicaraan enam pihak, dan itu berarti kita perlu melihat Korut menunjukkan kemauan dan kemampuan untuk kembali ke proses mereka yang belum selesai," katanya.  (SindoNews)

Rabu, 24 Agustus 2016

Peluncuran Rudal Balistik Korea Utara dari Kapal Selam Tuai Kecaman

Militer Korea Urtara telah meluncurkan rudal balistik dari kapal selam di lepas pantai timur pagi ini (24/8/2016). Manuver rudal terbaru Korut ini dipantau militer Korea Selatan.

Korut semakin gencar menembakkan rudal balistik meski sudah dijatuhi rentetan sanksi berbagai negara karena melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.


Peluncuran Rudal Balistik Korea Utara dari Kapal Selam Tuai Kecaman

Pihak Staf Gabungan Militer Korea Selatan, seperti dikutip Reuters mengatakan, uji tembak rudal balistik Korut berlangsung sekitar pukul 05.30 waktu setempat di dekat kota pesisir Sinpo, di mana citra satelit menunjukkan keberadaan pangkalan kapal selam.

Penembakan rudal balistik dari kapal selam Korut ini terjadi dua hari setelah Korea Selatan dan Amerika Serikat (AS) memulai latihan militer tahunan di Semenanjung Korea. Rezim Kim Jong-un mengutuk latihan militer itu karena diyakini sebagai persiapan untuk menginvasi Pyongyang.


Korut bahkan sudah mengancam akan meluncurkan serangan nuklir terhadap latihan kedua negara itu jika terjadi agresi sedikit pun terhadap wilayah darat, laut dan udara Pyongyang.

Beberapa pekan lalu, Korut juga menembakkan rudal balistik yang mendarat di dekat perairan Jepang.

Ketegangan di Semenanjung Korea kian memanas setelah terjadi Wakil Duta Besar Korut di London membelot ke Korea Selatan. Pembelotan itu telah membuat malu rezim Kim Jong-un yang menunjukkan rapuhnya kekuatan elite politik Korut.




Dikecam Banyak Negara

Pemerintah China menegaskan, mereka menentang uji coba rudal balistik terbaru yang dilakukan oleh Korea Utara (Korut). Korut diketahui melakukan uji coba terbaru pada pagi ini (24/8).

Dalam sebuah pernyataan, Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan, pihaknya menentang semua tindakan yang mampu memancing ketegangan di Semenanjung Korea, salah satunya adalah uji coba rudal yang dilakukan Korut.

"China menentang program rudal nuklir Korut serta kata-kata atau perbuatan yang menimbulkan ketegangan di semenanjung Korea," kata Wang Yi, paska melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Jepang dan Korea Selatan (Korsel) di Tokyo.

Sebelumnya diberitakan, Staf Gabungan Militer Korsel mengatakan, uji tembak rudal balistik Korut berlangsung sekitar pukul 05.30 waktu setempat di dekat kota pesisir Sinpo, di mana citra satelit menunjukkan keberadaan pangkalan kapal selam.

Penembakan rudal balistik dari kapal selam Korut ini terjadi dua hari setelah Korea Selatan dan Amerika Serikat (AS) memulai latihan militer tahunan di Semenanjung Korea. Rezim Kim Jong-un mengutuk latihan militer itu karena diyakini sebagai persiapan untuk menginvasi Pyongyang.

Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe menyebut aksi tersebut tidak dapat dimaafkan dan menjadi ancaman serius bagi keamanan Jepang. Abe mengatakan pemerintah Jepang akan mengajukan protes keras terhadap tetangganya yang terisolasi itu. (SindoNews)

Senin, 11 Juli 2016

Amerika Jatuhkan Sanksi, Korea Utara Putus Jalur Diplomasi

Korea Utara (Korut) menyatakan, bahwa mereka akan menutup jalur diplomasi dengan Amerika Serikat (AS). Jalur diplomasi yang akan ditutup merupakan satu-satunya jalur diplomasi yang dimiliki kedua negara.

