HOT NEWS

Tampilkan postingan dengan label Rudal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rudal. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Oktober 2016

Makkah Nyaris Dihantam Rudal Balistik Houthi Yaman

Milisi pemberontak Houthi Yaman meluncurkan rudal balistik ke arah kota suci Makkah pada hari Kamis. Namun, militer koalisi Arab yang yang dipimpin Arab Saudi berhasil mencegat dan menghancurkan rudal Houthi yang nyaris menghantam Kota Makkah itu.

Makkah Nyaris Dihantam Rudal Balistik Houthi Yaman

Serangan Houthi dengan target Kota Makkah itu dikonfirmasi militer Saudi yang disiarkan kantor berita negara Saudi, SPA, Jumat (28/10/2016).

Menurut pernyataan militer Saudi, pasukan koalisi Arab menghancurkan rudal balistik Houthi yang sudah melesat 65 km (40 mil) dari kota suci Makkah. Serangan rudal Houthi tidak menimbulkan kerusakan terhadap situs suci umat Islam.


Makkah seperti diketahui merupakan rumah bagi berbagai situs suci dalam Islam, termasuk Masjidilharam.

Sementara itu, kelompok Houthi dalam sebuah pernyataan hari Jumat, mengkonfirmasi tembakan rudal balistik Burkan-1 ke wilayah Arab Saudi. Namun, Houthi mengklaim tembakan rudal balistik mereka diarahkan ke Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah, bandara tersibuk Kerajaan Arab Saudi.

Kelompok Houthi telah menguasai sebagian wilayah Yaman utara termasuk Ibu Kota Sanaa bersama dengan sekutunya para loyalis mantan Presiden Ali Abdullah Saleh.  (SindoNews)

Rabu, 26 Oktober 2016

Rusia Ujicoba Rudal Glider Hipersonik Yang Diklaim Kalahkan Sistem Anti-Rudal AS

Pasukan rudal strategis Rusia meluncurkan rudal balistik RS-18 dari glider hipersonik, pada hari Selasa. Glider hipersonik yang bisa membawa hulu ledak nuklir ini diklaim mampu mengalahkan sistem anti-rudal Amerika Serikat (AS).

Uji coba dilakukan pada tengah hari dari sebuah situs dekat kota Yasny, wilayah Orenburg, di Ural selatan. Hulu ledak yang ditembakkan dilaporkan mencapai lapangan tembak Kura di Kamchatka, wilayah Timur Jauh Rusia.


Rusia Ujicoba Rudal Glider Hipersonik Yang Diklaim Kalahkan Sistem Anti-Rudal AS

”Tes itu sukses. Hulu ledak sampai ke lapangan Kura,” demikian laporan dari Kementerian Pertahanan Rusia, seperti dikutip Russia Today, Rabu (26/10/2016).

Sebuah blog pertahanan populer, MilitaryRussia.ru melaporkan, peluncuran rudal itu dimaksudkan untuk menguji hulu ledak dari glider hipersonik Rusia yang saat ini dikenal sebagai “object 4202”, atau Aeroballistic Hypersonic Warhead.


Beberapa negara sejatinya juga sedang mengembangkan teknologi glider hipersonik. AS misalnya, memiliki HTV-2, sebuah perangkat yang dikembangkan oleh DARPA yang sudah menjalani dua uji coba.

China juga mengembangkan teknologi serupa yang dinamai DF-ZF. Beijing pertama kali mengkonfirmasikan uji coba glider hipersoniknya pada 2014. India juga sedang mempelajari teknologi pesawat hipersonik, tapi tidak dengan pengembangan hulu ledak rudal strategisnya.

Object 4202 disebut-sebut dirancang untuk menjadi perangkat generasi rudal strategis berat Rusia RS-28 Sarmat atau yang dikenal sebagai rudal “Setan 2”. Foto rudal “Setan 2” beberapa hari lalu dirlis online oleh Rusia yang diklaim mampu menghancurkan wilayah seukuran Texas maupun Prancis hanya dalam serangan tunggal.  (SindoNews)

Rabu, 24 Agustus 2016

Kemampuan Rudal Bavar-373 Iran Saingi Rudal S-300 Rusia

Iran baru-baru ini memamerkan sistem rudal pertahanan udara terbarunya, Bavar-373 yang karakteristiknya mirip dengan sistem rudal pertahanan udara S-300 Rusia. Lantaran mirip, kini muncul spekulasi bahwa Bavar-373 Iran menjadi pesaing S-300 Rusia.

Rusia sejatinya masih terikat kontrak dengan Iran untuk mengirim S-300, sebagai pengganti pembelian paket senjata yang dibatalkan Moskow di masa lalu. Namun Iran, terkesan enggan melanjutkan pembelian senjata itu.



