HOT NEWS

Tampilkan postingan dengan label Pesawat Tempur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesawat Tempur. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Maret 2019

Sukhoi SU-27 Rusia Cegat Pesawat Mata-Mata Boeing RC 135V Milik Amerika Serikat

Kementerian Pertahanan Rusia publikasikan video pendek mengnai jet tempur Su-27 yang yang berhasil melacak dan mengidentifikasi target yang terbang diatas perairan netral Laut Baltik dekat perbatasan Rusia pada hari rabu bulan maret tahun 2019.


Sukhoi SU-27 Rusia Cegat Pesawat Mata-Mata Boeing RC 135V Milik Amerika Serikat


Rekaman itu, yang diambil dari kokpit Su-27, menunjukkan jet tempur Rusia bermanuver dengan aman mendekati dari belakang dan mengejar pesawat pengintai Amerika Serikat. 


Video itu mengikuti Kementerian Pertahanan Rusia yang mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Jet Su-27 yang sedang bertugas untuk mengidentifikasi asal target dan mencegatnya" di atas 

Laut Baltik.


lebih lanjut kementrian pertahanan rusia mengatakan bahwa Jet Su-27 kembali dengan selamat ke pangkalannya setelah pesawat asing terbang jauh dari perbatasan Rusia.

Beberapa tahun terakhir telah melihat lebih banyak pesawat mata-mata asing mengintip di dekat perbatasan Rusia. Insiden terbaru sebelum pertemuan RC-135 dilaporkan pada akhir Januari, ketika militer Rusia mengatakan bahwa sebuah jet tempur Su-27 ditugaskan untuk mengidentifikasi dan mencegat sebuah pesawat pengintai Swedia.



Saab Jas 39 Gripen NG Sang Penantang Sukhoi SU-35 Russia

Saab JAS 39 "Gripen" merupakan jet tempur supersonik yang dikembangkan dan diproduksi oleh Saab di Swedia.

Pada tahun 1979 Angkatan udara Swedia membutuhkan pesawat tempur multi-peran baru yang diproyeksikan sebagai pengganti pesawat J-35 Draken dan JA-37 Viggen.
Inisial JAS dari pesawat ini merupakan singkatan dari  Jakt atau udara-ke-udara, Attack atau Serang, dan Spaning atau pengintaian.

Saab Jas 39 Gripen NG Sang Penantang Sukhoi SU-35 Russia

Jet tempur JAS 39 Gripen merupakan hasil pengembangan yang dikerjakan bersama antara Saab Military Aircraft, Ericsson Microwave Systems, Volvo Aero Corporation dan Celsius Aerotech. Saab berhasil menciptakan pesawat generasi keempat tangguh namun dengan biaya yang murah untuk ukuran pesawat dikelasnya. Setelah melewati proses development yang panjang JAS 39 Gripen berhasil diterbangkan pertama kali pada tahun 1988.

Jet tempur ini menawarkan kelincahan, sistem akuisisi target tembak yang canggih, radar multi-peran yang kuat, persenjataan modern, dan kemampuan dalam peperangan elektronik komprehensif. Pesawat ini juga dirancang untuk mengantisipasi semua ancaman pada masa kini dan masa depan.



Mesin yang digunakan pada pesawat ini adalah Volvo-Flygmotor RM12 afterburning turbofan, mesin ini diproduksi oleh Volvo Aero Corporation atas lisensi dari General Electric F404−400. Untuk jangka panjang Saab mempertimbangkan untuk menggunakan mesin yang lebih baru seperti General Electric F414 atau versi thrust-vectoring dari mesin EJ200 milik Eurofighter Typhoon.

Jet tempur ini memiliki Kanard yang berfungsi unutk memberikan pitch rate tinggi dan hambatan yang rendah sehingga memungkinkan pesawat untuk terbang lebih cepat, lebih jauh dan mampuh membawa lebih banyak beban.

Kombinasi sayap delta dan Kanard memberikan Gripen performa yang lebih baik dalam hal karakter terbang maupun lepas landas dan mendarat. Avionik yang total menyatu membuat pesawat ini mampu di "program" sebaik mungkin. Pesawat ini juga mempunyai perangkat perang elektronika internal, sehingga membuatnya mampu mengangkut beban maksimal tanpa mengorbankan kemampuan perang elektronikanya.

Untuk lepas landas pesawat ini hanya membutuhkan landasan pacu sepanjang 800 meter. Satu kemampuan menarik dari gripen adalah kemampuannya untuk mendarat pada jalanan umum, ini disebabkan karena gripen memiliki memampuan pengereman udara untuk menekan pesawat ke arah bawah dan memanfaatkan kanard untuk pengereman lebih lanjut.

Versi A dan B merupakan tipe awal dari persawat tempur ini, kemudain saab group mengembangkan  versi C dan D yang lebih baik dari versi sebelumnnya. Versi terbaru yang telah dikembangakan adalah Gripen Next generation JAS 39 E/F.

Gripen Next generation memiliki jangkauan yang lebih luas dan sistem avionik yang lebih baik, hal yang paling penting pada generasi ini adalah penerapan radar active electronically scanned array atau AESA Selex Galileo Raven ES-05 yang dikembangkan oleh produsen radar asal Italia, Leonardo.

Radar Selex Raven ES-05 merupakan radar pengawasan yang dioptimalkan untuk operasi multi peran, sistem ini meliliki rangkayan mode komprehensif untuk operasi air-to-air dan air-to-ground denga akurasi dan kehandalan yang tinggi. 

Gripen Next Generation juga mengintegrasikan Skyward-G IRIST, untuk menyadiakan fungsionalitas pencarian dan pelacakan sasaran dengan kemampuan siluman, dan mampuh mengidentifikasi teman atau musuh atau Friend-or-Foe (IFF) terhadap  sensor  pesawat lainnya.