Amerika Jatuhkan Sanksi, Korea Utara Putus Jalur Diplomasi

Melansir Reuters pada Senin (11/7), penutupan jalur diplomasi ini merupakan respon lanjutan atas tindakan AS yang menjatuhkan sanksi kepada 10 pejabat tinggi Korut, termasuk di dalamnya pemimpin Korut Kim Jong-un.

Sanksi itu berupa pembekuan harta para pejabat Korut yang berada dalam yurisdiksi AS dan melarang orang atau badan di AS untuk melakukan transaksi dengan para pejabat atau entitas tersebut.


Bukan hanya menutup jalur diplomasi, Korut juga akan menangani semua hal antara kedua pihak, termasuk mengenai dua warga AS yang ditahan di negara tersebut dengan menggunakan hukum perang yang berlaku di Korut.




Sebelumnya, Korut mengatakan bahwa apa yang dilakukan AS, dengan pertama kali menjatuhkan sanksi bagi Jong-un adalah deklarasi perang. Tindakan semacam ini menurut Pyongyang adalah sesuatu hal yang tidak bisa dimaafkan.

"Penjatuhan sanksi adalah tindakan permusuhan terburuk yang pernah dilakukan AS dan deklarasi perang terbuka. Apa yang AS lakukan saat ini, tidak puas hanya dengan terus mengeluarkan fitnah terhadap Korut, adalah kejahatan terburuk yang tidak akan pernah bisa diampuni," kata Kementerian Luar Negeri Korut beberap waktu lalu. (SindoNews)

Kamis, 23 Juni 2016

Amerika Serikat Desak PBB Kecam Uji Coba Rudal Korea Utara

Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk PBB, Samantha Power, menyerukan Dewan Keamanan (DK) PBB untuk bersatu dan mendesak PBB untuk mengecam uji coba rudal Korea Utara (Korut). Hal itu diungkapkannya dalam pertemuan darurat DK PBB pasca Korut menembakan dua rudal balistik.

Amerika Serikat Desak PBB Kecam Uji Coba Rudal Korea Utara

Jepang dan AS, setelah berkonsultasi dengan Korea Selatan (Korsel), meminta briefing tertutup kepada Sekretariat PBB atas penembakan uji coba dua rudal balistik jarak menengah yang dilakukan Korut.

"Pembangkangan Korut terhadap hukum internasional terus terulang. Ini menggaribawahi betapa pentingnya bagi kita untuk bergerak bersama-sama guna memastikan konsekuensi atas perilaku inheren destabilisasi ini, dan ancaman yang melekat dalam tindakan pelangaran yang konsisten dan diulangi ini terhadap perdamaian dan keamanan internasional," kata Power seperti dikutip dari Belfast Telegraph, Kamis (23/6/2016).


 

Power mengatakan, kecaman dari seluruh anggota dari tubuh yang paling kuat di PBB adalah langkah pertama. "Tapi, kami lagi mencari untuk memastikan akuntabilitas, mencari untuk mengidentifikasi lagi individu, entitas yang mungkin bertanggung jawab untuk uji coba yang terus berulang. Ini yang menimbulkan ancaman terhadap perdamaian dan keamanan internasional," tambahnya.

Menurutnya, individu dan entitas ini akan ditambahkan ke dalam sanksi daftar hitam. Seorang juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon menyebut peluncuran itu adalah tindakan kurang ajar dan tidak bertanggung jawab. Ia juga menyatakan peluncuran itu adalah pelanggaran yang disengaja dan pelanggaran terbesar terhadap kewajiban internasional. (SindoNews)

Rabu, 22 Juni 2016

Sukses Uji Rudal Musudan, Korea Utara Percaya Diri Tandingi Amerika Serikat

Pemerintah Korea Utara (Korut) mengklaim sukses menguji tembak dua rudal balistik jarak menengah Musudan. Kesuksesan itu membuat diktator muda Korut, Kim Jong-un, yakin bisa menyerang Amerika Serikat (AS) di kawasan Pasifik.

Klaim kesuksesan uji tembak rudal balistik Musudan itu diumumkan kantor berita KCNA.  Pengumuman muncul setelah pada Rabu pagi, militer Korut menguji tembak dua rudal balistik jarak menengah Musudan atau dikenal sebagai Hwangsong-10.


