HOT NEWS

Tampilkan postingan dengan label Turki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Turki. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Oktober 2016

Rusia Ajak Turki dan China Bagun Aliansi Baru

Rusia dan China akan bekerjasama dan memperkuat hubungan militer mereka. Hal ini dibuktikan setelah pejabat militer kedua negara mengumumkan akan melakukan latihan pertahanan rudal dalam jangka waktu tiga bulan ke depan.

Berita ini muncul pasca Rusia menyepakatai kerjasama dengan Turki dan mengumumkan strategi militer terkoordinasi dalam perang Suriah dan pembangunan pipa gas baru di antara kedua negara.

Rusia Ajak Turki dan China Bagun Aliansi Baru

Dalam sebuah forum keamanan di Beijing minggu ini, pejabat senior China dan Rusia sepakat bahwa mereka harus melawan upaya Amerika Serikat (AS) untuk membangun perisai pertahanan anti rudal. As berencana membangun perisai pertahanan anti rudal di Korea Selatan (Korsel) untuk mengantisipasi serangan Korea Utara (Korut).

"Sistem pertahanan rudal sangat merusak kepentingan keamanan nasional China dan Rusia. Chian dengan tegas menentang dan sangat mendesak AS dan Korsel untuk mempertimbangkan kembali pilihan mereka," bunyi pernyataan bersama petinggi militer Rusia Letnan Jenderal Viktor Poznikhir,  dan China Mayor Jenderal Cai seperti dikutip dari Express, Jumat (14/10/2016).

Poznikhir bahkan menuduh Pentagon mengembangkan sistem pertahanan rudal untuk menyerang musuh-musuhnya. "Jika salah satu dari gladiator mengambil perisai, itu akan memberinya keuntungan yang nyata dan membuat dia berpikir bahwa dia akan bisa menang, terutama jika ia menyerang pertama kali. Apa yang akan dilakukan gladiator lain? Tentu ia juga akan mengambil perisai dan juga pedang panjang dan kuat," katanya.

Hubungan antara Rusia dan AS tengah berada di bawah tekanan sebagai akibat dari serangan udara Rusia di Suriah, yang dinilai melanggar gencatan senjata kesepakatan kedua negara. (SindoNews)

Minggu, 17 Juli 2016

Pasca Upaya Kudeta Turki Tutup Pangkalan Udara Militer AS di Incirlik, Turki selatan

Penguasa militer Turki memblokir akses masuk dan keluar dari Pangkalan Udara Incirlik, Turki selatan yang menjadi rumah senjata nuklir Amerika Serikat (AS) pada hari Sabtu.

Pasca Upaya Kudeta Turki Tutup Pangkalan Udara Militer AS di Incirlik, Turki selatan

Pemblokiran terjadi setelah upaya kudeta militer gagal dan Turki menuduh AS ikut mendalangi kudeta.
Tindakan penguasa Turki dalam memblokir Pangkalan Udara Incirlik diungkap oleh pihak Konsulat AS di Adana, Turki.

”Pemerintah setempat memblokir akses dari dan ke Pangkalan Udara Incirlik. Listrik juga telah diputus,” demikian pesan tertulis dari Konsulat AS di Adana, seperti dikutip Russia Today.


”Silakan menghindari pangkalan udara sampai operasi normal dipulihkan,” lanjut pihak konsulat.

Menurut laporan CNN, listrik untuk fasilitas juga diputus. Penutupan wilayah udara itu dilaporkan telah menyebabkan berhentinya operasi serangan udara AS terhadap kelompok ISIS.

Meski demikian, Sabah Daily mengutip Konsulat AS di Turki pada hari Minggu (17/7/2016) melaporkan bahwa akses ke Pangkalan Udara Incirlik telah dipulihkan.

Penerbangan di wilayah udara Turki juga telah diizinkan kembali. (SindoNews)

Turki Ancam Kobarkan Perang, Jika AS Tak Mau Serahkan Gulen

Turki mengancam akan memerangi Amerika Serikat (AS) jika negara adidaya itu tidak menyerahkan Fethullah Gulen, tokoh oposisi yang diduga menjadi dalang kudeta militer di negeri itu.

