HOT NEWS

Tampilkan postingan dengan label Latihan Militer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Latihan Militer. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Oktober 2016

Latihan dan Simulasi Perang Nuklir, Rusia Libatkan 40 Juta Orang

Rusia meluncurkan latihan pertahanan sipil nasional guna memastikan negara itu siap dalam hal serangan nuklir, kimia, dan biologis dari Barat. Latihan perang ini dilakukan ditengah meningkatnya ketegangan internasional, khususnya terkait dengan keterlibatan Rusia di Suriah.

Latihan dan Simulasi Perang Nuklir, Rusia Libatkan 40 Juta Orang

"Penderita skizofrenia dari Amerika tengah mengasah senjata nuklir untuk Moskow," bunyi laporan yang diturunkan oleh jaringan televisi Zvezda yang dikelola Kementerian Pertahanan Rusia seperti dikutip dari Independent, Rabu (5/10/2016).

Berlangsung selama 3 hari, latihan perang ini melibatkan 200 ribu personel situasi darurat bekerjasama dengan 40 juta warga sipil. Latihan ini diadakan oleh Kementerian Pertahanan Sipil, Darurat dan Penanggulangan Dampak Bencana Alam (EMERCOM).


"Latihan akan meliputi latihan terkait radiasi, kimia, dan perlindungan biologis secara personil dan populasi selama keadaan darurat di fasilitas yang penting dan berpotensi berbahaya. Pemadam kebakaran, pertahanan sipil, dan perlindungan masyarakat pada lembaga-lembaga sosial dan bangunan publik juga direncanakan akan dilibatkan," bunyi pernyataan EMERCOM.

"Unit reaksi cepat akan disebar dan pusat pemantauan biologi selama latihan radiasi, kimia, serta menempatkan sanitasi di daerah darurat, sementara jaringan kontrol laboratorium akan dalam keadaan siaga," sambung pernyataan itu.

Selain latihan nasional, EMERCOM telah mengumumkan niatnya untuk membangun fasilitas bawah tanah di bawah Moskow untuk melindungi 100 persen populasi ibukota dari serangan nuklir. (SindoNews)

Ikuti Latihan Militer di AS Puluhan Pasukan Afghanistan Menghilang

Sedikitnya 44 tentara Afghanistan yang mengunjungi Amerika Serikat (AS) untuk mengikuti pelatihan militer telah hilang dalam kurun waktu dua tahu. Pentagon menduga, mereka kemungkinan berupaya untuk hidup dan bekerja secara ilegal di AS.

Ikuti Latihan Militer di AS Puluhan Pasukan Afghanistan Menghilang

Meskipun jumlah anggota pasukan yang hilang relatif kecil, namun insiden ini menimbulkan pertanyaan tentang keamanan dan prosedur penyaringan untuk program pelatihan. Untuk diketahui, sekitar 2.200 tentara Afghanistan telah menerima pelatihan militer di AS sejak 2007.

Juru bicara Pentagon, Adam Stump mengatakan, sejak September saja ada 8 tentara Afghanistan yang telah meninggalkan pangkalan militer tanpa izin. Ia mengatakan jumlah pasukan Afghanistan yang hilang sejak Januari 2015 adalah 44, jumlah yang tidak pernah dipublikasikan sebelumnya.


"Departemen Pertahanan tengah menilai cara-cara untuk memperketat kriteria kelayakan untuk mendapatkan pelatihan adalah salah satu cara untuk mengurangi kemungkinan anggota pasukan Afghanistan melarikan diri dari pelatihan di AS dan membelot (mangkir)," tutur Stump dikutip dari Reuters, Kamis (6/10/2016).

Stump mengatakan, pasukan Afghanistan yang mengikuti program pelatihan AS telah diperiksa untuk memastikan mereka tidak terlibat dalam pelanggaran HAM dan tidak berafiliasi dengan kelompok militan sebelum diizinkan masuk ke AS.