JAS 39 Gripen dipersenjatai dengan rudal AIM-120 AMRAAM, AIM-9 Sidewinder, rudal anti kapal Saab Dynamics RBS 15, dan rudal serang permukaan Maverick. 

Saab Dynamics juga bekerjasama dengan produsen utama rudal di Eropa dalam pengembangan rudal baru Udara-ke-Udara. Dua proyek utama yang telah dikerjakan adalah Rudal Meteor,  yang merupakan rudal Udara-ke-Udara jarak menengah dengan jangkauan 10 hingga 20 kilo meter, penembakan rudal ini dipandu radar. Disamping itu juga mengembangkan rudal IRIS-T yang merupakan rudal Udara-ke-Udara dan penembakannya  dipandu infra merah.

Versi Ekspor pesawat ini dipasarkan oleh perusahaan Gripen International, sebuah joint venture antara Saab dan BAE Systems. Pesawat ini sudah dipakai oleh angkatan udara Swedia, Britania Raya, Republik Ceko, Hungaria, Swedia, Afrika Selatan, dan Thailand. Pesawat ini juga gencar ditawarkan kepada negara-negara berkembang termasuk tawaran kepada TNI Angkatan Udara Republik Indonesia.

Pada bulan Juli 2016, Saab Indonesia mengkonfirmasi telah mengirimkan proposal pada awal tahun sebagai tanggapan terhadap persyaratan Angkatan Udara Indonesia. Proposal tersebut termasuk akuisisi awal 16 Gripen C / D senilai 1,5 miliar USD, untuk menggantikan Northrop F-5E Tiger II TNI AU yang telah dioperasikan sejak 1980-an. 

Saab telah menyanggupi peraturan Undang-Undang Industri Pertahanan Indonesia Nomor 16 Tahun 2012, yang mengharuskan kontraktor asing untuk bekerja dengan industri lokal, berkolaborasi dalam produksi dan berbagi teknologi. Mereka juga mengindikasikan bahwa tawaran tersebut dapat menggantikan versi C / D dengan versi E, jika Indonesia bersedia menerima waktu pengiriman yang lebih lama. Pesawat yang bersaing dengan gripen pada waktu itu adalah F-16V, Su-35, Rafale, dan Typhoon.


Video Saab Jas 39 Gripen Next Generation


Jumat, 28 Oktober 2016

Jet Tempur China Dibidik Jet Tempur Jepang

China dibuat murka oleh tindakan yang dilakukan oleh jet tempur milik Jepang di dekat Laut China Timur. Jet temput Jepang dilaporkan menargetkan sebuah jet China, dan melakukan manuver yang membahayakan jet China.


Juru bicara Kemhan China, Wu Qian menyatakan, jet Jepang bukan hanya mengunci posisi jet China, tapi juga melepaskan proyektil pengecoh. Hal itu dinilai sangat membahayakan pilot jet tempur China.

"Apa yang lebih mengkhawatirkan, ketika pesawat dari Pasukan Bela Diri Jepang menghadapi pesawat Cina, radar mereka menyala. Mereka melepaskan proyektil pengecoh dan menunjukkan aksi tidak profesional dan perilaku provokatif lainnya yang berbahaya," kata Wu.


"Tindakan ini membahayakan pesawat dan personel militer Cina dan adalah akar dari masalah maritim dan udara China dan Jepang," sambungnya, seperti dilansir Reuters pada Kamis (27/10).

China mendesak Jepang untuk mengadopsi sikap bertanggung jawab dan mencegah insiden seperti itu terjadi kembali. Sejauh ini pemerintah Jepang belum memberikan komentar mengenai tudingan yang disampaikan oleh China tersebut.  (SindoNews)

Senin, 17 Oktober 2016

Militer Iran Tunjukan Kemampuan Tempur Udara Selama Tiga Hari

Militer Iran dilaporkan menggelar latihan pertahanan udara untuk memamerkan kekuatan udara mereka. Latihan ini digelar di wilayah Isfahan, yang berada di bagian tengah negara tersebut.

Angkatan Udara Iran atau IRIAF akan melakukan latihan militer tersebut selama tiga hari. Pesawat pengebom, pesawat pengintai, dan drone yang baru saja mereka rilis akan terlibat dalam latihan ini.


Militer Iran Tunjukan Kemampuan Tempur Udara Selama Tiga Hari

"Latihan kali ini hanya akan menunjukan bagian dari kemampuan kami untuk melindungi wilayah udara negara kami," kata pejabat IRIAF, Brigadir Jenderal Massoud Rouzkhosh dalam sebuah pernyataan.

"Latihan perang ini ditujukan untuk melawan serangan udara yang dilancarakan oleh musuh-musuh kami," sambungnya, seperti dilansir Reuters pada Senin (17/10).


Kekuatan IARIF sendiri bisa dikatakan lebih lemah dibandingkan dengan negara lain di kawasan. Alasannya, mayoritas dari jet tempur Iran adalah jet tempur buatan Amerika Serikat (AS), yang didapat Iran sebelum revolusi pada tahun 1979.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir IARIF diketahui tengah getol mengembangkan kekuatan tempur mereka, termasuk pengembangan drone. Dimana, beberapa waktu lalu IARIF meluncurkan drone pertama buatan dalam negeri Iran.

Drone itu diketahui merupakan tiruan drone buatan AS yang jatuh dan disita oleh militer Iran lima tahun lalu.  (SindoNews)

Kamis, 13 Oktober 2016

Militer Inggris Perbolehkan Pilotnya Tembak Jatuh Jet Rusia

Pilot-pilot angkatan udara Inggris dikabarkan mendapatkan lampu hijau untuk menembak jatuh jet Rusia saat melakukan misi terbang di Suriah dan Iran jika mereka merasa terancam. Kabar terbaru ini dilaporkan oleh media The Sunday Times.