Turki meminta AS menyerahkan Fethullah Gulen yang diduga menjadi dalang dari kudeta militer
Turki meminta AS menyerahkan Fethullah Gulen yang diduga menjadi dalang dari kudeta militer

Perdana Menteri Turki Binali Yildirim mengatakan, negaranya siap mempertimbangkan untuk memerangi negara yang melindungi Fethullah Gulen. Gulen sendiri saat ini berada di pengasingannya di AS.

"Setiap negara yang melindungi Fethullah Gulen akan menjadi musuh Turki," tegas Yildirim dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari laman Express, Sabtu (16/7/2016).


Pemerintah Turki menuduh Gulen mencoba menciptakan sebuah struktur pararel di kepolisian, pengadilan, media dan Angkatan Bersenjata yang bertujuan untuk mengambil alih negara itu.

Namun, Gulen membantah telah mendalangi aksi kudeta militer yang berujung kegagalan di Turki. Sebaliknya, ia mengutuk aksi perebutan kekuasaan yang menewaskan 160 orang dan melukai lebih dari 1.000 orang itu.

"Saya mengutuk dalam istilah terkuat terhadap usaha kudeta militer di Turki," kata Gulen. (SindoNews)

Sabtu, 02 Juli 2016

Rusia-Turki Capai Kesepahaman Soal Krisis di Suriah

Rusia dan Turki dilaporkan telah mencapai kesepahaman mengenai krisis yang terjadi di Suriah. Kedua negara juga disebut telah sepakat mengenai pentingnya memberangus al-Nusra, cabang al-Qaeda di Suriah.

Rusia-Turki Capai Kesepahaman Soal Krisis di Suriah

Kesepahaman itu dicapai kala terjadi pertemuan antara Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov dan Menteri Luar Negeri Turki,  Mevlut Cavusoglu. Dalam pernyataan bersama, kedua pihak menekankan, bahwa Rusia dan Turki tidak hanya menanggap ISIS sebagai kelompok teroris di Suriah, tapi juga al-Nusra.

Selain itu, keduanya juga telah sepakat bahwa kelompok oposisi harus menarik diri dari wilayah yang dikuasai oleh teroris. Menurut Lavrov, Turki telah menerima aturan baru upaya anti-terorisme di Suriah.


Dimana, papar Lavrov Turki telah setuju dengan pendapat jika pasukan yang disebut dengan oposisi moderat tidak meninggalkan kawasan yang dikendalikan oleh teroris, mereka akan dianggap sebagai kaki tangan teroris. Dengan kata lain, mereka akan menjadi target serangan.

"Mereka yang tidak ingin terkena serangan perlu meninggalkan posisi yang dikuasi oleh oleh Jabhat al-Nusra dan ISIS. Jika oposisi patriotik, oposisi konstruktif tetap di wilayah yang dikuasai oleh teroris, akan dianggap kaki tangan terois," kata Lavrov, seperti dilansir Sputnik pada Sabtu (2/7). (SindoNews)

Rabu, 29 Juni 2016

Serangan Istanbul Bukti Terorisme Tak Mengenal Agama

Presiden Turki, Tayyip Erdogan mengecam keras serangan bom yang menghantam bandara Ataturk di Istanbul, semalam. Erdogan menuturkan, serangan ini kembali menunjukan bahwa terorisme tidak ada kaitannya dengan sebuah agama, khususnya Islam.

Serangan Istanbul Bukti Terorisme Tak Mengenal Agama

"Serangan yang berlangsung selama bulan suci Ramadhan, menunjukkan bahwa serangan terorisme dengan tidak menghargai kepercayaan dan nilai-nilai agama," ucap Erdogan, seperti dilansir Russia Today pada Rabu (29/6).