Rudal-Bavar-373-Iran

Sistem rudal pertahanan Bavar-373 Iran diluncurkan secara resmi oleh Presiden Iran Hassan Rouhani hari Minggu lalu. Bavar-373 merupakan sistem rudal pertahanan buatan sendiri yang sudah lama dinantikan Iran.

Bavar-373 berhasil diuji coba pada bulan Agustus 2014. Hasilnya mirip dengan Rusia S-300 dan mampu menghantam target di ketinggian.


Pada hari Senin, Menteri Pertahanan Iran, Hossein Dehghan, mengumumkan bahwa Teheran sudah bersiap memproduksi massal sistem rudal pertahanan udra Bavar-373 setelah uji coba lanjutan dilakukan pada Maret 2017.

Spekulasi bahwa Bavar-373 Iran menjadi pesaiang S-300 Rusia tak dipungkiri Mahmud Shoori, Direktur Eurasia Research Group di Center for Strategic Research (CSR), sebuah kelompok think tank terkemuka di Iran.

Menurutnya, secara teknologi, sangat sulit untuk membedakan dua sistem rudal pertahanan S-300 Rusia dan Bavar-373 Iran.Keduanya memiliki kesamaan dan sulit dibedakan jika digunakan secara bersamaan.

Shoori mengatakan, yang lebih penting adalah perkembangan sistem rudal domestik Iran ditujukan untuk memuaskan semua kebutuhan militer secara mandiri.

”Secara keseluruhan, saya tidak melihat ada masalah bagi Iran melanjutkan pembelian dari S-300 di bawah kontrak yang ada (dengan) Rusia, sementara secara bersamaan (Iran) mengembangkan dan menampilkan prestasi industri pertahanan militer,” ujar Mahmud Shoori kepada Sputnik, yang dikutip Rabu (24/8/2016).

Menurutnya, prioritas utama untuk kompleks pertahanan militer Iran adalah memaksimalkan produksi persenjataan strategisnya secara mandiri.

Meski demikian, Shoori yakin kerjasama militer-teknis antara Rusia dan Iran akan terus berlanjut.

”Sejauh yang saya tahu, menteri pertahanan kami telah mengatakan bahwa Iran memiliki (kerjasama). Saat ini tidak ada kebutuhan pengiriman sistem rudal pertahanan canggih. Apa yang sudah kita miliki dalam pelayanan dan apa yang sekarang sedang disampaikan oleh Rusia cukup untuk memenuhi tuntutan industri pertahanan kami,” imbuh dia.

“Saya pribadi berpikir bahwa kerjasama militer-teknis antara dua negara pasti akan terus berlanjut," katanya. (SindoNews)

Peluncuran Rudal Balistik Korea Utara dari Kapal Selam Tuai Kecaman

Militer Korea Urtara telah meluncurkan rudal balistik dari kapal selam di lepas pantai timur pagi ini (24/8/2016). Manuver rudal terbaru Korut ini dipantau militer Korea Selatan.

Korut semakin gencar menembakkan rudal balistik meski sudah dijatuhi rentetan sanksi berbagai negara karena melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.


Peluncuran Rudal Balistik Korea Utara dari Kapal Selam Tuai Kecaman

Pihak Staf Gabungan Militer Korea Selatan, seperti dikutip Reuters mengatakan, uji tembak rudal balistik Korut berlangsung sekitar pukul 05.30 waktu setempat di dekat kota pesisir Sinpo, di mana citra satelit menunjukkan keberadaan pangkalan kapal selam.

Penembakan rudal balistik dari kapal selam Korut ini terjadi dua hari setelah Korea Selatan dan Amerika Serikat (AS) memulai latihan militer tahunan di Semenanjung Korea. Rezim Kim Jong-un mengutuk latihan militer itu karena diyakini sebagai persiapan untuk menginvasi Pyongyang.


Korut bahkan sudah mengancam akan meluncurkan serangan nuklir terhadap latihan kedua negara itu jika terjadi agresi sedikit pun terhadap wilayah darat, laut dan udara Pyongyang.

Beberapa pekan lalu, Korut juga menembakkan rudal balistik yang mendarat di dekat perairan Jepang.

Ketegangan di Semenanjung Korea kian memanas setelah terjadi Wakil Duta Besar Korut di London membelot ke Korea Selatan. Pembelotan itu telah membuat malu rezim Kim Jong-un yang menunjukkan rapuhnya kekuatan elite politik Korut.




Dikecam Banyak Negara

Pemerintah China menegaskan, mereka menentang uji coba rudal balistik terbaru yang dilakukan oleh Korea Utara (Korut). Korut diketahui melakukan uji coba terbaru pada pagi ini (24/8).

Dalam sebuah pernyataan, Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan, pihaknya menentang semua tindakan yang mampu memancing ketegangan di Semenanjung Korea, salah satunya adalah uji coba rudal yang dilakukan Korut.