Sementara itu pejabat pertahanan AS yang berbicara dengan syarat anonim menambahkan bahwa tidak ada bukti dari mereka yang telah melarikan diri telah melakukan kejahatan atau menjadi ancaman bagi AS. (SindoNews)

Minggu, 12 Juni 2016

Pimpin Latihan Perang NATO di Dekat Rusia, Pemerintah Jerman Tuai Kecaman

Langkah Jerman untuk memimpin latihan perang NATO di dekat perbatasan Rusia membuat Pemerintah Kanselir Angela Merkel dikecam. Alasannya, langkah itu bisa memicu Perang Dingin baru atau bahkan lebih buruk.

Kecaman muncul dari mantan kanselir Jerman, Gerhard Schroeder. Menurutnya, memimpin latihan perang NATO di dekat Rusia adalah “kesalahan serius”.


Pimpin Latihan Perang NATO di Dekat Rusia, Pemerintah Jerman Tuai Kecaman

Latihan perang NATO bertajuk “Anaconda-2016” yang dipimpin Jerman itu berlangsung hanya beberapa hari setelah ulang tahun ke-75 invasi Jerman terhadap Uni Soviet pada Juni 1941.

Manuver besar-besaran NATO ini berpusat di Polandia dengan melibatkan lebih dari 30 ribu tentara. Latihan perang ini dianggap Rusia sebagai provokasi terbesar sejak Perang Dunia II.
 


Schroeder mengaku prihatin melihat pemerintah Merkel ikut-ikutan dalam fantasi Perang Dingin baru.
”Secara keseluruhan, Uni Eropa membutuhkan Rusia dan Turki dalam hal kebijakan keamanan," kata Schroeder yang mengecam penumpukan militer secara besar-besaran di sepanjang perbatasan Rusia pada peringatan invasi Nazi, seperti dikutip Sputniknews, Senin (13/6/2016).

Pemerintah Rusia telah merespon NATO dengan mengembangkan Yu-74 kendaraan militer yang bisa bermanuver dengan kecepatan hipersonik. Kendaran ini, menurut para analis militer, memiliki kapasitas untuk menembus sistem pertahanan rudal dan mampu memukul mundur ancaman AS dan NATO dari wilayah Batik.

Kremlin hingga kini tetap menentang penumpukan kekuatan militer NATO secara besar-besaran di dekat Rusia. Menurut Kremlin tidak seharusnya Amerika Serikat (AS) dan NATO melakukan provokasi dengan dipimpin oleh Jerman. (SindoNews)

Jumat, 03 Juni 2016

China Kirim 5 Kapal Perang Ikut Latihan Gabungan Bersama Amerika Serikat

Angkatan Laut China akan mengirim 5 kapal untuk bergabung dalam latihan gabungan yang digagas oleh Amerika Serikat (AS), RIMPAC, yang akan dihelat pada musim panas ini. RIMPAC adalah latihan maritim internasional terbesar di dunia yang diadakan dua tahun sekali di Hawaii pada bulan Juni dan Juli.

China Kirim 5 Kapal Perang Ikut Latihan Gabungan Bersama Amerika Serikat

Dalam pernyataan singkatnya, Kementerian Pertahanan (Kemhan) China mengatakan armadanya akan berpartisipasi dalam latihan perang, anti pembajakan, pencarian dan penyelamatan, serta latihan lainnya. Armada kapal perang China termasuk dua kapal perang dan kapal rumah sakit, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (3/6/2016).


Meski China sempat mengumbar kemarahan atas patroli militer AS di dekat pulau-pulau mereka di Laut China Selatan dan AS kerap mengkritik pengembangan militer China, kedua negara telah berusaha untuk meningkatkan hubungan pertahanan dan memastikan menjalin komunikasi seperti biasa.

Keikutsertaan China ini mendatangkan kritik terhadap pemerintahan Obama, termasuk dari Senator John McCain. Mereka menilai, AS seharusnya menolak kehadiran China dalam latihan tersebut. Hal itu untuk menunjukkan keseriusan AS atas tindakan militer Beijing.

Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya telah menyatakan kekhawatiran atas kekuatan militer raksasa Asia itu, serta postur yang semakin tegas di Laut China Selatan. (SindoNews)