Militer Inggris Perbolehkan Pilotnya Tembak Jatuh Jet Rusia

"Hal pertama yang dilakukan oleh pilot Inggris adalah mencoba untuk menghindari situasi dimana perang udara terjadi. Anda menghindari wilayah aktivitas Rusia. Namun jika pilot ditembak atau ia percaya akan ditembak, ia bisa membela diri," kata sebuah sumber di Markas Tetap Bersama Inggris (PJHQ) kepada The Sunday Times.

"Kita sekarang tengah menghadapi situasi di mana seorang pilot tunggal, terlepas dari kebangsaanya, dapat memiliki dampak strategis terhadap kejadian di masa depan," katanya lagi seperti dikutip dari Zero Hedge, Jumat (14/10/2016).


Jet tempur Tornado milik Inggris akan dipersenjatai dengan roket pencari panas AIM-132. Roket ini memiliki jangkauan yang lebih panjang dari roket lainnya, sehingga pilot angkatan udara Inggris bisa menembak jatuh pesawat musuh tanpa harus melihat target.

"Sampai sekarang, jet Tornado telah dilengkapi dengan 500lb bom yang dipandu via satelit yang tidak mempunyai atau hanya sedikit menimbulkan ancaman perang di udara. Tapi pada minggu-minggu terakhir situasi telah berubah. Kita perlu menanggapinya dengan sesuai," ujar sebuah sumber di Departemen Pertahan Inggris.

Namun, sumber lain mengatakan bahwa situasi semakin parah. "Kami perlu melindungi pilot kami tapi pada saat yang sama kami mengambil langkah lebih dekat dengan perang. Hanya perlu menembak jatuh satu pesawat dalam perang di udara maka seluruh lanskap akan berubah," katanya. (SindoNews)

Minggu, 18 September 2016

ISIS Tembak Jatuh Pesawat Tempur Suriah

Sebuah jet militer Suriah ditembak jatuh selama misi tempur melawan Negara Islam (ISIS) dekat kota Suriah timur Deir al-Zor. Kabar itu dilaporkan kantor berita negara Suriah, SANA, mengutip sumber militer. Menurut sumber tersebut, kemungkinan pilot pesawat tewas dalam insiden tersebut.

ISIS Tembak Jatuh Pesawat Tempur Suriah

Angkatan Udara Suriah tengah melakukan "serangan udara terkonsentrasi" pada posisi ISIS di lingkungan Deir al-Zor yaitu Gunung al-Tharda, al-Orfi dan al-Kanamat.

Dikutip dari Russia Today, Minggu (18/9/2016), ISIS dilaporkan mengaku bertanggung jawab telah menembak pesawat tersebut. Pernyataan itu dimuat dalam akun media sosial yang berafiliasi dengan kelompok teroris itu.

Insiden itu terjadi hanya sehari setelah 62 tentara Suriah tewas dan 100 lainnya cedera di luar Deir al-Zor dalam serangan udara koalisi pimpinan AS. Kantor berita Suriah SANA melaporkan ISIS lantas melancarkan serangan tak lama setelah posisi tentara Suriah diserang dari udara.

AS mengatakan bahwa serangan itu "tidak disengaja", sementara Rusia mengatakan bahwa tindakan pasukan AS berada diantara antara kelalaian dan bantuan langsung kepada ISIS. (SindoNews)

Rabu, 07 September 2016

Jet Tempur Rusia Cegat Pesawat Mata-mata AS dalam Jarak 3 Meter

Sebuah pesawat jet tempur Rusia melakukan manuver pencegatan “tidak aman dan tidak professional” terhadap pesawat mata-mata Amerika Serikat yang patroli rutin di atas Laut Hitam. Jet tempur Rusia itu bermanuver dalam jarak 10 kaki atau sekitar 3,05 meter di depan pesawat pengintai AS.

Insiden itu diungkap dua pejabat Pentagon AS kepada Reuters. Insiden terjadi pada saat ketegangan antara AS dan Rusia meningkat dalam berbagai masalah, termasuk krisis Suriah.


Jet Tempur Rusia Cegat Pesawat Mata-mata AS dalam Jarak 3 Meter

Seorang pejabat Pentagon, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan bahwa insiden tersebut berlangsung sekitar 19 menit, di mana pesawat jet tempur Su-27 Rusia muncul dalam jarak 10 kaki di depan pesawat mata-mata P-8 AS.

”Mereka di sana selama 12 jam dan ada banyak interaksi. Tapi hanya salah satu dari insiden apa yang disebut pilot bertindak tidak aman,” kata pejabat Pentagon lain yang tidak berwenang berbicara kepada media, yang dikutip Kamis (8/9/2016).


Masih menurut pejabat tersebut, insiden itu sedang ditinjau untuk menentukan apakah akan dimasukkan dalam pembicaraan tahunan pejabat AS dan Rusia tentang pencegatan pesawat. Pemerintah maupun militer Rusia belum merespons laporan dari pejabat Pentagon tersebut.

Ada sejumlah insiden serupa yang melibatkan Rusia dan AS pada tahun ini. Pada bulan April, dua pesawat tempur Rusia melakukan simulasi serangan di dekat kapal perang AS di Laut Baltik.

Peristiwa ini mengingatkan pada Perang Dingin, ketika serangkaian kontak menyebabkan perjanjian bilateral yang bertujuan untuk menghindari interaksi berbahaya di laut. Perjanjian itu diteken pada tahun 1972 oleh Komandan Angkatan Laut AS John Warner dan Komandan Angkatan Laut Soviet Admiral Gorshkov Sergei.

Penjelasan Kemntrian Pertahanan Rusia

Kementerian Pertahanan Rusia mengungkap alasan pesawat jet tempur Su-27  mencegat pesawat mata-mata P-8 AS yang oleh pejabat Pentagon dilakukan dalam jarak tiga meter di atas Laut Hitam. Menurut kementerian itu, pesawat mata-mata AS sudah dua kali mencoba mendekati perbatasan Rusia.