"China menentang program rudal nuklir Korut serta kata-kata atau perbuatan yang menimbulkan ketegangan di semenanjung Korea," kata Wang Yi, paska melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Jepang dan Korea Selatan (Korsel) di Tokyo.

Sebelumnya diberitakan, Staf Gabungan Militer Korsel mengatakan, uji tembak rudal balistik Korut berlangsung sekitar pukul 05.30 waktu setempat di dekat kota pesisir Sinpo, di mana citra satelit menunjukkan keberadaan pangkalan kapal selam.

Penembakan rudal balistik dari kapal selam Korut ini terjadi dua hari setelah Korea Selatan dan Amerika Serikat (AS) memulai latihan militer tahunan di Semenanjung Korea. Rezim Kim Jong-un mengutuk latihan militer itu karena diyakini sebagai persiapan untuk menginvasi Pyongyang.

Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe menyebut aksi tersebut tidak dapat dimaafkan dan menjadi ancaman serius bagi keamanan Jepang. Abe mengatakan pemerintah Jepang akan mengajukan protes keras terhadap tetangganya yang terisolasi itu. (SindoNews)

Selasa, 23 Agustus 2016

Hadapi China, Jepang Perkuat 200 Jet Tempur F-15 Dengan Tambahan Rudal 2 Kali Lipat

Kementerian Pertahanan Jepang menginginkan 200 pesawat jet tempur F-15 di-upgrade untuk bisa memuat rudal udara dua kali lipat lebih banyak dari sebelumnya. Keinginan militer Jepang itu untuk mengantisipasi kemungkinan konfrontasi dengan China setelah bersitegang terkait sengketa kawasan Laut China Timur.


Hadapi China, Jepang Perkuat 200 Jet Tempur F-15 Dengan Tambahan Rudal 2 Kali Lipat

Untuk meng-upgrade ratusan jet tempur buatan Amerika Serikat (AS) yang akan dioperasikan Angkatan Udara Bela Diri Jepang (ASDF) itu, Departemen Pertahanan Jepang akan meminta alokasi dana lebih besar. Demikian laporan Nikkei Asian Review.

Saat ini, setiap unit pesawat jet tempur F-15 bisa memuat delapan rudal udara. Dengan di-upgrade, militer Jepang menghendaki setiap jet tempur F-15 bisa memuat 16 rudal.

Selain itu, sayap rusak dan bagian lain akan diperbaiki untuk memperpanjang umur jet-jet tempur tersebut.
 


Jepang saat mampu mengoperasikan 200 jet tempuyr F-15 jika pertempuran pecah. Jepang juga memiliki sekitar 90 pesawat tempur F-2 multirole Mitsubishi yang merupakan pengembangan dari F-16.

Anggaran militer Jepang pada 2017 dilaporkan mencapai USD51 miliar, yang mencakup pembelian terpisah pesawar jet tempur siluman generasi kelima AS F-35 yang kontroversial. Pesawat jet tempur tercanggih AS itu rencananya akan dikerahkan di Pangkalan Udara Misawa di ujung utara Honshu.

Jepang dan China terlibat sengketa kepulauan di Laut China Timur yang beberapa pekan ini terus memanas. Kepulauan itu diklaim Tokyo  dengan nama Senkaku dan juga diklaim Beijing dengan nama Diaoyu.

“Daya jelajah pesawat militer China telah bertambah lagi, mereka datang semakin dekat menuju  wilayah kami,” kata seorang pejabat Kementerian Pertahanan Jepang seperti dikutip Nikkei Asian Review, kemarin (22/8/2016).

Kementerian Pertahanan Jepang menambahkan, bahwa ASDF telah mencegat jet tempur China 199 kali dari bulan April sampai Juni 2016 di kawasan Laut China Timur. Jumlah itu meningkat 75 persen dari periode yang sama pada tahun lalu.

Sebelumnya, Jepang mengungkap langkah China yang sudah membangun infrastruktur yang disebut media Tokyo sebagai “dermaga kapal perang” di Pulau Nanji, wilayah China di kawasan Laut China Timur. (SindoNews)

Sabtu, 02 Juli 2016

Tak Sengaja Diluncurkan Rudal Supersonik Taiwan Hantam Perahu Nelayan

Pejabat pertahanan Taiwan mengatakan, satu orang tewas dan tiga orang terluka setelah Angkatan Laut Taiwan secara tidak sengaja menembakkan rudal supersonik anti kapal dari pangkalan Angkatan Laut.



Seperti dikutip dari BBC, Jumat (1/7/2016), rudal meluncur sekitar 75 km sebelum menghantam sebuah perahu. Temuan awal mengindikasikan, rudal itu tidak meledak dan tenggelam ke laut. "Kapten kapal, seorang pria berkewarganegaraan Taiwan, telah tewas," kata pejabat pertahanan.