Sukses Uji Rudal Musudan, Korea Utara Percaya Diri Tandingi Amerika Serikat

Militer AS dan Korea Selatan menganggap satu dari dua rudal Musudan yang diuji tembak rezim Kim Jong-un mengalami kegagalan.

”Uji tembak berhasil dilakukan tanpa memberikan efek sedikit pun pada keamanan negara-negara sekitar,” bunyi pengumuman yang dirilis KCNA, semalam.


Dalam pengumuman itu, Kim Jong-un disebut mengawasi langsung uji tembak rudal balistik Musudan.
”Arus uji tembak menandai kesempatan penting dalam peningkatan kapasitas serangan nuklir dari negara kita,” kata Kim Jong-un, yang dikutip Yonhap, Kamis (23/6/2016).

”Kami memiliki keyakinan soal kemampuan untuk menyerang secara keseluruhan dan praktis terhadap (kepentingan) Amerika di Pasifik.”




Sejumlah media AS dan Korea Selatan yang mengutip sumber-sumber militer melaporkan, bahwa peluncuran rudal pertama oleh Korut pada hari Rabu diyakini berhasil. Namun, peluncuran rudal yang kedua diduga mengalami beberapa masalah yang disimpulkan militer AS dan Korea Selatan sebagai kegagalan.

Rudal balistik jarak menengah Musudan diklaim bisa menjangkau kepentingan AS di Pasifik yang berjarak sekitar 3.500 kilometer.

AS, Jepang dan Korea Selatan mengecam uji tembak rudal balistik Korut sebagai tindakan provokatif. Ketiga negara itu mendesak masyarakat internasional untuk menindak perilaku Pyongyang.

Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon menyebut uji coba rudal balistik terbaru Korut sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab. ”Dan pelanggaran berat Korut atas kewajiban internasional dan resolusi DK PBB,” kata wakil juru bicara Sekjen PBB, Farhan Haq. (SindoNews)

Senin, 20 Juni 2016

Jepang Deteksi Tanda-Tanda Peluncuran Misil Korea Utara

Jepang mendeteksi tanda-tanda peluncuran misil terbaru dari Korea Utara (Korut), setelah pada awal tahun sempat mengejutkan komunitas internasional lewat uji coba bom hidrogen dan peluncuran roket ke luar angkasa.

Pyongyang gagal meluncurkan misil balistik pada akhir Mei, yang menandai serangkaian kegagalan dalam teknologi senjata balistik.  


Jepang Deteksi Tanda-Tanda Peluncuran Misil Korea Utara

Namun Korut, yang secara berkala mendapat kecaman dan sanksi dari PBB, tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah dalam mencapai tujuan akhirnya, yakni senjata nuklir yang dapat mencapai daratan Amerika Serikat (AS).

Media lokal Jepang, termasuk Kyodo News dan NHK, Selasa (21/6/2016), mengutip beberapa sumber yang mengatakan sejumlah tanda telah terdeteksi mengenai kemungkinan peluncuran misil di Korut.


Kyodo mengatakan militer Jepang telah memerintahkan untuk menghancurkan misil atau komponen apapun yang dapat mengancam wilayah Negeri Sakura.

Misil dan roket Korut telah terbang di atas wilayah Jepang di masa lalu. Pemerintah mengerahkan sistem anti-misil di Tokyo dan beberapa kota lainnya sebagai respons terhadap ancaman.

Kementerian Pertahanan di Tokyo belum bersedia berkomentar mengenai deteksi dini ini, namun juga tidak membantahnya.

Pada April, Korut tiga kali gagal meluncurkan sebuah misil yang jangkauannya diperkirakan mencapai 2.500 hingga 4.000 kilometer.  (MetroTVNews)

Korea Selatan : Pyongyang Gunakan Nuklir untuk Peras Kami

Kementerian Unifikasi Korea Selatan (Korsel) menuturkan, Korea Utara (Korut) menggunakan kekuatan nuklirnya untuk memeras Korsel. Korut mengancam akan menghancurkan pangkalan Amerika Serikat (AS) di Korsel, jika Negeri Gingseng itu menolak ajakan dialog Korut.

