HOT NEWS

Tampilkan postingan dengan label Senapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Senapan. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Juni 2016

Seorang Oknum Intelijen Yordania Curi dan Jual Senjata Milik CIA

Seorang anggota intilijen Yordania dikabarkan telah mencuri dan menjual senjata-senjata milik badan intelijen Amerika Serikat (AS) atau CIA dan Arab Saudi. Senjata yang dicuri adalah senjata yang hendak dikirimkan kepada pemberontak Suriah.

Seorang Oknum Intelijen Yordania Curi dan Jual Senjata Milik CIA

Menurut laporan yang dirilis New York Times, seperti dilansir Al Arabiya pada Senin (27/6), anggota intelijen Yordania itu mencuri senjata yang dikirimkan ke Yordania, untuk kelak diberikan kepada pemberontak Suriah. Senjata itu kemudian dijual ke pasar gelap.

Menurut sebuah penyelidikan bersama oleh New York Times dan Al Jazeera, beberapa senjata yang dicuri digunakan dalam penembakan pada bulan November yang menewaskan dua warga Amerika dan tiga orang lainnya di fasilitas pelatihan polisi di Amman.


 

Pencurian senjata, yang berakhir pada bulan lalu, setelah adanya keluhan dari pemerintah Amerika dan Saudi mengenai hal ini, telah menyebabkan aliran senjata baru yang cukup deras ke pasar gelap.

Petugas Yordania yang merupakan bagian dari rencana “reaped a windfall” dari penjualan senjata, menggunakan uang hasil penjualan senjata itu untuk membeli telepon genggam, mobil dan barang-barang mewah lainnya.

Namun, dalam laporannya New York Times tidak menjabarkan bagaimana nasib anggota intelijen Yordania tersebut. Apakah sudah ditangkap dan diadili, atau belum.

Rabu, 22 Juni 2016

Senapan Pembunuh AR-15 Terjual 30 Ribu Pucuk Pasca Penembakan Orlando

Senapan serbu AR-15 laris manis usai penembakan di kelab gay Orlando yang menewaskan 50 orang. Senapan pembunuh ini menjadi favorit pelaku penembakan massal di Amerika Serikat dan menjadi sasaran perdebatan pengendalian senjata.

Diberitakan The Independent, sebuah toko daring di Amerika Serikat bahkan telah menjual lebih dari 30 ribu pucuk AR-15 dalam sepekan usai penembakan di Orlando.


Senapan Pembunuh AR-15 Terjual 30 Ribu Pucuk Pasca Penembakan Orlando

Toko yang berbasis di Bellevue, Pennsylvania itu, Hunter's Warehouse, mengakui penjualan AR-15 meningkat usai pelaku penembakan Orlando, Omar Mateen, menggunakannya dalam insiden itu.

Senapan semi-otomatis yang merupakan pengembangan dari senjata serbu M-16 militer ini juga digunakan dalam berbagai peristiwa penembakan di AS, yaitu di San Bernardino tahun lalu yang menewaskan 14 orang, pembantaian 27 siswa dan guru di SD Sandy Hook, dan pembunuhan 12 orang di bioskop Aurora, sama-sama di tahun 2012.


Pemilik Hunter's Warehouse, Tom Engle, mengatakan bahwa peningkatan penjualan bukan karena adanya penembakan, namun karena perdebatan pemerintah soal larangan penjualan senjata itu ke publik.

"Saat masyarakat terancam kehilangan hak mereka untuk membeli senjata tertentu, maka mereka akan mencari dan ingin memilikinya," kata Engle.




Pada tahun 1994 senapan serbu seperti AR-15 ini sempat dilarang penjualannya di AS. Namun pada tahun 2004, larangan ini kedaluwarsa dan tidak diperpanjang berkat lobi ketat NRA, AR-15 kembali beredar di pasaran.

Pemilik senjata Jon Stokes dari Texas dalam tulisannya di Vox mengaku memilih AR-15 karena memiliki banyak sekali aksesoris, bisa dimodifikasi dan bisa dipadupadankan dengan senjata lainnya.

"Polisi dan sipil membeli AR-15 karena satu senapan ini bisa digunakan untuk olahraga, berburu dan dalam skenario kekerasan, oleh seorang amatir. Dalam hal ini, AR-15 pada dasarnya adalah Lego raksasa untuk orang dewasa," kata Stokes. (CNN)

Minggu, 12 Juni 2016

Pasukan Tempur Amerika Serikat Minta Dibuatkan Senjata AK-47

Komando Operasi Khusus Amerika Serikat (SOCOM) sedang mempertimbangkan untuk meminta produsen senjata AS menuntaskan salinan rancangan senapan serbu Rusia, AK-47. SOCOM, yang mengawasi unit paling elit di negara itu, berencana menjadikan senapan serbu legendaris itu sebagai senjata perang bagi pasukan AS, seperti dilaporkan Washington Post.

Pasukan Tempur Amerika Serikat Minta Dibuatkan Senjata AK-47

Seperti dikutip dari Sputnik, Minggu (12/6/2016), SOCOM telah memposting pesanan untuk senjata non-standar dan amunisinya kepada situs kontraktor federal pada awal bulan lalu. Istilah "non-standar" berkaitan dengan senjata yang tidak digunakan oleh AS dan sekutu NATO-nya, termasuk senapan serbu Kalashnikov, senapan sniper Dragunov, dan senjata pesawat 14,5mm.

Menurut juru bicara SOCOM, Matt Allen, dalam jangka panjang AK-47 buatan AS dapat membantu pembayar pajak menghemat uang. Selain itu, menurut Washington Post, pemerintah AS akan mudah mengontol peredaran senjata tersebut.


Wacana ini pun menuai kritikan dari pakar militer Rusia Nikolay Kireyev. Menurutnya, dengan menciptakan kloningan AK-47, AS telah menjatuhkan harga Kalashnikov di dunia dan mulai memasok kloningannya ke negara-negara lain.

"Mencuri perkembangan orang lain tanpa membayar untuk itu tentu saja merupakan kebijakan yang disengaja. AS tidak memiliki hak hukum untuk menghasilkan AK-47. Kalashnikov tengah berusaha untuk melindungi merek dagang mereka di AS, tetapi dihentikan karena sanksi anti Rusia. Pencurian dengan dukungan negara sangat nyaman bukan?" kata Kireyev.

Untuk diketahui, Kalashnikov menjadi senjata paling banyak yang didistribusikan di dunia, dimana 100 juta senjata diantaranya diproduksi dalam 60 tahun sejak AK-47 masuk produksi. (SindoNews)