Diberitakan sebelumnya, Angkatan Laut Taiwan menembakkan rudal supersonik anti-rudal di saat China memperingati ulang tahun ke-95 Partai Komunis. Militer Taiwan mengklaim penembakan itu sebagai sebuah kekeliruan, karena kesalahan operasional.


Rudal Hsiung Feng III yang ditembakkan memiliki jangkauan sekitar 300 km. Rudal tersebut ditembakkan dari kapal patroli Chinchiang (PGG-610) yang memiliki bobot 500 ton.

"Ini bukan kasus yang bermotif politik atau untuk membuat krisis dalam situasi sekitarnya," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Taiwan, Chen Chung-chi.

Beijing menganggap Taiwan bagian dari wilayah kedaulatannya dan setiap upaya untuk mendapatkan kemerdekaan penuh dipastikan mendapat perlawanan dari China. Beijing juga tidak mengesampingkan opsi invasi militer jika Taipei nekat menyatakan kemerdekaan. (SindoNews)

Kamis, 23 Juni 2016

Amerika Serikat Desak PBB Kecam Uji Coba Rudal Korea Utara

Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk PBB, Samantha Power, menyerukan Dewan Keamanan (DK) PBB untuk bersatu dan mendesak PBB untuk mengecam uji coba rudal Korea Utara (Korut). Hal itu diungkapkannya dalam pertemuan darurat DK PBB pasca Korut menembakan dua rudal balistik.

Amerika Serikat Desak PBB Kecam Uji Coba Rudal Korea Utara

Jepang dan AS, setelah berkonsultasi dengan Korea Selatan (Korsel), meminta briefing tertutup kepada Sekretariat PBB atas penembakan uji coba dua rudal balistik jarak menengah yang dilakukan Korut.

"Pembangkangan Korut terhadap hukum internasional terus terulang. Ini menggaribawahi betapa pentingnya bagi kita untuk bergerak bersama-sama guna memastikan konsekuensi atas perilaku inheren destabilisasi ini, dan ancaman yang melekat dalam tindakan pelangaran yang konsisten dan diulangi ini terhadap perdamaian dan keamanan internasional," kata Power seperti dikutip dari Belfast Telegraph, Kamis (23/6/2016).


 

Power mengatakan, kecaman dari seluruh anggota dari tubuh yang paling kuat di PBB adalah langkah pertama. "Tapi, kami lagi mencari untuk memastikan akuntabilitas, mencari untuk mengidentifikasi lagi individu, entitas yang mungkin bertanggung jawab untuk uji coba yang terus berulang. Ini yang menimbulkan ancaman terhadap perdamaian dan keamanan internasional," tambahnya.

Menurutnya, individu dan entitas ini akan ditambahkan ke dalam sanksi daftar hitam. Seorang juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon menyebut peluncuran itu adalah tindakan kurang ajar dan tidak bertanggung jawab. Ia juga menyatakan peluncuran itu adalah pelanggaran yang disengaja dan pelanggaran terbesar terhadap kewajiban internasional. (SindoNews)

Rabu, 22 Juni 2016

Sukses Uji Rudal Musudan, Korea Utara Percaya Diri Tandingi Amerika Serikat

Pemerintah Korea Utara (Korut) mengklaim sukses menguji tembak dua rudal balistik jarak menengah Musudan. Kesuksesan itu membuat diktator muda Korut, Kim Jong-un, yakin bisa menyerang Amerika Serikat (AS) di kawasan Pasifik.

Klaim kesuksesan uji tembak rudal balistik Musudan itu diumumkan kantor berita KCNA.  Pengumuman muncul setelah pada Rabu pagi, militer Korut menguji tembak dua rudal balistik jarak menengah Musudan atau dikenal sebagai Hwangsong-10.


Sukses Uji Rudal Musudan, Korea Utara Percaya Diri Tandingi Amerika Serikat

Militer AS dan Korea Selatan menganggap satu dari dua rudal Musudan yang diuji tembak rezim Kim Jong-un mengalami kegagalan.

”Uji tembak berhasil dilakukan tanpa memberikan efek sedikit pun pada keamanan negara-negara sekitar,” bunyi pengumuman yang dirilis KCNA, semalam.


Dalam pengumuman itu, Kim Jong-un disebut mengawasi langsung uji tembak rudal balistik Musudan.
”Arus uji tembak menandai kesempatan penting dalam peningkatan kapasitas serangan nuklir dari negara kita,” kata Kim Jong-un, yang dikutip Yonhap, Kamis (23/6/2016).

”Kami memiliki keyakinan soal kemampuan untuk menyerang secara keseluruhan dan praktis terhadap (kepentingan) Amerika di Pasifik.”