Aksi pesawat pengintai P-8 itu dilakukan dengan kondisi transponder dimatikan. Kondisi itu yang membuat militer Rusia bertindak.

”Pada tanggal 7 September, pesawat pengintai AS, Poseidon P-8 mencoba mendekati perbatasan Rusia dua kali dengan transponder mereka mati,” kata juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Mayor Jenderal Igor Konashenkov, dalam sebuah pernyataan yang dikutip Russia Today, Kamis (8/9/2016).

“Jet tempur Su-27 mencegat pesawat AS sesuai dengan aturan ketat penerbangan internasional,” lanjut pernyataan Konashenkov.

Seorang atase pertahanan AS telah dipanggil oleh Kementerian Pertahanan Rusia setelah insiden di Laut Hitam di dekat perbatasan timur Rusia, di mana sebuah pesawat mata-mata AS terdeteksi terbang terlalu dekat dengan perbatasan Rusia.

Sebelumnya diberitakan bahwa dua pejabat Pentagon menuduh jet tempur Rusia melakukan manuver pencegatan "tidak aman dan tidak profesional" terhadap sebuah pesawat mata-mata AS yang melakukan patroli rutin di Laut Hitam.

Mereka mengatakan bahwa jet tempur Su-27 Rusia muncul di depan pesawat P-8 AS dalam jarak 10 kaki atau 3,05 meter meter selama sekitar 19 menit. (SindoNews)

Selasa, 23 Agustus 2016

Pesawat C-295 Akan Dilengkapi Rudal dan Bom

Airbus dan Roketsan Turki telah menandatangani kerjasama untuk mempersenjatai ‘pesawat C-295 dengan rudal dipandu laser dan bom, sebagai bagian dari upaya Airbus meningkatkan penjualan pesawat C-295 dengan perannya yang baru.

Pesawat C-295 Akan Dilengkapi Rudal dan Bom

Kedua perusahaan menandatangani nota kesepahaman di Farnborough International Airshow pada Rabu, untuk tim desain, integrasi dan pengujian senjata Roketsan, termasuk rudal Cirit 70mm dipandu laser dan rudal jarak jauh, rudal anti-tank L-UMTAS dipandu laser, serta bom dipandu laser Teber.

“Ada kesempatan yang jelas bagi kita untuk mengatasi kebutuhan global, dengan sebuah pesawat utilitas bersenjata hemat biaya, dan berbagai produk Roketsan dan keahlian yang telah terbukti membuat mereka menjadi pasangan yang jelas,” kata Kepala Airbus ‘dari pesawat militer, Fernando Alonso.


Langkah ini merupakan bagian dari program ekspansi Airbus ‘untuk pesawat C-295, yang sudah digunakan sebagai pesawat patroli maritim oleh empat pelanggan.

Langkah berikutnya adalah untuk memperkenalkan versi intelijen dan komunikasi intelijen elektronik, serta sebuah pesawat dengan kemampuan peringatan dini, kata kepala Airbus untuk pemasaran airlifters taktis dan ISR, Fernando Ciria.

Yang ada dalam daftar juga, versi surveilans darat untuk misi pengawasan perbatasan dengan radar moving target indicator dan fungsi aperture radar sintetik, kata Ciria.

“Beberapa pelanggan juga tertarik pada kemampuan serang,” katanya, menambahkan bahwa pylons (cantolan senjata) sekarang dipasang untuk torpedo pada versi patroli maritim yang akan menggunakan amunisi Roketsan, dengan designators sasaran yang ditambahkan.

Untuk saat ini, pesawat Airbus C-235 yang diperoleh dari Angkatan Udara Spanyol telah diubah menjadi gunships oleh ATK untuk digunakan Jordania.

Sebagai bukti lebih lanjut dari langkah memperluas penggunaan pesawat C-295, Airbus mempertunjukan pengisian bahan bakar di udara dalam penerbangan pesawat yang bergerak lambat.

“Sistem roll-on roll-off yang menampung tabung 90 feet dan keranjang pengisian bahan bakar, dapat diperpanjang dari bagian belakang pesawat, dengan kapasitas untuk menyediakan 6 ton bahan bakar, ujar Ciria. (Defensenews | JKGR)

Hadapi China, Jepang Perkuat 200 Jet Tempur F-15 Dengan Tambahan Rudal 2 Kali Lipat

Kementerian Pertahanan Jepang menginginkan 200 pesawat jet tempur F-15 di-upgrade untuk bisa memuat rudal udara dua kali lipat lebih banyak dari sebelumnya. Keinginan militer Jepang itu untuk mengantisipasi kemungkinan konfrontasi dengan China setelah bersitegang terkait sengketa kawasan Laut China Timur.


Hadapi China, Jepang Perkuat 200 Jet Tempur F-15 Dengan Tambahan Rudal 2 Kali Lipat

Untuk meng-upgrade ratusan jet tempur buatan Amerika Serikat (AS) yang akan dioperasikan Angkatan Udara Bela Diri Jepang (ASDF) itu, Departemen Pertahanan Jepang akan meminta alokasi dana lebih besar. Demikian laporan Nikkei Asian Review.

Saat ini, setiap unit pesawat jet tempur F-15 bisa memuat delapan rudal udara. Dengan di-upgrade, militer Jepang menghendaki setiap jet tempur F-15 bisa memuat 16 rudal.

Selain itu, sayap rusak dan bagian lain akan diperbaiki untuk memperpanjang umur jet-jet tempur tersebut.
 


Jepang saat mampu mengoperasikan 200 jet tempuyr F-15 jika pertempuran pecah. Jepang juga memiliki sekitar 90 pesawat tempur F-2 multirole Mitsubishi yang merupakan pengembangan dari F-16.