Korea Selatan : Pyongyang Gunakan Nuklir untuk Peras Kami

Bulan lalu, Pyongyang mendesak Seoul untuk menerima tawaran guna mengadakan pembicaraan militer dan menyerukan langkah-langkah bersama untuk melaksanakan tindakan-tindakan untuk persatuan nasional. Tawaran itu kemudian ditolak oleh Korsel.

Komite Pertahanan Korut kemarin mengatakan, mereka akan merespon penolakan tersebut dengan serangan nuklir terhadap pangkalan militer AS yang berada di Korsel.


 

"Tawaran perdamaian palsu dari Korut telah gagal mengecoh kami. Lalu, orang-orang dari utara menggunakan ancaman untuk mengubah sikap kami," kata juru bicara Kementerian Unifikasi Korsel, Jeong Joon-Hee, seperti dilansir Sputnik pada Senin (20/6).

Dia menambahkan, Seoul menganggap prakarsa perdamaian dari Pyongyang sebagai propaganda terang-terangan. "Adalah penting bahwa Korut mengambil langkah-langkah yang jelas untuk menolak penggunaan  senjata nuklir," kata Jeong. (SindoNews)

Minggu, 19 Juni 2016

Serpihan Rudal Korut Ditemukan di Jepang

Sebuah fragmen yang diduga berasal dari rudal milik Korea Utara (Korut) telah ditemukan di dekat pantai Jepang. Potongan rudal itu ditemukan pada hari Jumat yang lalu.

Seperti dikutip dari laman Express, Minggu (19/6/2016), potongan rudal itu ditemukan di lepas pantai barat daya Semenanjung Korea dekat dengan Tottori Prefecture.


Serpihan Rudal Korut Ditemukan di Jepang

Jepang telah memantau aktivitas balistik Korut sejak Kim Jong-un meluncurkan satelit ke luar angkasa. Jong-un telah bersumpah untuk terus meningkatkan kemampuan nuklir negaranya meski mendapat peringatan berulang kali dari PBB.


Militer Jepang kini berencana untuk meningkatkan teknologi pencegat rudal mereka dalam upaya menghentikan perilaku provokatif Korut. Jepang menggunakan pencegah rudal PAS-3 yang saat akan mendapatkan peningkatan kemampuan. Sistem baru ini diharapkan akan beroperasi dalam lima tahun ke depan.

Jepang adalah salah satu dari sejumlah negara yang telah menuntut dimulainya program denuklirisasi terhadap Korut. Namun, pemberian sanksi kepada Korut tampatkan tidak mengurangi keinginan Kim Jong-un untuk menghentikan program nuklirnya. Pada bulan Januari, para pejabat Pyongyang mengklaim mereka telah berhasil menguji bom hidrogen. (SindoNews)

Jumat, 17 Juni 2016

Presiden Korut, Kim Jong-un Dikabarkan Tewas Terkena Serangan Bom Bunuh Diri

Sebuah rumor mengejutkan datang dari Korea Utara. Kali ini, pemimpin tertinggi Korut, Kim Jong-un dikabarkan tewas akibat serangan bom bunuh diri.

Adalah laman East Asia Tribune yang pertama kali mengabarkan tewasnya Ketua Partai Pekerja Korea itu. Laman berita yang berbasis di Shanghai, Tiongkok itu mengabarkan, Jong-un tewas lantaran bom bunuh diri yang dilakukan seorang perempuan di ibu kota Korut, Pyongyang


Kim Jong-un Dikabarkan Tewas Terkena Serangan Bom Bunuh Diri

Konon, serangan atas Jong-un itu terjadi pada Kamis (16/6) pukul 14.00 waktu setempat. Lokasi persisnya ada di Distrik Potonggang.

Saat itu Jong-un tengah menghadiri sebuah acara kenegaraan di pinggir Sungai Potong. Tiba-tiba ada seorang penonton yang menerobos barikade keamanan dan berlari kencang ke arah Jong-un.


Para pengawal Jong-un memang langsung mengeluarkan senjata mereka. Namun, perempuan nekat itu bergerak lebih cepat dengan memicu bom sabuk.