Sejumlah media AS dan Korea Selatan yang mengutip sumber-sumber militer melaporkan, bahwa peluncuran rudal pertama oleh Korut pada hari Rabu diyakini berhasil. Namun, peluncuran rudal yang kedua diduga mengalami beberapa masalah yang disimpulkan militer AS dan Korea Selatan sebagai kegagalan.

Rudal balistik jarak menengah Musudan diklaim bisa menjangkau kepentingan AS di Pasifik yang berjarak sekitar 3.500 kilometer.

AS, Jepang dan Korea Selatan mengecam uji tembak rudal balistik Korut sebagai tindakan provokatif. Ketiga negara itu mendesak masyarakat internasional untuk menindak perilaku Pyongyang.

Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon menyebut uji coba rudal balistik terbaru Korut sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab. ”Dan pelanggaran berat Korut atas kewajiban internasional dan resolusi DK PBB,” kata wakil juru bicara Sekjen PBB, Farhan Haq. (SindoNews)

Senin, 20 Juni 2016

Jepang Deteksi Tanda-Tanda Peluncuran Misil Korea Utara

Jepang mendeteksi tanda-tanda peluncuran misil terbaru dari Korea Utara (Korut), setelah pada awal tahun sempat mengejutkan komunitas internasional lewat uji coba bom hidrogen dan peluncuran roket ke luar angkasa.

Pyongyang gagal meluncurkan misil balistik pada akhir Mei, yang menandai serangkaian kegagalan dalam teknologi senjata balistik.  


Jepang Deteksi Tanda-Tanda Peluncuran Misil Korea Utara

Namun Korut, yang secara berkala mendapat kecaman dan sanksi dari PBB, tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah dalam mencapai tujuan akhirnya, yakni senjata nuklir yang dapat mencapai daratan Amerika Serikat (AS).

Media lokal Jepang, termasuk Kyodo News dan NHK, Selasa (21/6/2016), mengutip beberapa sumber yang mengatakan sejumlah tanda telah terdeteksi mengenai kemungkinan peluncuran misil di Korut.


Kyodo mengatakan militer Jepang telah memerintahkan untuk menghancurkan misil atau komponen apapun yang dapat mengancam wilayah Negeri Sakura.

Misil dan roket Korut telah terbang di atas wilayah Jepang di masa lalu. Pemerintah mengerahkan sistem anti-misil di Tokyo dan beberapa kota lainnya sebagai respons terhadap ancaman.

Kementerian Pertahanan di Tokyo belum bersedia berkomentar mengenai deteksi dini ini, namun juga tidak membantahnya.

Pada April, Korut tiga kali gagal meluncurkan sebuah misil yang jangkauannya diperkirakan mencapai 2.500 hingga 4.000 kilometer.  (MetroTVNews)

Minggu, 19 Juni 2016

Serpihan Rudal Korut Ditemukan di Jepang

Sebuah fragmen yang diduga berasal dari rudal milik Korea Utara (Korut) telah ditemukan di dekat pantai Jepang. Potongan rudal itu ditemukan pada hari Jumat yang lalu.

Seperti dikutip dari laman Express, Minggu (19/6/2016), potongan rudal itu ditemukan di lepas pantai barat daya Semenanjung Korea dekat dengan Tottori Prefecture.


Serpihan Rudal Korut Ditemukan di Jepang

Jepang telah memantau aktivitas balistik Korut sejak Kim Jong-un meluncurkan satelit ke luar angkasa. Jong-un telah bersumpah untuk terus meningkatkan kemampuan nuklir negaranya meski mendapat peringatan berulang kali dari PBB.


Militer Jepang kini berencana untuk meningkatkan teknologi pencegat rudal mereka dalam upaya menghentikan perilaku provokatif Korut. Jepang menggunakan pencegah rudal PAS-3 yang saat akan mendapatkan peningkatan kemampuan. Sistem baru ini diharapkan akan beroperasi dalam lima tahun ke depan.

Jepang adalah salah satu dari sejumlah negara yang telah menuntut dimulainya program denuklirisasi terhadap Korut. Namun, pemberian sanksi kepada Korut tampatkan tidak mengurangi keinginan Kim Jong-un untuk menghentikan program nuklirnya. Pada bulan Januari, para pejabat Pyongyang mengklaim mereka telah berhasil menguji bom hidrogen. (SindoNews)

Jumat, 20 Mei 2016

Rusia Bantah Isu Penjual Rudal S-400 ke India

Pembantu Presiden Rusia untuk kerjasama teknis militer, Vladimir Kozhin menyatakan, tidak ada kontrak bahkan dalam bentuk konsep sekalipun untuk mengirimkan sistem rudal anti pesawat S-400 Rusia ke India.

Rusia Bantah Isu Penjual Rudal S-400 ke India

"Sejauh ini, tidak ada tenggat waktu atau rancangan kontrak," katanya, seperti dikutip dari laman TASS, Jumat (20/5/2016). Pernyataan ini sekaligus membantah kabar jika India telah membeli sistem rudal S-400 milik Rusia.