Anggaran militer Jepang pada 2017 dilaporkan mencapai USD51 miliar, yang mencakup pembelian terpisah pesawar jet tempur siluman generasi kelima AS F-35 yang kontroversial. Pesawat jet tempur tercanggih AS itu rencananya akan dikerahkan di Pangkalan Udara Misawa di ujung utara Honshu.

Jepang dan China terlibat sengketa kepulauan di Laut China Timur yang beberapa pekan ini terus memanas. Kepulauan itu diklaim Tokyo  dengan nama Senkaku dan juga diklaim Beijing dengan nama Diaoyu.

“Daya jelajah pesawat militer China telah bertambah lagi, mereka datang semakin dekat menuju  wilayah kami,” kata seorang pejabat Kementerian Pertahanan Jepang seperti dikutip Nikkei Asian Review, kemarin (22/8/2016).

Kementerian Pertahanan Jepang menambahkan, bahwa ASDF telah mencegat jet tempur China 199 kali dari bulan April sampai Juni 2016 di kawasan Laut China Timur. Jumlah itu meningkat 75 persen dari periode yang sama pada tahun lalu.

Sebelumnya, Jepang mengungkap langkah China yang sudah membangun infrastruktur yang disebut media Tokyo sebagai “dermaga kapal perang” di Pulau Nanji, wilayah China di kawasan Laut China Timur. (SindoNews)

Senin, 11 Juli 2016

Amerika Ancam Kanada Jika Tak Beli Jet Tempur F-35 AS

Kontraktor pertahanan Amerika Serikat (AS) Lockheed Martin kembali melemparkan ancaman kepada Kanada terkait dengan jet F-35. Lockheed Martin kembali menegaskan, jika Kanada tidak berkomitmen untuk membeli pesawat jet tempur F-35, maka mereka akan menghentikan operasi pabrik mereka yang berada di Kanada.

Amerika Ancam Kanada Jika Tak Beli Jet Tempur F-35 AS

Penghentian operasi pabrik ini, berarti akan ada ribuan orang di Kanada yang akan kehilangan pekerjaan mereka. Setidaknya terdapat 10 ribu orang pegawai yang bekerja di pabrik Lockheed Martin yang berada di Kanada.

Ancaman ini kembali muncul setelah Menteri Pertahanan Kanada Harjit Sajjan mengatakan, pihaknya akan berusaha untuk berbicara dengan Lockheed Martin terkait dengan F-35. Dimana, Sajjan secara tesirat menuturkan akan berusaha agar Kanada tidak usah membeli pesawat tersebut.


Merespon pernyataan Sajjan, kepala pengembangan F-35 Jeff Babione memberikan pernyataan yang bernada ancaman. Babione menuturkan perusahanya sedang mencari lokasi untuk pabrik baru mereka kelak.




"Tentu Kanada adalah mitra penting kami. Manfaat dari industri pengembangan dan produksi pesawat tempur generasi kelima adalah tidak lain agar Kanada membeli pesawat itu," ucap Babione, seperti dilansir Sputnik pada Minggu (10/7).

"Kami khawatir bahwa Kanada tidak akan mampu melakukan itu. Kami lebih suka Kanada membeli pesawat, tapi ada waktu di mana kita mungkin harus melakukan pekerjaan di tempat lain," sambungnya.

Proyek pesawat jet tempur F-35 telah menelan biaya Pentagon lebih dari USD1,5 triliun. Meskipun harganya sangat mahal, jet tempur ini menuai kritik karena mengalami gangguan pada perangkat lunak.

Jet tempur canggih AS yang harganya melebihi dari nilai produk domestik bruto Kanada tidak akan menghadapi tes operasional awal dan evaluasi (IOT & E) sampai pertengahan 2018. Hal ini terungkap dari laporan Pentagon. Karena keterlambatan ini, Lockheed Martin tidak akan menyelesaikan produksi armada F-35 sampai 2019 dan pesawat tempur ini kemungkinan tidak siap tempur sampai akhir 2021. (SindoNews)

Sabtu, 02 Juli 2016

Israel Bombardir Empat Lokasi Jalur Gaza

Israel melancarkan serangan udara ke Jalur Gaza, setelah pejuang Palestina menembakkan roket yang menghantam sebuah bangunan di Israel selatan. Serangan udara Israel sendiri menghantam empat lokasi di Jalur Gaza, menyebabkan kerusakan namun tidak ada korban luka.



"Empat lokasi, termasuk lokasi lokakarya, dua lokasi sayap bersenjata Hamas dan situs pelatihan militer bagi kelompok Jihad Islam Palestina," kata pejabat keamanan dalam kondisi anonimitas seperti dikutip dari Al Arabiya, Sabtu (2/7/2016).

Menurut pejabat tersebut, dua dari situs itu berada di Kota Gaza, sementera dua lainnya berada di Beit Laha, sebelah utara wilayah kantung itu, yang dijalankan oleh kelompok Hamas. Semua situs tersebut sebelumnya telah ditargetkan oleh Israel.


Militer Israel mengatakan dalam sebuah pernyataan, serangan itu menargetkan empat lokasi yang menjadi komponen infrastruktur operasional Hamas di utara dan pusat Jalur Gaza.

Sebelumnya, sebuah roket yang diluncurkan dari Jalur Gaza menghantam bangunan di kota Israel selatan, Sderot. Serangan tersebut merusak bangunan, namun tidak menyebabkan cedera. Media Israel mengatakan, roket itu menghantam taman kanak-kanak, tetapi militer Israel tidak memberikan rincian lebih lanjut. (SindoNews)

Senin, 27 Juni 2016

Turki Isyratkan Penyesalan Telah Tembak Jatuh Jet Bomber Su-24 Rusia

Presiden Turki Tayyip Erdogan tampaknya mulai menyesali insiden penembakan jet Su-24 Rusia oleh militer Turki. Hal ini disampaikan oleh juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov.