Dia juga menyebut bahwa serangan ini harusnya menjadi titik balik bagi dunia internasional, untuk terus meningkatkan upaya melawan teroris. Dalam pandangannya, tidak ada negara yang aman akan ancaman terorisme.


"Saya berharap bahwa serangan di bandara Ataturk, terutama bagi negara-negara Barat dan di seluruh dunia, akan menjadi tonggak untuk memerangi bersama melawan organisasi teroris, sebuah titik balik," sambungnya.

Erdogan, di kesempatan yang sama menegaskan, Turki akan terus melanjutkan upaya melawan teroris, tidak peduli berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan.

"Bom  di Istanbul (telah menunjukkan) sifat berbahaya dari terorisme. Itu bisa terjadi di setiap kota di dunia, di bandara manapun. Sekali lagi, Tuhan mengampuni warga negara kita yang kehilangan nyawa mereka dalam serangan itu, saya berharap mereka yang cidera untuk segera sembuh," pungkasnya. (SindoNews)

Senin, 27 Juni 2016

Sepakati Rekonsiliasi dengan Turki, Israel Tetap Blokade Laut Gaza

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menyatakan, pencabutan blokade maritim di Gaza tidak termasuk dalam kesepakatan rekonsiliasi dengan Turki. Dengan demikian, blokade di seluruh wilayah perairan Gaza masih akan tetap berlaku.

Sepakati Rekonsiliasi dengan Turki, Israel Tetap Blokade Laut Gaza

Berbicara saat melakukan kunjungan ke Roma, Italia, Netanyahu menuturkan masalah keamanan di perairan adalah sesuatu hal yang tidak bisa dikompromikan. Oleh karena itu, pihaknya tidak setuju untuk mencabut blokade tersebut, yang akhirnya turut disetujui oleh Turki.

"Hal kedua perjanjian tersebut adalah kelanjutan dari blokade keamanan maritim lepas pantai Jalur Gaza. Ini adalah kepentingan keamanan tertinggi bagi kami. Saya tidak siap untuk berkompromi soal hal itu," ucap Netanyahu, seperti dilansir Al Arabiya pada Senin (27/6).




Kesepakatan rekonsiliasi antara Turki dan Israel sendiri diketahui telah dicapai kemarin. Kesepakatan ini dicapai setelah terjadi negosiasi yang sangat panjang antara kedua belah pihak.

Terkait Gaza, berdasarkan kesepakatan itu, Turki diberikan kebebasan memberikan bantuan kemanusiaan dan produk non-militer lainnya ke Gaza dan melaksanakan proyek-proyek infrastruktur, seperti pembangunan tempat tinggal dan rumah sakit. Langkah-langkah untuk mengatasi krisis air dan listrik juga akan dilakukan. (SindoNews)

Turki Isyratkan Penyesalan Telah Tembak Jatuh Jet Bomber Su-24 Rusia

Presiden Turki Tayyip Erdogan tampaknya mulai menyesali insiden penembakan jet Su-24 Rusia oleh militer Turki. Hal ini disampaikan oleh juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov.

Turki Isyratkan Penyesalan Telah Tembak Jatuh Jet Bomber Su-24 Rusia

Peskov mengatakan, Erdogan kembali mengirimkan surat kepada Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam surat itu, papar Peskov, tersirat bahwa Erdogan menyesali insiden itu, dan menunjukan tanda akan segera meminta maaf pada Rusia.

"Presiden Putin telah menerima surat dari Presiden Turki, Erdogan. Pemimpin Turki mengungkapkan minat dalam menyelesaikan situasi di sekitar jatuhnya pesawat jet pembom Rusia," kata Peskov.




"Erdogan mengatakan, Turki berbagi rasa sakit yang dirasakan oleh keluarga pilot jet Su-24 yang ditembak jatuh dan melihatnya sebagai duka Turki," sambungnya, seperti dilansir Sputnik pada Senin (27/6).