Pekan lalu, Menteri Pertahanan India Manohar Parrikar mengumukan bahwa Dewan Pertahanan negara itu telah menyetujui pembelian lima sistem S-400. Rencananya, sistem pertahan rudal anti pesawat itu akan mulai beroperasi dalam Angkatan Bersenjata India pada 2017-2022.


Sebelumnya pada akhir Maret lalu, Kepala Dinas Federal untuk Militer dan Kerjasama Teknik Vladimir Drozhzhov mengatakan, Rusia telah menyiapkan rancangan perjanjian pengiriman S-400 dan pentransferan ke India untuk penandatanganan.

S-400 Triumf adalah sistem rudal antipesawat terbaru yang diproduksi pada tahun 2007. S-400 dapat menghancurkan target pada jarak 400 km dan pada ketinggian hingga 30 km.

Sistem rudal ini dirancang untuk menghancurkan pesawat, kapal pesiar dan rudal balistik, termasuk rudal jarak menengah. Rudal ini juga bisa digunakan untuk menghancurkan sasaran yang ada di darat.

Rabu, 11 Mei 2016

Rudal China Mampu Jangkau dan Hancurkan Pangkalan Militer AS di Guam

China dikabarkan telah membuat rudal balistik dan rudal jelajah jarak menengah. Hal ini menimbulkan ancaman bagi Guam, pulau Pasifik strategis yang menjadi pusat dari poros militer Amerika Serikat (AS) ke Asia.

rudal DF-26

Menurut laporan Komisi Keamanan dan Ulasan Ekonomi China-AS, enam rudal berbeda milik China yang mampu mencapai pangkalan militer AS saat ini dalam tahap akhir pembuatan. Rudal itu termasuk rudal DF-26, yang dipamerkan selama parade militer baru-baru ini. Rudal ini bahkan dijuluki Guam Killer, karena dapat dipersenjatai dengan hulu ledak nuklir dan konvensional.

"DF-26 adalah rudal IRBM konvesional pertama China dan rudal balistik konvensional pertama yang dipersenjatai yang mampu mencapai Guam," kata laporan itu. Laporan itu juga mencatat, dimasukkannya rudal tersebut dalam parade militer di Beijing pada September 2015.


"Hal itu menunjukkan kemungkinan akan dikerahkan sebagai senjata operasional," kata laporan itu dikutip dari Washington Free Beacon, Rabu (11/5/2016).

Terkait hal ini, jubir Pentagon Bill Urban mengatakan, Departemen Pertahanan terus memantau modernisasi dan program rudal militer China. "Potensi ancaman terus diperhitungkan dalam perencanaan pertahanan dan investasi kemampuan," katanya. Ia juga menambahkan, laporan terbaru Pentagon terhadap militer China mencatat upaya Beijing untuk menargetkan Guam dengan rudal.

Publikasi laporan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan AS-China di Laut China Selatan. Pada hari Selasa kemarin, Pentagon mengumumkan bahwa kapal perusak AS melakukan pelayaran ke Laut China Selatan. Kapal AS, USS William P. Lawrence, berlayar dalam waktu 12 mil dari pulau yang disengketakan diduduki oleh China di Laut China Selatan yang berujung kecaman dari China. (SindoNews)

Iran Tempatkan Sistem Rudal S-300 di Pangkalan Militer

Iran telah menempatkan sistem pertahanan rudal buatan Rusia, S-300, di salah satu pangkalan militernya. Penempatan sistem rudal ini sekaligus mengakhiri kontroversi seputar pengiriman ini selama hampir satu dekade.

Iran Tempatkan Sistem Rudal S-300 di Pangkalan Militer

"Sistem rudal S-300 ditempatkan di pangkalan pertahanan udara Iran, Khatam al-Anbia," kata Menteri Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Hossein Dehqan, seperti dikutip dari laman Russia Today, Rabu (11/5/2016).

Selain memiliki sistem rudal S-300, Dehqan juga mengaku negaranya telah memproduksi Bavar-373, sebuah rudal yang mempunyai karekateristik mirip dengan S-300. Bavar-373 rencananya akan diproduksi massal pada akhir tahun ini.


Sebelumnya, pada bulan April lalu, Iran telah memamerkan beberapa eleman dari sistem pertahanan rudalnya yang dibeli dari Rusia saat parade Hari Tentara Nasional di Teheran.

Sekedar informasi, Rusia memasok versi terbaru dari sistem rudal S-300 kepada Iran. Pada pertengahan April, Rusia mengumumkan pengiriman rudal sudah dimulai dan bahwa kesepakatan akan sepenuhnya ditutup sebelum akhir tahun. (SindoNews)

Amerika Serikat Sebar Rudal Aegis di Rumania, Rusia Tidak Gentar

Amerika Serikat (AS) nekat menyebarkan rudal pertahanan Aegis di Rumania meski menuai protes dari Rusia. Penempatan rudal pertahanan canggih itu diresmikan hari ini (12/5/2016).