Turki Isyratkan Penyesalan Telah Tembak Jatuh Jet Bomber Su-24 Rusia

Peskov mengatakan, Erdogan kembali mengirimkan surat kepada Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam surat itu, papar Peskov, tersirat bahwa Erdogan menyesali insiden itu, dan menunjukan tanda akan segera meminta maaf pada Rusia.

"Presiden Putin telah menerima surat dari Presiden Turki, Erdogan. Pemimpin Turki mengungkapkan minat dalam menyelesaikan situasi di sekitar jatuhnya pesawat jet pembom Rusia," kata Peskov.




"Erdogan mengatakan, Turki berbagi rasa sakit yang dirasakan oleh keluarga pilot jet Su-24 yang ditembak jatuh dan melihatnya sebagai duka Turki," sambungnya, seperti dilansir Sputnik pada Senin (27/6).

Dia menambahkan, dalam suratnya Erdogan juga mengatakan, Turki siap untuk mengambil semua langkah yang diperlukan untuk meringankan rasa sakit dan beratnya dampak atas insiden itu terhadap keluarga almarhum pilot Su-24.

"Dalam surat tersebut, Presiden Turki juga mengatakan, ia selalu melihat Rusia sebagai mitra strategis dan teman. Dia turut menuturkan, Turki tidak pernah bermaksud untuk menembak jatuh pesawat dari Federasi Russia," pungkasnya. (SindoNews)

Kamis, 23 Juni 2016

Turki Tegaskan Tak Akan Pernah Minta Maaf pada Rusia

Pemerintah Turki menegaskan mereka tidak akan pernah meminta maaf kepada Rusia terkait insiden penembakan Su-24. Rusia mengajukan dua syarat bagi Turki jika ingin hubungan kedua negara kembali normal, yakni meminta maaf dan membayar kompensasi kepada keluarga korban.

Turki Tegaskan Tak Akan Pernah Minta Maaf pada Rusia

"Kami turut sedih dengan apa yang terjadi, tapi kami tidak akan membayar kompensasi atau meminta maaf atas insiden itu," kata juru bicara kepresidenan Turki, Ibrahim Kalin dalam sebuah pernyataan.

Kalin dalam pernyataanya juga mengatakan, pihaknya percaya baik dalam waktu dekat ataupun panjang hubungan Turki dan Rusia akan kembali membaik. Sebab, bila dibiarkan terus seperti ini, hal ini akan berdampak buruk bagi kedua negara.


"Hal ini memang memiliki dampak negatif pada sektor pariwisata Turki, tapi di saat yang bersamaan juga menciptakan masalah bagi pihak Rusia," sambungnya, seperti dilansir APA pada Kamis (23/5).

Sementara itu sehubungan surat ucapan selamat yang dikirim oleh Presiden Turki Tayyip Erdogan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin pada kesempatan hari nasional Rusia, Kalin mengatakan bahwa surat itu dikirim sebagai bentuk penghormatan kepada Rusia.  (SindoNews)

Minggu, 19 Juni 2016

Norwegia Belanja Jet Tempur dan Kapal Selam Untuk Antisipasi Invasi Militer Rusia

Norwegia mengumumkan rencana meningkatkan alutsista militer terbesar sejak akhir Perang Dingin untuk meningkatkan pertahanannya terhadap serangan tidak terduga Rusia.

Negara Skandinavia anggota NATO itu berencana membeli jet tempur baru dan kapal selam untuk meningkatkan kemampuan melindungi diri dari Rusia di perbatasan Arktik. Norwegia diramalkan akan membeli 52 jet tempur F-35 dan empat kapak selam, serta pesawat pengintai baru untuk mengganti enam pesawat P-3 Orion yang dinilai sudah tua.


Norwegia Belanja Jet Tempur dan Kapal Selam Untuk Antisipasi Invasi Militer Rusia

"Kami memiliki tetangga yang semakin tak terduga di Timur, yang memperkuat kapasitas militernya dan menunjukkan kesediaan untuk menggunakan kekuatan militer sebagai alat politik," kata Perdana Menteri Norwegia, Erna Solberg, seperti dikutip dari France24, Minggu (19/6/2016).


Soldberg mengatakan, kekuatan militer negaranya saat ini tidak sesuai dengan situasi geoplotik dan menggambarkan rencananya itu sebagai upaya pertahanan terbesar dalam sejarah sejak akhir Perang Dingin.

"Sayangnya keadaan geopolitik telah berubah secara signifikan, dengan cara yang buruk, dalam beberapa tahun terakhir," tukas Soldberg. (SindoNews)

Jumat, 17 Juni 2016

Jet Tempur Siluman Terbaru Rusia T-50 Memasuki Tahap Produksi Masal

United Aircraft Corporation (UAC), perusahaan pembuat jet tempur Rusia dilaporkan siap untuk memproduksi jet tempur siluman generasi terbaru, yakni T-50. T-50 adalah jet tempur siluman generasi kelima Rusia.

Jet Tempur Siluman Terbaru Rusia T-50 Memasuki Tahap Produksi Masal

Seorang sumber di UAC menuturkan, pihaknya sedang mempersiapkan laporan awal untuk membuat kelompok pertama pesawat yang juga dikenal sebagai Airborne Complex Calon Frontline Aviation (PAK FA), untuk Angkatan Udara Rusia. Dalam kelompok pertama itu, UAC akan membuat 12 jet T-50.

Sumber itu, seperti dilansir Sputnik pada Jumat (17/6), mengatakan uji coba terakhir T-50 akan dilakukan pada tanggal 20 Juni mendatang. Uji coba itu akan dilakukan di Komsomolsk-on-Amur, yang berada di timur Rusia.


 

"Jet sudah sepenuhnya memenuhi persyaratan kemampuan tempur militer untuk pesawat tempur generasi kelima," kata sumber yang berbicara dalam kondisi anonim.