Dia menambahkan, dalam suratnya Erdogan juga mengatakan, Turki siap untuk mengambil semua langkah yang diperlukan untuk meringankan rasa sakit dan beratnya dampak atas insiden itu terhadap keluarga almarhum pilot Su-24.

"Dalam surat tersebut, Presiden Turki juga mengatakan, ia selalu melihat Rusia sebagai mitra strategis dan teman. Dia turut menuturkan, Turki tidak pernah bermaksud untuk menembak jatuh pesawat dari Federasi Russia," pungkasnya. (SindoNews)

Kamis, 23 Juni 2016

Turki Tegaskan Tak Akan Pernah Minta Maaf pada Rusia

Pemerintah Turki menegaskan mereka tidak akan pernah meminta maaf kepada Rusia terkait insiden penembakan Su-24. Rusia mengajukan dua syarat bagi Turki jika ingin hubungan kedua negara kembali normal, yakni meminta maaf dan membayar kompensasi kepada keluarga korban.

Turki Tegaskan Tak Akan Pernah Minta Maaf pada Rusia

"Kami turut sedih dengan apa yang terjadi, tapi kami tidak akan membayar kompensasi atau meminta maaf atas insiden itu," kata juru bicara kepresidenan Turki, Ibrahim Kalin dalam sebuah pernyataan.

Kalin dalam pernyataanya juga mengatakan, pihaknya percaya baik dalam waktu dekat ataupun panjang hubungan Turki dan Rusia akan kembali membaik. Sebab, bila dibiarkan terus seperti ini, hal ini akan berdampak buruk bagi kedua negara.


"Hal ini memang memiliki dampak negatif pada sektor pariwisata Turki, tapi di saat yang bersamaan juga menciptakan masalah bagi pihak Rusia," sambungnya, seperti dilansir APA pada Kamis (23/5).

Sementara itu sehubungan surat ucapan selamat yang dikirim oleh Presiden Turki Tayyip Erdogan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin pada kesempatan hari nasional Rusia, Kalin mengatakan bahwa surat itu dikirim sebagai bentuk penghormatan kepada Rusia.  (SindoNews)

Senin, 09 Mei 2016

Angkut Tank, Kapal Militer Rusia Lintasi Istanbul Turki

Media Turki, Hurriyet Daily News mempublikasikan foto kapal militer Rusia yang mengangkut dua tank tersembunyi melintasi perairan Bosphorus, dekat Istanbul, pada 8 Mei 2016.
Kapal Rusia itu dilaporkan melakukan patroli dengan kecepatan tinggi.

”Sebuah kapal militer Rusia melewati Bosphorus, Istanbul, pada tanggal 8 Mei, dengan dua tank tersembunyi di dek-nya,” tulis surat kabar Turki itu pada hari Minggu kemarin.


Angkut Tank, Kapal Militer Rusia Lintasi Istanbul Turki

”Dua tank kamuflase terlihat di geladak kapal, sementara beberapa tentara terlihat mengamati wilayah,” lanjut laporan tersebut.

Kapal militer Kil-158 tersebut  memasuki perairan Boshporus dari Laut Hitam sekitar pukul 08.30. Kapal itu kemudian dikawal sebuah kapal Penjaga Pantai Turki, kapal polisi maritim dan helikopter polisi.
 


Pekan lalu, dua kapal yang mengangkut kargo untuk militer Rusia di Suriah melewati perairan yang menghubungkan Laut Hitam dan Laut Mediterania itu. Kedua kapal itu juga dikawal tiga kapal Penjaga Pantai Turki, sebuah kapal kepolisian Istanbul, dan helikopter polisi.

Kapal-kapal asing termasuk kapal Rusia kerap melintasi perairan dekat Istanbul tersebut dengan mengibarkan bendera Turki sebagai tanda penghormatan.

Hubungan Turki dan Rusia sendiri sampai saat ini belum normal setelah pesawat tempur Turki menembak jatuh pesawat jet tempur Rusia di dekat perbatasan Suriah-Turki beberapa waktu lalu. (SindoNews)