Asisten Menteri Luar Negeri AS; Frank Rose, yang datang dalam upacara peluncuran sistem rudal pertahanan Aegis di Bucharest, Rumania, menggelar konferensi pers untuk mengkonfirmasi penyebaran rudal tersebeut.


Amerika Serikat Sebar Rudal Aegis di Rumania, Rusia Tidak Gentar

Selama konferensi pers, Rose menyangkal klaim Rusia bahwa sistem pertahanan rudal ini akan berdampak negatif pada stabilitas regional.

”Baik AS dan NATO telah membuat jelas bahwa sistem ini tidak dirancang untuk atau mampu merusak kemampuan penangkal (rudal) strategis Rusia,” kata Rose.
 


”Rusia telah berulang kali menyuarakan keprihatinan bahwa pertahanan AS dan NATO ditujukan terhadap Rusia dan merupakan ancaman bagi penangkal nuklir strategis. Tidak ada yang bisa lebih jauh dari kebenaran,” katanya lagi.

Dia juga mengklaim bahwa instalasi rudal pertahanan Rumania dan Polandia yang disebar baru-baru ini akan membela anggota NATO dalam melawan ancaman rudal balistik jarak pendek dan jarak menengah. Terutama yang muncul dari Timur Tengah.

Duta Besar AS untuk Rumania; Douglas Lute, mendukung peluncuran rudal pertahanan Aegis.

”Besok adalah demonstrasi AS, Rumania dan sekutu lainnya yang berkontribusi terhadap sistem pertahanan, seperti yang disebutkan di Pasal Lima,” katanya, mengacu pada Pasal 5 Perjanjian Washington, di mana semua anggota NATO akan merespons jika terjadi suatu ancaman militer untuk setiap anggotanya.

Rusia telah berulang kali menyatakan keprihatinan atas penyebaran sistem rudal pertahanan AS di Eropa. Namun, keberatan Rusia ini telah diabaikan AS dan NATO.


Rusia Tidak Gentar

Seorang perwira militer senior Rusia mengatakan, Moskow sedang meningkatkan kemampuan senjatanya untuk melawan sistem pertahan rudal Amerika Serikat (AS) yang di Eropa.

"Perisai rudal AS di Eropa tidak menghadirkan ancaman besar bagi Pasukan Rudal Strategis Rusia (RSMF), sebagaimana RSMF terus meningkatkan kemampuannya," kata komandan RSMF, Letnan Jenderal Sergei Karakayev, dikutip dari Xinhua, Rabu (11/5/2016).

Karakayev mengatakan, efektivitas rudal balistik antar benua (ICBM) Rusia akan meningkat empat kali lebih tinggi pada 2021 ketimbang saat ini. "di masa depan, ICBM Rusia mampu memberikan serangan dari arah yang berbeda, yang akan memaksa pihak lawan untuk memberikan all-arround sistem pertahanan udaranya," katanya.

Karakayev juga mengungkapkan, bahwa ICBM baru, Yars RS-24, merupakan versi kedua yang berbasis peluncur mobile. Rudal ini mempunyai kekuatan setengah dari kekuatan tempur efektif RSMF pada akhir 2021.

Moskow sendiri telah berulang kali menyuarakan keprihatinannya atas pembangunan fasilitas militer NATO di negara-negara tetangga Rusia. (SindoNews)

Rusia Siap Uji Coba Rudal Nuklir Satan 2

Rusia dikabarkan tengah mempersiapkan uji coba Satan2, sebuah rudal nuklir yang mempunyai kemampuan mengerikan. Satan 2 disebut-sebut dapat menghilangkan seluruh negara hanya dalam hitungan detik.

Rusia Siap Uji Coba Rudal Nuklir Satan 2

Kemampuan Satan 2 ini membuat takut pemimpin-pemimpin militer Barat. Pasalnya, tidak ada teknologi pertahanan rudal saat ini yang benar-benar mampu menghentikannya. Untuk diketahui, rudal Satan 2 dilengkapi dengan teknologi stealth yang membantunya menghindari sistem radar musuh, seperti dikutip dari Daily Record, Rabu (11/5/2016).

Nama resmi dari rudal mengerikan ini dalah RS-28 Sarmat dan rencananya akan menggantikan rudal R-36M Soviet yang sudah usang. Namun, para ahli militer NATO menjulukinya dengan sebutan Satan. "Dalam hal ini, rudal Sarmat tidak hanya menjadi penerus R-36M, tetapi juga sampai batas tertentu akan menentukan ke arah mana pencegahan nuklir dunia akan dikembangkan," begitu bunyi laporan jaringan berita Rusia, Zvezda.