"Saat ini sudah aman bagi kami untuk mengatakan bahwa dengan pesawat ini akan segera diproduksi, T-50 kini dilihat sebagai sebuah unit tempur dan siap untuk produksi massal untuk kepentingan Angkatan Udara Rusia," sambungnya.

Sebelumnya, komandan Angkatan Udara Rusia, Viktor Bondarev mengatakan, bahwa Angkatan Udara Rusia akan menerima jet T-50 mulai awal 2017 mendatang. (SindoNews)

Kamis, 09 Juni 2016

Jet Tempur Su-27 Jatuh dan Meledak

Sebuah pesawat jet tempur Su-27 Rusia jatuh dan meledak di wilayah yang berjarak 30 km di luar Ibu Kota Rusia, Moskow, Kamis (9/6/2016). Pilot jet tempur dinyatakan tewas.

Laporan awal dari sejumlah media Rusia menyebut, jet tempur yang jatuh di daerah permukiman adalah MiG-29. Namun, Departemen Pertahanan Rusia telah mengkonfirmasi bahwa jet tempur yang jatuh adalah Sukhoi Su-27.


Jet Tempur Su-27 Jatuh dan Meledak

Lokasi kecalakaan pesawat tempur itu berada di dekat Desa Muranovo, Distrik Pushkino, luar Moskow.

Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, tidak ada amunisi di dalam pesawat jet tempur tersebut.
 


Tubuh pilot dilaporkan ditemukan, namun identitasnya belum diungkap.

”Tubuh pilot telah ditemukan di dekat pesawat yang jatuh, yang meledak saat menghantam tanah,” kata seorang sumber di lokasi kecelakaan kepada RIA Novosti.

Penyebab kecelakaan belum diketahui. Penyelidik saat ini telah tiba di lokasi kecelakaan.



Rusia Kandangkan Semua Sukhoi


Kementerian Pertahanan Rusia memutuskan untuk mengandangkan semua jet Sukhoi yang mereka miliki. Keputusan ini dibuat setelah adanya kecelakaan yang menimpa Su-27 di dekat Moskow.

Dalam sebuah keterangan, Kemhan Rusia mengatakan, langkah ini akan dilakukan sampai pihaknya menemukan penyebab jatuhnya salah satu jet kebanggaan Rusia tersebut. "Menurut temuan awal, pesawat itu jatuh karena mengalami kesalahan teknis," ujar Kemhan Rusia, seperti dilansir Itar-tass pada Kamis (9/6).

Sementara itu, menurut seorang sumber di Kemhan Rusia, kotak hitam jet tempur tersebut saat ini sudah ditemukan, dan dalam waktu dekat proses pemeriksaan terhadap kotak hitam akan segera dimulai untuk mengetahui penyebab sebenarnya kecelakaan itu.

Sebelumnya diberitakan, sebuah pesawat jet tempur Su-27 Rusia jatuh dan meledak di wilayah yang berjarak 30 km di luar Ibu Kota Rusia, Moskow. Pilot jet tempur dinyatakan tewas.

Laporan awal dari sejumlah media Rusia menyebut, jet tempur yang jatuh di daerah permukiman adalah MiG-29. Namun, Kemhan telah mengkonfirmasi bahwa jet tempur yang jatuh adalah Sukhoi Su-27.

Menurut Kemhan Rusia, tidak ada amunisi di dalam pesawat jet tempur tersebut. Tubuh pilot dilaporkan ditemukan, namun identitasnya belum diungkap. (SindoNews)

Dua Jet Tempur AS Tabrakan di Georgia

Dua pesawat jet tempur F-16C Amerika Serikat (AS) bertabrakan di wilayah udara negara bagian Georgia pada Selasa malam waktu setempat. Pilot-pilot dari kedua jet tempur berhasil menyelamatkan diri.

Kecelakaan ini terjadi ketika kedua jet tempur ambil bagian dalam latihan yang digelar oleh Air National Guard di atas bagian pedesaan di Georgia.


Dua Jet Tempur AS Tabrakan di Georgia

Para pejabat sedang menyelidiki penyebab kecelakaan. Ketika tabrakan terjadi, langit di lokasi kejadian dipenuhi asap berminyak.

Pihak berwenang mengaku sudah menemukan sebagian besar dari rongsokan pesawat jet tempur yang bertabrakan. Namun, siapa pun dilarang menyentuh puing maupun bangkai pesawat jet tempur untuk alasan keamanan.
 


Kolonel Nicholas Gentile Jr, komandan 169 Fighter Wing di McEntire Joint National Guard Base, mengatakan dua jet tempur F-16C yang bertabrakan jatuh jatuh di daerah hutan lebat di dekat Jefferseon County.

Kedua pilot dibawa ke sebuah rumah sakit terdekat di Georgia. Kedunya mampu bergerak dan berbicara normal setelah kecelakaan.

”Mereka mampu berjalan jauh,” kata Gentile, seperti dikutip IB Times, Kamis (9/6/2016). “Mereka sekarang dengan keluarganya. Kedua pilot selamat. kedua pilot berada dalam kondisi yang baik,” lanjut dia.

”Kami memiliki berkah, bahwa kedua pilot kami berpengalaman baik,” imbuh komandan South Carolina National Guard, Mayor Jenderal Robert Livingston. ”Mereka mengeluarkan (diri) secara aman.”

Tabrakan dua jet tempur AS ini terjadi hanya beberapa hari setelah jet tempur F-16 Angkatan Udara AS jatuh dalam demonstrasi di sebuah acara di Akademi Angkatan Udara di Colorado Springs. (SindoNews)

Jumat, 03 Juni 2016

Dua Jet Tempur Amerika Serikat Jatuh Dihari Yang Sama

Dua pesawat jet tempur Amerika Serikat (AS) jatuh berturut-turut di hari yang sama, Kamis waktu setempat. Dua kecelakaan jet tempur itu, salah satunya menewaskan pilot Angkatan Laut AS.