Ledakan keras membuat Jong-un terluka parah. Meski sudah secepatnya dilarikan ke rumah sakit terdekat, nyawanya dikabarkan tak tertolong lagi.

Sedangkan identitas perempuan pelaku bom bunuh diri masih misterius. Hanya saja, beberapa informasi telah muncul dan menjelaskan identitasnya meski masih sekilas.

Sebagian besar saksi yang diwawancarai media pemerintah Korut justru dieksploitasi untuk menampakkan kesedihan. Tapi ada seorang pria muda Korut yang menyebut pelaku bom bunuh diri itu sangat cantik. “Setengah pria di kerumunan memperhatikannya,” katanya sebelum wawancara itu tiba-tiba dihentikan oleh stasiun televisi pemerintah Korut.




Ada spekulasi oleh beberapa pakar tentang Korut mengenai pelaku bom bunuh diri yang menewaskan Jong-un. Mereka menyebut pelakunya adalah pekerja seks komersial (PSK) yang sebelumnya diselamatkan dari sebuah rumah bordil rahasia yang biasa melayani para pejabat Korut.

Hanya saja, media resmi pemerintah Korut masih bungkam soal itu. Terutama tentang kelanjutan kepemimpinan di Republik Demokratik Rakyat Korea.

Sebelumnya, Jong-un naik menjadi pemimpin tertinggi Korut sekaligus ketua Partai Pekerja Korea pada Desember 2011 setelah ada kekosongan kekuasaan sepeninggal ayahnya, Kim Jong-il. Namun, Jong-un akhirnya naik ke puncak kekuasaan untuk menggantikan ayahnya.

Jong-un pada  awal kekuasaannya melakukan pembersihan terhadap orang-orang yang berpotensi menyainginya. Hal itu untuk mengonsolidasikan kekuasannya sebagai pemimpin tertinggi Korut.

Sepeninggal Jong-un, media asing mulai bersepekulasi tentang calon penggantinya. Kandidat terkuatnya adalah adik Jong-un, Kim Yo-jung yang saat ini menjadi wakil direktur di Partai Pekerja Korea.

“Beberapa pengamat mengatakan selama ketidakhadiran Kim Jong-un dalam waktu lama di depan publik pada 2014, dia (Yo-jung, red) yang memimpin negara,” tulis East Asia Tribune. (JPNN)

Kamis, 16 Juni 2016

Amerika Serikat yakini Korut Sedang Perluas Produksi Senjata Nuklir

Sebuah lembaga penelitian Amerika Serikat (AS) mengatakan, Korea Utara (Korut) kemungkinan secara signifikan memperluas produksi senjata nuklirnya. Korut disebut bisa menambahkan enam atau lebih senjata ke gudang senjata miliknya dalam 18 bulan terakhir.

Amerika Serikat yakini Korut Sedang Perluas Produksi Senjata Nuklir

Sebelumnya, Lembaga Sains dan Keamanan Internasional (ISIS) yang berbasis di Washington tahun lalu memperkirakan Korut telah memiliki 10 sampai 16 senjata nuklir pada akhir 2014. Laporan ini kemudian direvisi oleh lembaga David Albright dan Serena Kelleher-Vergantini.

Lembaga ini mengatakan, Korut kemungkinan telah menambah empat sampai enam senjata sejak saat itu, sehingga total mencapai 13 sampai 21 atau bahkan lebih. Laporan ini tidak memperhitungkan kemungkinan produksi tambahan yang berasal dari pabrik centrifuge kedua, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (15/6/2016).


"Meskipun demikian, laporan ini, meskipun tidak luas, menunjukkan bahwa kemampuan senjata nuklir Korut bisa jadi meningkat signifikan," kata laporan itu, menambahkan bahwa sebagian besar peningkatan senjata dapat dikaitkan dengan produksi uranium.

Laporan ini muncul seminggu setelah seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS mengatakan Korut telah memulai kembali produksi bahan bakar plutonium. Hal ini menunjukkan Korut berencana untuk mengejar program senjata nuklirnya yang menyimpang dari sanksi internasional yang diikuti uji coba nuklir keempat di bulan Januari. (SindoNews)