Selain menggunakan teknologi stealth, Satan 2 mampu membawa hingga belasan hulu ledak. Kemampuan ini membuatnya bisa menghancurkan daerah seukuran Texas atau Prancis. Selain itu, Satan2 mempunyai jangkauan hingga 10.000 km yang memungkinkan Moskow menyerang kota-kota besar di Eropa termasuk London serta kota-kota besar di pantai barat dan timur Amerika.

Rusia dikatakan berencana untuk menguji senjata apokaliptik ini pada musim panas nanti. Namun belum jelas apakah uji coba itu akan dilengkapi dengan muatan nuklir penuh. Direncanakan, rudal-rudal ini akan aktif digunakan di beberapa titik sebelum 2020. (SindoNews)

Senin, 09 Mei 2016

Parade Militer Rusia Pamerkan Alutsista Canggih

Rusia menggelar parade militer akbar di banyak kota pada hari ini (9/5/2016)  untuk memperingati 71 tahun kemenangan perang atas Nazi dalam Perang Dunia II. Berbagai peralatan tempur canggih, mulai dari rudal ICBM, Tank Armata T-14 hingga pesawat jet tempur Su-35 disiapkan untuk dipamerkan.

Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan, lebih dari 13.000 Pasukan Rudal Strategis (SMF) ambil bagian dalam parade Victory Day (Hari Kemenangan).


Parade Militer Rusia Pamerkan Alutsista Canggih

”Multi-aksi MAZ-7917, MZKT-79221, BTR-80, Tiger dan kendaraan tempur Typhoon ambil bagian dalam parade di kota-kota Vladimir, Irkutsk, Novosibirsk, Yoshkar-Ola, Barnaul, Omsk, Kirov , dan Nizhny Tagil,” bunyi pernyataan kementerian itu.

Menurut kementerian tersebut, Lebih dari 250 unit peralatan militer akan ikut dipamerkan, termasuk tiga rudal balistik antar-benua termonuklir RS-24 Yars yang akan dipamerkan di Red Square, Moskow.


Media Rusia, Moscow Times, melaporkan parade militer akbar Rusia kali ini diprediksi akan digelar di 26 kota dengan 40 ribu pasukan dikerahkan. Selain rudal ICBM RS-24 Yars,  tank Armata T-14 yang dijuluki “robot terbang” dan pesawat jet tempur Su-35 juga dipersiapkan untuk parade.

Sejak Rusia menganeksasi Crimea dari Ukraina pada Maret 2014, banyak pemimpin Barat memilih untuk tidak menghadiri parade militer tahunan di Moskow. Media pemerintah Rusia melaporkan bahwa Kremlin belum mengeluarkan undangan khusus untuk parade tahun ini.

”Parade akan diselenggarakan seperti biasa; para tamu asing akan hadir, tapi tidak ada undangan khusus dari presiden,” kata pembantu Presiden Vladimir Putin, Yuri Ushakov.

Menteri Luar Negeri Lithuania, Linas linkevicius, mengatakan tidak ada diplomat dari negaranya yang akan menghadiri parade militer di Moskow.

”Pada saat agresi militer Rusia melawan Ukraina sedang berlangsung, kami tidak berpikir bahwa berpartisipasi dalam parade militer adalah cara yang tepat untuk menunjukkan rasa hormat, bahkan jika itu untuk veteran perang sekalipun," katanya. (SindoNews)

Jumat, 06 Mei 2016

Rusia Sukses Luncurkan Rudal Jelajah Kalibr dari Kapal Selam

Rusia berhasil melakukan uji tembak rudal jelajah andalannya, rudal Kalibr, dari sebuah kapal selam. Uji coba penembakan itu dilakukan di Laut Barents.
Dalam pernyataan persnya, Armada Utara Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan, rudal Kalibr ditembakkan dari salah satu kapal selam bertenaga listrik, Stary Oskol, dari dalam laut.



"Hari ini kapal selam bertenaga diesel listrik, Stary Oskol, yang sedang menjalani uji coba di Armada Utara berhasil meluncurkan rudal jelajah Kalibr pada target di pesisir," begitu bunyi pernyataan tersebut dikutip dari Sputnik, Jumat (6/5/2016).


"Peluncuran ini diaktifkan dari dalam laut, yang merupakan salah satu rentang tes Angkatan Laut di Laut Barents. Targetnya berada di pesisir Chizha, hancur dengan tembakan langsung," demikian bunyi pernyataan itu.



Untuk diketahui, rudal Kalibr adalah rudal jelajah dengan kecepatan hipersonik. Rudal jelajah Kalibr mampu menembus pertahanan udara secara kompleks dan memukul target dalam jarak 2.000 km. (Sindo)