Awalnya, sebuah pesawat jet tempur Thunderbird jatuh di sebelah selatan dari Colorado springs saat acara wisuda Akademi Angkatan Udara, di mana Presiden Barack Obama tampil untuk pidato. Dalam kecelakaan ini, pilot berhasil dikeluarkan dan tidak ada laporan korban luka.



"Saya dapat mengkonfirmasikan pilot itu dikeluarkan dengan aman,” kata pejabat Angkatan Udara AS, Mayor William Russell.

Namun, tak lama kemudian, sebuah pesawat jet tempur Blue Angels AS jatuh dan meledak di Bandara Smyrna, Tennessee. Dalam insiden ini, seorang pilot Angkatan Laut AS tewas.
 


Kecelakaan jet tempur Blue Angels menyebabkan ledakan besar.

Kepolisian Smyrna dalam konferensi pers Kamis malam membenarkan bahwa satu orang yang tewas di tempat kejadian adalah pilot AS.

Jet tempur Blue Angels disiapkan di Bandara Smyrna untuk tampil di acara dua tahunana The Great Tennessee Airshow pada 4 dan 5 Juni 2016.

Menurut laporan WSMV, Jumat (3/6/2016), polisi Smyrna telah menyerahkan penyelidikan ke Federal Aviation Administration dan militer AS.

Selain menewaskan seorang pilot, kecelakaan jet tempur Blue Angels ini membuat listrik padam yang berdampak pada sekitar 1.500 orang. Sebab, saat jatuh pesawat itu menghantam kabel listrik.

Hingga kini, Pentagon belum berkomentar soal dua kecelakaan jet tempur AS. (SindoNews)

Jumat, 27 Mei 2016

Dua Jet Tempur AL Amerika Serikat Tabrakan di North Carolina

Dua pesawat tempur Angkatan Laut Amerika Serikat bertabrakan di lepas pantai North Carolina pekan ini. Empat orang awak pesawat berhasil diselamatkan oleh sebuah kapal nelayan.

Dua jet F/A-18F Super Hornet saling bertabrakan pada Kamis (26/5) pukul 10.40 pagi waktu setempat, menurut keterangan juru bicara AL, Ensign Mark Rockwellpate kepada CNN.


Dua Jet Tempur AL Amerika Serikat Tabrakan di North Carolina

Penjaga pantai menyatakan bahwa seorang awak kapal nelayan berhasil menyelamat empat pilot, yakni dua orang dari masing-masing pesawat, di kawasan Samudera Atlantik, sekitar 40 km sebelah timur Oregon Onlet.


Para korban yang selamat langsung dilarikan ke rumah sakit Sentara Norfolk di Virginia dengan menggunakan helikkopter Jayhawk HH-60. Tidak ada informasi soal korban terluka, menurut Rockwellpate.

Menurut sejumlah pejabat AL AS, para awak tengah melakukan misi pelatihan rutin di Cape Hatteras.

Afiliasi CNN di Norfolk, WTKR melaporkan dua awak dapat berjalan dari helikopter menuju rumah sakit. Sementara, awak lainnya dapat bergerak selagi menunggu bantuan.

Keempat awak tersebut ditugaskan dalam Skuadron 211 Jet Tempur Penyerang yang disebut "Petarung Skakmat," yang berbasis di pangkalan udara Angkatan Laut di pantai Virginia. (CNN)

Kamis, 19 Mei 2016

China Tuntut AS Setop Mata-Matai Laut China Selatan

Pemerintah China marah atas pengumuman Pentagon Amerika Serikat (AS) yang menuduh dua pesawat jet tempur Beijing mencegat pesawat mata-mata Washington secara tidak aman di kawasan Laut China Selatan. China menuntut AS untuk menghentikan pengintaian di Laut China Selatan.

Kedua negara ini terkunci dalam ketegangan setelah tidak ada pihak yang mengaku bersalah dalam insiden pada hari Selasa lalu.


China Tuntut AS Setop Mata-Matai Laut China Selatan
Pesawat jet tempur J-11 China

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China; Hong Lei, menuduh AS membuat tuduhan yang tidak benar.

”Pesawat militer AS sering melakukan pengintaian di perairan pantai kami, mereka serius membahayakan keamanan maritim China,” katanya, seperti dikutip Reuters, Jumat (20/5/2016).
 


“Kami menuntut AS segera menghentikan jenis kegiatan pengintaian dekat guna menghindari insiden semacam ini terjadi lagi,” lanjut Hong Lei.

Pada Selasa lalu, dua jet tempur J-11 China mencegat dua pesawat mata-mata EP-3 AS dalam jarak 50 kaki di kawasan Laut China Selatan. China kemarin telah membantah bahwa pencegatan pesawat intai AS itu dilakukan secara tidak aman.

Sebaliknya, China menegaskan bahwa AS melakukan operasi mata-mata di atas Pulau Hainan, milik China.

Seorang sumber di Pemerintah AS yang dikutip Reuters mengatakan bahwa jika Beijing berharap tindakan itu akan mendapatkan perhatian Amerika, maka itu menjadi “permainan berbahaya".

Sementara itu, Gedung Putih berusaha untuk meredakan ketegangan setelah pernyataan Pentagon membuat China tersinggung.

”Selama tahun lalu, Departemen Pertahanan (Pentagon) telah melihat perbaikan dalam cara terbang pilot militer China, konsisten dengan pedoman internasional dan konsisten dengan pengoperasian pesawat secara aman dan profesional,” kata juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest.

”Jadi ada saluran diplomatik dan militer konsisten bekerja mengatasi jenis-jenis masalah. Agaknya, di saluran-saluran (diplomatik dan militer) para pejabat China dapat menjelaskan perspektif mereka apa sebenarnya yang terjadi,” lanjut Earnest. (Sindonews)